
Keberanian sedang mengepul di atas kepala. Saling memandang dan mengintimidasi seolah siap menerkam. Tak satupun dari kedua orang itu yang terlihat ciut. Sama-sama tangguh ingin menjatuhkan lawan. Belum ada kalimat sakral pemicu perdebatan atau tuduhan mutlak yang keluar dari bibir Grace dan Aska yang tengah duduk berhadapan di sofa empuk rumah megah kediaman Harmon. Walikota Shadowfalls yang memang sejak dulu keturunan mereka kerap mendapatkan kemewahan.
Rasanya seperti sebuah kerajaan yang hanya diwarisi turun-temurun. Bahkan seharusnya tak perlu diadakan pemilihan. Bukan hal buruk karena memang kualitas kerja keluarga Harmon dalam memimpin sangatlah baik. Terbukti bagaimana mereka bahkan mengorbankan keluarga untuk apa yang mereka dapatkan. Menjaga kedamaian dan mempertahankan kekuatan. Shadowfalls selalu menjadi kota favorit.
"Reuni yang sempurna, Askara?" Grace memilih untuk mengawali pembicaraan untuk tamu spesial itu. Dagu yang terangkat angkuh dengan iris karamel terlalu jernih-sedikit tak sebanding dengan senyuman asimetris. Penuh kelicikan.
"Aku tidak pernah berharap untuk kembali ke sini. Kota yang hancur. Busuk. Kelam. Damai yang dibungkus dari kepalsuan."
"Apa yang kau katakan, detektif, Aska? Seharusnya kau bersyukur karena kota ini membentuk mu seperti sekarang. Lihat, dahulu kau hanya bocah yang suka cari masalah. Terlihat seperti tak punya masa depan, sekarang malah menjadi detektif muda. Ayahmu pasti bangga kan?"
"Brengsek, jangan sebut nama ayahku dengan mulut kotormu itu!" maki Aska tersulut. Mungkin Grace sengaja karena jelas gadis itu malah tersenyum puas. Seperti iblis. Penyihir yang menaburkan kebencian.
Aska menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya. Tidak boleh tersulut dan berusaha profesional. Sangat bukan dirinya. Tapi semua keluarga Harmon dan keturunannya adalah yang paling dia benci. Penyebab kematian Ayahnya adalah Kota Shadowfalls di mana si sialan Tuan Harmon menjadi penguasa. Menganggap orang hanya sebagai boneka termasuk ayahnya sendiri. Maka perempuan di depannya ini, sama saja. Tumbuh menjadi penyihir yang siap memakan jiwa kalau saja dia lengah sedikit. Menyajikan visualisasi indah yang kerap menipu, tapi tidak dengan dirinya.
Sedikit berdeham dengan tangan mengepal di depan mulut, lalu kembali merapihkan kerah yang bahkan tidak berantakan sama sekali. Sebenar-benarnya adalah mengambil kontrol terhadap diri sendiri kembali. Sekali dia lengah dan masuk dalam perangkap, maka dia akan kalah. Aska kerap menjadi nomor satu dalam pengontrolan diri. Hanya dia dan dirinya sendiri. Tapi kota ini membawa dia kembali ke masalalu. Semua kesedihan dan kekelaman atas nama ayahnya. Kehilangan yang begitu memilukan.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan, Grace Harmon?" Grace terlihat sama sekali tak bergeming padahal pertanyaan itu jelas bermaksud untuk menyerang, mengujii dan mencoba.
"Apa maksudmu, Askara?" ditanya balik dengan begitu tenang.
"Denganku tak perlu berpura-pura seperti itu. Aku sudah tahu semuanya."
"Begitu ya? Tapi bukankah yang sekarang aku hadapi adalah seorang detektif? Maka aku harus menjawab dengan hati-hati juga benar agar tak membuat asumsimu membebaniku kan?" sebuah jawaban cerdas dan telak.
