RAHASIA KELAM

RAHASIA KELAM
SECRET


__ADS_3

Akan ku beritahu tentang satu hal yang sulit dilupakan, namun mudah dihancurkan. Hal yang begitu rapuh jika tidak dijaga dengan sungguh-sungguh maka akan hilang.


Ya, itu adalah sebuah kepercayaan.


Bicara soal kepercayaan menjadi hal yang paling sulit diraih saat ini. Atau malah mustahil karena tak satupun yang benar-benar mengucap kebenaran. Dari ujung kepala sampai ujung kaki berlomba berlari mencari penyelamatan melalui teriakan muslihat dan kebohongan. Dan begitu juga yang dialami Rabella saat ini, mempercayai pria brengsek yang sekarang sedang berbaring di atas kasur tanpa kaus dan hanya ditutupi selimut. Kerap menampakan otot-otot yang menggoda untuk dijadikan pelukan. Mencari surga kepuasan di sana.


"Katakan saja yang ingin kau katakan. Tanyakan saja apa yang ada di dalam otakmu. Jika tidak, kemari dan hisap rokok ini," ujar Jeff mengulurkan segelinting marijuana -yang tentu bukan sekadar rokok biasa.


"Kau bisa mati."


"Aku sudah lama mati, Bella." Jeff terkekeh sinis. Menertawakan dirinya. Menertawakan Bella. Menertawakaan keadaan. Menertawakan kehidupan penuh kekejian yang kerap menyenangkan layaknya pasar malam dengan gemerlap kesenangan sesaat.


"Apa karena Grace?" Bella bersumpah ini pertama kalinya dia seberani ini. Mungkin menurutnya lebih berani daripada sekedar mengambil rekaman di dalam rumah Tiara. Karena di mata Bella, Jeff adalah segalanya. Mengalahkan eksistensi Tuhan yang dia pertanyakan kehadirannya ketika ribuan nestapa menerpa, menertawakannya nyaring nyaris meregang jika Jeff tak mengulurkan tangannya, sekalipun menenggelangkap pada keruh.


Jeff sendiri tersentak. Tak begitu terlihat kaget tapi rautnya berubah. Mata sayunya itu terasa lebih mengintimidasi dan memandang dingin dengan tatapan elang, seolah siap menerkam yang cukup membuat Bella membeku di tempat. Takut. Kerap setiap nama gadis itu disebut, Bella menyadari perubahan-perubahan emosi dari Jeff yang beragam. Tapi semuanya begitu signifakan.


"Untuk saat ini pertanyaan itu menjadi retorik, bukan?"


"Itu berarti kau baru saja menjawab iya, Jeff" Jeff bungkam. Tak memberikan jawaban apapun lagi. Lalu kembali meneruskan kegiatan membunuh diri perlahan dengan obat-obatan itu.

__ADS_1


"Sejak kapan?" tanya Bella lagi membuat Jeff menoleh. Pertanyaan yang menimbulkan tanda tanya juga. Jelas Jeff menatap Bella seperti gadis itu adalah sebuah keanehan. Yang memang sebenarnya seperti itu, gadis gila mana yang mau hidup diperlakukan seperti itu oleh Jeff.


"Sejak kapan kau menggilai Grace?" ulang Bella lebih jelas dan lengkap.


Air muka Jeff menunjukan jelas bahwa dia tak suka arah pembicaraan itu. Tak lagi berpura-pura mengabaikan. Dia memandang Bella dan menunjukan ketidak sukaan itu. Bella sejujurnya gemetar karena Jeff itu menakutkan untuknya. Sangat terlebih ketika marah. Di balik wajah malaikat kelewat baik itu, Jeff punya sisi gelap yang menakutkan dan menawan secara bersamaan.


"Aku tidak menggilainya. Kau yang gila bertanya seperti itu."


