RAHASIA KELAM

RAHASIA KELAM
TRUST


__ADS_3

Kini Grace sudah berakhir didalam mobil Abel, tidak ada satu pun yang berbicara setelah satu kalimat terakhir yang Grace katakan pada Abel. Dia ingin mendatangi rumah Sean. Lalu keadaan kembali hening, seolah pikirannya tenggelam dalam kepala masing-masing.


Kalau dipikir, Abel selalu ada untuknya. Benar-benar menjelma menjadi pria dewasa yang ingin menjaga dan melindungi gadis itu. Mungkin selama ini, Abel memang menantikan keadaan seperti ini. Tapi tidak dengan melihat Grace terluka, itu bukanlah timbal balik yang tepat. Dia rela tetap menjadi bayangan yang hanya melihatnya diam-diam. Menikmati dan mengagumi setiap saat sampai rasanya menggila tanpa bisa memiliki sepenuhnya.


Ketika sampai di rumah Sean yang mewah, Grace langsung keluar tanpa basa-basi dari mobil dan berjalan mengebu ke dalam rumah. Sungguh bahkan tak memberikan kesempatan untuk Abel membukakan pintu atau sekadar berbicara. Abel sampai menghela napas dan menggelengkan kepala. Tapi dia mengerti jelas bagaimana Grace. Pun dia mengikuti dari belakang sambil memasukan kedua tangan ke kantung. Perang dunia era baru akan dimulai.


Grace terdiam sesaat ketika menemukan Sean di ruang tengah duduk dan mengacak rambutnya lalu memegang kepalanya. Mengerang dan berakhir terisak. Terlihat lebih kacau darinya. Lebih sakit. Lebih terluka. Mungkin mereka sama, hanya saja Grace masih bisa mengontrol dirinya sendiri. Sedangkan Sean tidak seperti itu. Sean menoleh saat mendapati keberadaan Grace dirumahnya. Mata mereka bertemu. Hening dan hanya saling bertatap. Grace bisa melihat mata Sean yang penuh kesedihan dan kekalutan. Maka satu-satunya yang dia rasakan saat ini adalah kasihan, tidak tega. Lemah seketika dan melupakan segala emosi yang sudah meluap sejak tadi. Rasanya ingin memeluk kekasihnya itu.


Sean menggelengkan kepala lemah. "Bagaimana ini, Grace? Video itu tersebar, aku pasti akan dicurigai sebagai pembunuh Tiara. Mereka tahu bagaimana aku dan Jeff melakukan itu. Dengan obat-obatan itu. Aku bisa ditangkap. Tapi yang paling aku takutkan adalah kehilanganmu. Aku tidak mau kehilanganmu."


Grace tergetar butuh menenangkan dirinya beberapa saat agar tidak begitu saja melebur bersama kekalutan yang mengatas-namakan perasaannya pada Sean.


Dan disisi lain, Abel terdiam, merasa sesak, lemah seketika mendengar itu. Menyaksikan apa yang terjadi. Mereka berdua saling mencintai dan dia tak ada kesempatan sama sekali.


"Kenapa kau memberikan rekaman itu? Kenapa kau melakukan ini semua, Sean? Kau tahu aku berusaha menutupi itu semua bahkan harus membohongi diriku sendiri? Kenapa Sean?" tanya Grace bertubi-tubi dengan napas terengah diiringi dengan air mata mengalir begitu deras.


Sean menggeleng frustasi. "Aku bersumpah aku tidak menyebarkannya. Aku tidak memberikan pada siapapun. Aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan pernah membuat diriku kehilanganmu. Tidak akan pernah."


Grace terkekeh sinis dengan menyedihkan. "Benarkah? Kalau begitu bagaimana bisa flashdisk itu berada ditangan orang lain? Kau satu-satunya yang memiliki itu. Bagaimana kau berpikir aku bisa mempercayaimu, Sean?"


Sean terdiam sesaat lalu merogoh kantungnya dan memperlihatkan pada Grace. "Flashdisk ini masih ada di aku. Aku tidak pernah memberikan pada siapapun."


Grace membeku di tempat. Mengambil flashdisk yang berada di tangan Sean lalu mengeluarkan miliknya yang dia dapatkan dari sekolah. Sama dan bukan flashdisk yang berbeda. Sean tidak bohong- apalagi mengingat bagaimana frustasinya Sean saat ini.

__ADS_1


"Ku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku tahu aku memang bodoh selama ini mengira kau tidak pernah mencintaiku sama sekali..." Lirih Sean.