Aska akhirnya terkekeh. Lama rasanya tak menemukan hal semenarik ini. Matanya menyipit terlihat girang sambil bertepuk tangan takjub. Sungguh bukan sindiran tapi berubah menjadi kebahagiaan. "Baik, kau ini harus mendapat penanganan khusus dan berbeda. Mari kita ke pusatkan saja. Dengan caraku-kau akan kutangani."
Grace mengangguk-anggukan kepala seperti sedang dikuliahi. Menurut mendengar penjelasan kata demi kata namun nyatanya terlihat seperti mencemooh. Kedua orang dengan kearoganan yang sialan.
"Kenapa kau melakukan semua ini, Grace? Membiarkan video aib kekasihmu sendiri tersebar?"
Grace tertegun sesaat. Jelas raut wajahnya berubah. Menegang dibalik topeng ketenangan yang dia pakai. Tentu pertanyaan Aska menjadi sebuah pukulan yang menyerangnya langsung. Askara puas melihat itu. Sedikitnya dia dapat melihat perubahan wajah gadis itu. Menjadi detektif membuatnya ahli dalam membaca ekspresi. Kerap seperti tv series Lied to me di mana si detektif dapat membaca melalui ekspresi wajah. Kadang mungkin tak benar-benar tepat, tapi dapat menajdi sebuah pengacuan.
__ADS_1
"Jadi kau menuduhku melakukan itu? Benarkah? Untuk apa?" Grace terkekeh menanggapi seperti itu adalah lelucon yang paling buruk namun membuat terbahak. Sayangnya hanya kekehan meremehkan yang dilontarkan bermaksud menghina.
Aska mengedikan bahunya. "Maka itu aku mengatakan padamu. Untuk apa?" Pintar sekali mengintimidasi sampai si pelaku mengaku. Membalik-balikan kata seakan Grace sudah menjadi tersangka sepenuhnya.
"Kau dan asumsimu itu sangat buruk, Aska."
"Ini kesimpulan. Sudah di akhir."
"Baiklah. Kenapa kau mengatakan itu? Kau pikir aku mau menghancurkan hidupku sendiri?"
Aska menatap Grace dalam diam. Menelisik jauh ke dalam netra itu. Yakin sekali kalau gadis itu memiliki sesuatu yang kelam yang berusaha dia tutupi. Pun video itu adalah hal yang dia inginkan. Sesuai kehendak. Pertanyaannya adalah kenapa? Mengapa gadis itu melakukan itu. " Kau ingat ada yang menelponmu saat disekolah? Aku yang menelponmu untuk meminta video itu."
Grace dibuat terkejut. Ekspresi sama seperti sebelumnya. Hingga Aska membuat kesimpulan bahwa memang gadis itu yang melakukanya, karena reaksi yang sama pada satu yang abu-abu dan satu yang jelas. Maka keduanya menjadi teramat jelas. "Aku mendengar percakapanmu dengan Abel. Aku detektif. Aku perlu mengetahuinya," jelas Aska sejujur-jujurnya. Jangan tanyakan mengapa dia harus melakukan itu. Dalam permainan ini harus pintar memilah mana yang harus diutarakan atau disimpan baik-baik.
"Sekarang kau sudah tahu kan? Jadi sudah mendapatkan siapa pelakunya?"
"Apa yang terjadi sebenarnya padamu dan teman-temanmu? Siapa yang membunuh? Apa yang kalian alami sesudahnya?"
Pertanyaan yang begitu menggiurkan. Sejujurnya membuat keraguan pada diri Grace. Haruskah dia mengatakan semuanya, segala ancaman yang terjadi. Aska itu detektif, memiliki dua sisi dalam hal yang ia juga teman-temannya alami, Aska bisa menjadi pelindung atau malah sisi runcing yang membuatnya hancur. Terlalu riskan. Maka Grace memutuskan untuk menutup mulut saja.
"Hadiah? Cih! Berhenti bersikap seperti seorang Tuan Putri Harmon. Kau adalah suspect saat ini di mataku. Aku tak akan mau menjadi minionmu sekalipun kau beri keuntungan berlimpah."