Telak. Tak dapat dibantah. Jeff menunjukan bahwa Bella salah dalam sekali lempar. Dan gadis itu tahu kalau Jeff tak bohong. Sedikitnya Bella mengira bahwa Jeff terobsesi dengan Grace. Tapi lega ketika Jeff mengatakan bahwa dia tidak seperti itu. Karena kalau Jeff benar-benar seperti itu, akan ada banyak praduga tentang pembunuhan Tiara.


"Aku mencintainya," tambah Jeff setelah jeda lama.


Dia merasa semuanya terasa menyedihkan.


"Tapi dia menyakitiku. Membuatku hidup dengan segala rasa bersalah. Menyiksaku. Menghukumku. Dia benar-benar pantas mati. Tapi aku mungkin tidak akan sanggup kalau dia mati."


Dalam dan membuat Bella mengerti perlahan. Setengah dari masalah di kepalanya paska Grace dan Jeff yang membuat dirinya penasaran setengah mati. Setidaknya dia mengerti kalimat Jeff tentang Grace yang pantas mati tetapi harus tetap hidup'.


"Apa yang kau lakukan padanya, Jeff? Apa yang membuat Grace melakukan itu padamu?"

__ADS_1


Jeff tak langsung menjawab dan malah berbicara hal lain. Tetapi kemungkinan besar ada kaitannya dengan semua yang terjadi. "Grace itu penipu. Dia mengatakan akan selalu di sisiku. Di pihakku. Persis seperti yang dia katakan pada Sean. Nyatanya? Dia meninggalkanku."


Jeff tertawa miris. Menarik napas dalam-dalam sebelum pada akhirnya menghembuskan perlahan. "Tapi ya aku mengerti. Aku membunuh Ibunya."


Itu dia! Itu yang Bella tunggu. Ingin bertanya tetapi berakhir bungkam. Dia takut. Sangat takut untuk sekadar bertanya apa maksudnya'


Seketika Jeff tersenyum simetris. Berubah menjadi menyeramkan untuk sesaat. Menyeringai tanpa rasa bersalah. "Tenang, aku akan menceritakan padamu cerita menarik ini. Cukup untuk teman tidur. Jadi Rabella kemari. Tidur di sampingku sebelum aku bosan dan menyuruhmu pergi."


Sang dominan kembali. Membuat Bella tunduk dan patuh dalam sekejap. Melangkah hati-hati dan berbaring di samping Jeff. Diberikan satu ******* serta gigitan pada bibir bawah hingga sedikit rasa besi terkecap-basah darah.


"Singkat cerita-Grace itu asing. Sekalipun kita seperti mengenalnya penuh, merasa paling dekat, kita tidak akan pernah tahu topeng mana yang sedang dia pakai. Aku frustasi mencari-cari yang mana Grace-ku sebenarnya. Apa yang dia inginkan. Bersamanya membuatku kehilangan arah. Ingin merengkuh namun kosong. Dan aku yang hanya bocah kacau mempercayai penuh padanya. Pemuda tolol yang mengagungkan persahabatan dan cinta yang tulus."


"Lalu saat itu aku menemukan Grace di bawah kungkungan kakaknya sendiri. Sedang merintih seperti pesakitan yang frustasi. Padahal di mataku dia itu suci dan agung. Dan saat itu aku kehilangan arah, kembali mempertanyakan siapa sebenarnya gadis yang aku cintai. Mana dia yang sebenarnya. Gadis yang malam itu di dalam kuasa Gery atau yang selalu tersenyum mengatakan ingin aku lindungi."


"Aku tidak tahu siapa yang harus kupercaya. Dan sekali lagi aku kehilangan segalanya. Sampai saat aku menemukan teman-temanku itu. Juga seorang wanita yang sama kacaunya denganku. Merindukan kasih sayang. Butuh seseorang dan sulit dalam kepercayaan."


"Tebak siapa? Nyonya Harmon-Ibu Grace Harmon"


"Kau tahu kan bagaimana jalan cerita selanjutnya?"

__ADS_1


__ADS_2