RAHASIA KELAM

RAHASIA KELAM
MANIPULATIVE


__ADS_3

Di luar hujan deras. Langit sudah gelap tanpa bulan yang ponggah menyinari dengan cahaya redup yang indah. Tak ada pula taburan bintang yang berkelip nakal. Langit dipenuhi gumpalan kapas gelap yang melemparkan derak air dengan bertubi. Udara dingin yang membuat beku ditambah pendingin ruangan yang menyala menambah udara dingin di balik selimut. Namun itu bukan masalah, karena kali ini diberikan kehangatan lewat kedua kulit yang saling bersentuhan intim tanpa sehelai benangpun yang menghalangi.


Grace yang kini tengah berada di atas kasur Sean menjelma menjadi rutinitas. Melihat bagaimana sekali lagi semua kesalahan Sean dimaafkan dengan begitu mudah adalah hal yang biasa. Yang tidak biasa adalah bagaimana Grace selalu menganggapnya seperti bukan hal yang besar. Berlalu begitu saja, tenang dan kembali seperti sedia kala. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Bukan hanya perihal Sean, tapi segala masalah yang masuk ke dalam kategori ranahnya, akan dengan cepat ia bereskan.


Mungkin, mengontrol memang suatu kegilaan Grace yang begitu dia gemari. Memegang penuh kendali. Ketika dia berhasil melakukannya, atau memanipulatif pikiran beberapa orang agar berpikir dia seperti membantunya, padahal kenyataannya dia yang menggunakan mereka sebagai alat pengontrolan diri terhadap dirinya sendiri.

__ADS_1


Ponsel yang terus bergetar benar-benar mengganggu tidur Grace yang lelah karena permainannya bersama sang kekasih beberapa jam yang lalu. Dia mudah sekali terusik terhadap hal-hal kecil, sebut saja tingkat kepekaannya terlalu tinggi, termasuk dalam segala hal. Sedikit mengerang dengan malas tangannya meraba meja nakas, mengambil ponsel dangan satu tangan dalam posisi tidak begitu bebas karna pelukan Sean yang begitu erat. Sean itu kalau tidur harus ada yang dia peluk. Kadang guling, kadang Grace, kadang juga Emeli.


Ketika melihat layar, nama Gery tertulis jelas di sana.


Hal lainnya yang menjadi terlalu biasa dan kewajaran. Menjelma begitu lumrah dengan pria bernama Gery yang sesuka hati memberikan perintah lewat pesan untuk menemuinya. Jika tak ada balasan segera, akan ada dering ponsel yang datang berkali-kali. Seolah pria itu tahu jelas bahwa kemungkinan besar Grace sedang berada di atas kasur kekasih tersayangnya yang cukup brengsek, Sean.

__ADS_1


Sean langsung terbangun begitu saja dengan mata yang sedikit merah dan berair, menatap kekasihnya yang mulai memakai pakaian buru-buru. Tak langsung menghentikan, Sean lebih memilih menyaksikan tubuh Grace yang terekspos bebas sebelum akhirnya tertutup seluruhnya. Sedikit menghela napas kecewa.


"Mau pergi? Tidak menginap?" tanya Sean begitu saja.


Grace menoleh dan menyadari bahwa Sean sedari tadi menjadikannya sebuah tontonan. Wanita itu memutar bola mata jengah sesaat sambil mendengus sinis. Lalu kemudian satu anggukan dilayangkan. Kalau sudah begitu, Sean tak bisa berkata apa-apa lagi sekalipun ia masih ingin Grace berada di sampingnya. Ada beberapa hal yang tak perlu dikatakan dengan gamblang namun sama-sama mereka mengerti. Ini adalah salah-satunya.

__ADS_1


Pun Grace langsung keluar begitu saja. Dan Sean hanya bisa menatap sosok mungil itu keluar bahkan tanpa sebuah kecupan sama sekali. Mungkin itu salah satu alasan mengapa dia membutuhkan Emeli.


__ADS_2