Tapi sayangnya saat ini kepala Grace penuh dengan siapa yang menyebarkan video ini. Seketika semua itu menjadi prioritas pertama karena siapapun itu, dia tidak aman. Mungkin ini bahkan bukan yang terakhir kalinya.


"Kalau kau tidak menyebarkan itu, bagaimana kau tahu kalau itu tersebar-bahkan kau belum ke sekolah sama sekali."


"Dariku."


Suara itu membuat ketiga orang yang berada di sana menoleh dan menemukan Jeff dengan seorang gadis yang tidak lain adalah Rabella.


"Kau yang menyebarkannya? Sialan kau, Jeff! Kau memiliki salinannya!" kecam Grace mengingat satu-satunya yang berkemungkinan melakukan itu adalah Jeff karena dia yang memiliki rekaman itu sebelum Grace dan Sean.


"Tidak. Aku tidak memilikinya. Aku juga baru tahu saat melihat di sekolah, lalu memberi tahu Sean agar tidak ke sekolah. Aku juga mencarimu tapi tak menemukanmu. Ponselmu selalu sibuk. Ku pikir mungkin kau sedang menelpon Sean dan aku langsung ke sini."


"Kau pikir aku mempercayaimu? Ayolah, kau membenciku, Jeff. Kau selalu berpikir aku pantas mati."


"Aku tidak melakukannya, Grace."


"Oh ya? Oh atau kau- Rabella? Apa kau yang melakukannya?"


Jeff langsung berdiri di depan Bella berusaha melindungi gadis itu. "Dia sama sekali tidak melakukannya. Sehabis mengambil rekaman itu, dia langsung ke rumahku dengan basah kuyub. Aku menelanj*nginya. Bercinta dan memastikan tidak ada salinan atau apapun itu." Ujar Jeff kelewat frontal sampai membuat wajah Rabella memerah.


Grace membuang mukanya. "Sepertinya kau sangat membelanya ya. Bagus kalau kau tidak sebrengsek biasanya," ujar Grace dengan nada rendah tidak seperti sebelumnya.

__ADS_1


Jeff terdiam dan menatap Grace dengan sendu. Ingin mengucapkan beberapa hal tentang dirinya dan Grace, namun mengingat Sean ada di sana, maka dia hanya berakhir diam. Padahal Grace maupun Jeff sama-sama tahu siapa yang mereka berdua bela mati-matian dulu sebelum segalanya berantakan. Persis seperti yang tersirat dalam percakapan di apartement Jeff pada saat pertemuan memberikan rekaman itu.


Saat itu Jeff membahas tentang bagaimana dulu Grace selalu berada di sisinya bersamaan dengan sindiran kalimat yang sekarang gadis itu ucapkan pada Sean. Juga pertanyaan-pertanyaan lain yang masih abu-abu tentang mereka berdua.


Dan Grace jelas sekarang membahas tentang bagaimana Jeff membela Rabella. Persis seperti yang dulu dilakukan pria itu padanya.


"Jeff, aku serius kalau kau menyebarnya, aku bersumpah akan membunuhmu."


Jeff terdiam sesaat dan memandang Grace tak lagi dengan tatapan sendu, melainkan mengintimidasi dan terlihat bara amarah di sana. "Kau tidak percaya padaku?"


"Apa yang membuat aku harus percaya padamu?"


Jeff terkekeh sinis. "Kau benar-benar manipulatif, Grace. Kau tahu alasan kenapa aku tak akan menyebarkan video itu."


Grace terdiam karena itu. Terlihat terkesiap membuat beberapa orang yang ada di sana bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi antara dua orang itu.


"Pembicaraan ini selesai," ujar Grace tiba-tiba.


"Belum selesai, karena aku ingin menyudahi semuanya. Semua rasa bersalah yang kau berikan padaku. Menyiksaku dan menekanku setiap saat seperti di dalam neraka."


"Kau pantas mendapatkannya."


"Ya-kau selalu bisa memanfaatkanku menjadi minionmu, bukan sahabatmu lagi. Apa kau tidak merindukan kita yang dulu?"

__ADS_1


Grace terkekeh sinis. "Hentikan pembicaraan konyol yang tidak jelas ini. Sekarang fokusku adalah siapa yang menyebarkan video ini dan--"


"Dan aku tidak mungkin menyebarkannya karena aku adalah alasan ibumu bunuh diri. Menyebarkannya sama saja mengungkapkan hal itu.


__ADS_2