"Cukup katakan saja dan jangan banyak bicara." Terlalu tegas. Aska mendapati sisi Grace yang berbeda kali ini. Maka dia membuka suara sambil menelisik setiap raut wajah yang dibuat.
"Kalau orang lain yang menangani mungkin tak akan menemukan jawabannya. Tapi Shadowfallls dan kebusukannya sudah mendarah daging dalam diriku. Di luar kepala. Pun kau sendiri. Aku tahu jelas bagaimana kau, Grace. Setiap ada kesempatan kau akan mengambilnya. Membuat rencana dan menjadikannya permainan. Mengorbankan apapun bahkan dirimu sendiri untuk tujuan pada akhir."
"Aku tidak menyebarkan video itu di sekolah. Aku bahkan baru datang ketika video itu terputar."
"Apa aku mengatakan kau yang menyebarkannya? Aku mengatakan kau membiarkannya. Kau tidak menyebarkannya, aku tahu. Persetan siapapun yang menyebarkan. Tapi kau. Grace kau itu pintar."
Grace terdiam dan tertawa lalu bertepuk tangan. "Ku berikan hadiahnya!"
__ADS_1
"Aku sudah bilang tidak butuh ha-"
"Yang menyebarkannya adalah Emeli"
Aska terdiam seketika. Sukses bungkam. Hadiah yang dikatakan benar-benar hadiah.
"Kau benar, aku dapat mematikan seluruh listrik saat itu dengan mudah. Tapi aku malah membiarkannya. Pun tentu bukan aku yang menyuruh. Orang lain entah siapa. Tapi apapun itu. Kali ini aku berterima kasih pada peneror itu. Aku melihat jelas bagaimana Emeli mengambil video itu saat kembali dan memergoki gadis itu bersama Sean. Sekalian saja."
"Jadi kau mendapatkan dua hal; kebenaran akan kesimpulanmu, tetapi bukan aku dalangnya. Ah.. ditambah kau jadi tahu ada seseorang yang meneror kami. Padahal beberapa saat lalu aku bertekat memutuskan tak mengatakan padamu karena kau seperti pisau yang memiliki dua sisi, tumpul dan runcing. Keduanya berbahaya."
Seperti diberi kejutan berlebih. Pukulan bertubi. Kenyataan yang tersisa dari magasin.
"Kenapa kau mengatakan ini padaku?"
"Karena aku juga butuh mengetahui siapa yang meneror. Kau cerdas. Kau dibutuhkan. Seperti yang kau katakan bahwa keluarga Harmon selalu mengontrol, bukan? Sekalipun kau tidak mau pada akhirnya kau akan melakukannya. Seperti saat ini. Bahkan tanpa perlu aku pinta. Aku butuh tahu apa dibalik semua ini."
Pada kenyataannya dia kembali terperangkap. Berharap bahwa dirinya tidak habis dimakan kelicikan keluarga Harmon. Tidak berakhir seperti ayahnya.
"Lalu kenapa kau membiarkannya? Membiarkan video itu tersebar? Karena emosi pada Sean? Cemburu pada Emeli? Kau di sini juga terluka kan? Aku melihat jelas video di mana kau terpukul dan itu bukan akting semata. Kau jelas terluka."
Grace terdiam. Tatapan matanya sendu. "Ya.. Aku sangat terluka."
"Lalu kenapa?"
"Tak ada hadiah lagi, Askara."
Rahang Aska mengeras. Mengacak rambut frustasi pada gadis di depannya. "Apa sebenarnya yang terjadi pada semuanya?!"
"Bukankah tugasmu mencari tahu?"
"Lalu apa yang sebenarnya ada di kepalamu! Aku tak pernah mengerti dirimu. Selalu bertanya-tanya kau ada di pihak yang mana."
__ADS_1
Maka seulas senyuman asimetris kembali dilayangkan di bibir kecil Grace yang cukup tebal. Licik sekali. "You should see me in the crown."
Tak ada jawaban pasti. Masih kelabu. Tapi di akhir kalimat. Aska tahu itu adalah clue terbesar yang diberikan Grace.