
Singualarity sering disebut-sebut sebuah titik di mana dimensi ruang dan waktu hancur dengan kekuatan gravitasi tanpa batas. Semua yang terjebak di dalam sana tidak akan bisa kembali. Seperti sebuah penjara di mana kita terjebak, sama hal nya dengan yang saat ini di alami Grace dan teman-teman lainnya.
Kematian Tiara memang sesuatu yang cukup mengejutkan. Membawa duka sekaligus praduga di kota Shadowfalls. Begitu mencekam dan sulit dihindari sekalipun terbalut tenang yang dibuat-buat. Berbeda dalam kasus Grace ataupun teman-temannya, mereka memang peduli, setidaknya setengahnya hanya rasa penasaran dengan siapa pembunuh Tiara sebenarnya. Tapi selebihnya, menghabiskan hampir seluruh rasa kepedulian, terasa terancam ditarik dalam rupa-rupa mencekam.
Siapapun pembunuh Tiara, jelas bukan suatu ketidak sengajaan. Itu jelas perbuatan seseorang yang tengah merencanakan dan mengawasi mereka. Pesan misterius yang mereka dapatkan serempak adalah sebuah bukti sekaligus peringatan kalau mereka sedang berada dalam sebuah permainan yang bahkan tak ingin dilakoni. 'You're next' Terlalu menyeramkan untuk diabaikan. Tapi sialnya, sekalipun mereka mempunyai kesempatan untuk bersaksi di depan polisi tentang sahabat yang tidak benar-benar sahabat itu, mereka tak dapat memberi tahu isi pesan itu.
Bahkan ketika orang yang mengirim pesan itu tak memberi ancaman apapun, mereka tetap bungkam. Alasan mengapa mulut mereka dikunci rapat sekalipun isi kepala mereka memaki untuk membeberkan adalah masing-masing dari mereka memiliki rahasia tentang Tiara atau yang lainnya, dan semua itu saling bersangkutan hingga tak dapat dikatakan.
Tapi di sisi lain. Stephen hawking menyebut bahwa lubang hitam dalam singularity memiliki jalan keluar. Tak seperti yang orang-orang bayangkan. Sekalipun dalam film interstellar terlihat begitu besar, lain hal dalam film flash yang akan mengantar pada satu tempat ke tempat lainnya. Ada setiap kemungkinan-kemungkinan berbeda tergantung sudut pandang dan pemikiran. Begitu juga dalam kasus mereka, semua tergantung langkah yang diambil. Bisa semakin menjerumuskan atau malah membawa pada titik temu.
Tak ingin berlarut dan mencoba melupakan pesan itu. Mereka mengambil kesimpulan bahwa itu hanya perbuatan iseng belaka dari orang-orang yang tidak menyukai mereka, merasa terintimidasi atau iri. Tapi pagi ini teror untuk Grace dimulai dengan sebuah pesan masuk yang mengganggu tidurnya. Email dari orang yang tak dia kenal.
Mari main! Antara kau dan Sean, siapa iblis yang sebenarnya? Siapa yang harus mati?
Grace mengerang frustasi melihat itu. Tentu kaget namun dia selalu mempunyai kontrol penuh terhadap dirinya. Bisa dibilang Grace itu control freak yang selalu mempunyai sebuah rencana. Dan jangan lupakan jika dia adalah seseorang yang manipulatif. Pun dia segera bangkit dari kasur. Melirik ke samping tempat tidur dan menemukan Abel yang tengah tertidur pulas tanpa mengenakan pakaian bagian atas. Menampakan tubuhnya yang atletis.
Lagi?
__ADS_1
Grace menghela napas frustasi. Menggoyang-goyangkan tubuh pria itu "Bel, bangun!" geram Grace susah payah.
Beruntung untuk seorang Grace, Abel selalu akan sigap. Pria itu membuka mata dengan wajah yang masih sangat mengantuk. Bibir merah basah agak bengkak dan wajah berminyak-glowing. "Good morning, sayang." Abel tersenyum masih dengan mata sayu. Memberi kecupan udara untuk Grace.
Gadials itu memutar bola matanya jengah. "Katakan apa password pintu kamarmu. Aku harus segera pergi."
"Tidak mau mandi bersamaku dulu, Sayang?"
"Abel!"
"Abel! Arghh...! kenapa juga aku bisa mabuk. Dan sejak kapan kau berubah jadi brengsek? Bahkan kekasihmu itu baru mati beberapa hari."
Mata Abel langsung membuka lebar mendengar Grace mengatakan itu. Menatap gadis itu dengan mengintimidasi. Berubah seketika. "Aku tidak menyentuhmu semalam. Hanya membawa mu ke rumahku agar pria-pria brengsek itu tak berani macam-macam."
Grace terdiam mendengar itu. Masalahnya tatapan Abel jelas sekali dia kesal. Mereka berdua sama-sama tahu apa yang sedang terjadi.
"Aku hanya membawamu ke atas kasur dan memelukmu semalaman," tambah Abel lagi sambil tersenyum dan menyipitkan matanya. Seketika berubah menjadi lembut lagi.
__ADS_1
Grace lalu mengedikan bahunya santai. "Bagus kalau begitu. Sekarang sebutkan berapa kode pintumu. Aku harus segera pergi."
"Apa ada hal penting?"
"Sangat."
Abel menghela napas malas. "Tanggal ulang tahunmu."
Mendengar jawaban itu Grace terkesiap. Terdiam sesaat sementara Abel sudah berbalik ingin melanjutkan tidurnya. Dia memandang Abel dalam hening. Hanya ada suara pendingin ruangan yang terlalu tipis terdengar.
"Kau harus menggantinya, Bel. Orang akan berpikir macam-macam," ujar Grace pada akhirnya sambil bangkit dari kasur. Membenarkan penampilannya sebentar dan mengambil tas. Saat ini, penampilannya tak begitu penting karna dia sendiri yakin masih terlihat anggun.
"Untuk apa? Satu-satunya yang kubawa dan kuperbolehkan ke kamarku hanya kau" Jawab Abel tiba-tiba saat Grace membuka pintu.
Kembali lagi membuat langkahnya terhenti. Bohong kalau itu tak membuatnya terenyuh. Ada beberapa hal yang tak perlu diungkapkan namun mereka sama-sama tahu. Ada sebuah rahasia antara mereka yang akan selalu disimpan.
Tapi Grace tak menjawab apa-apa. Menyingkirkan perasaannya dan kembali pada logika. Lalu ia melangkah keluar dari kamar Abel, melangkah meninggalkan rumahnya. Menutup rapat-rapat pintu hatinya. Mengagungkan kerja otaknya kembali.
__ADS_1