RAHASIA KELAM

RAHASIA KELAM
WHEN WE WERE YOUNG


__ADS_3

"Wah!" seru Grace terkejut kegirangan ketika para pelayan membawakan banyak makanan disajikan beragam pada meja di depannya. Satu-persatu sekiranya lima belas pelayan dengan satu kepala koki memandu. Benar-benar bersemangat ketika penampakan tudung pada tiap piring dibuka, bahkan rasanya aroma semerbak saja sudah membuat para cacing diperut bergerilya untuk menyerang rasa lapar keluar dari persembunyiannya.


Abel sama laparnya. Sama tertarik dan kelewat bersemangat jika membicarakan makanan. Kedua mata bulat seperti bambi itu layaknya berkelip-kelip mengalahkan bintang atau lampu neon yang biasa dipakai untuk dekorasi kamar. Kalah jauh. Tersenyum menggemaskan dengan dua gigi kelinci menyebul. Lalu mengatup menarik dua sudut ke atas membuat wajahnya terlihat semakin kecil. Lucu sekali.


Namun ketika berbalik, Abel mendapati Grace yang terlihat bahagia sekali, ketertarikannya berubah seketika. Rasanya untuk pertama kali makanan tak berarti, kalah telak dengan gadis di sampingnya. Lebih menarik dan membuat bahagia melihat senyuman itu. Ada rasa lega meluap membuat suasana lebih tenang. Dapat bernapas dengan tempo begitu rileks. Abel dapat membuat senyuman itu muncul. Pun itu tujuan awal membawa Grace bersamanya. Kalau beberapa saat lalu. Grace tiba-tiba datang mengatakan ingin diculik, kali ini Ab yang punya inisiatif. Tiba-tiba menghentikan Grace yang dengan ragu masih berada dalam mobil depan sekolah. Kentara sekali enggan kembali mengingat apa yang kerap terjadi pada hari yang lalu. Dan Abel turun dari mobilnya, mengetuk jendela mobil Grace yang cukup membuat terkejut. Ketika jendelanya terbuka, dia menunjukan senyum menggemaskan begitu inosen-tanpa dosa. Berbanding terbalik sekali dengan kata yang keluar dari bibirnya.


"Aku mau menculik noona. Aku bawa kabur sejauh mungkin!"


Kemudian seenaknya memasukan tangan melalui jendela untuk membuka pintu mobil. Menggeser Grace sembarangan ke jok penumpang. Sebenarnya bukan Abel yang menggeser, tapi itu kemauan Grace sendiri. Karena dirinya masih sama dengan wajah tanpa dosa mengatakan-


"Duduk di pangkuanku saja. Bisa kok menyetir sambil memangku noona. Lebih baik. Bisa cium dan peluk."


Grace hampir tersedak mendengar itu dan buru-buru pindah tempat. Sementara mobil Abel dibiarkan begitu saja di parkiran sekolah. Tenang saja, ada Jeff yang pasti menggelengkan kepala kemudian menanganinya. Kenyatannya Jeff dan Ab itu lumayan dekat sekalipun sekitar mereka tidak seperti itu. Pun mereka semua berteman dalam hal-hal tertentu. Kelompok kelas atas yang dikagumi-begitu katanya, setidaknya sebelum kematian Tiara.


Ketika Abel mengatakan akan membawa kabur Grace, pria itu tidak main-main karena mereka serius keluar dari kota Shadowfalls. Bukan lagi menuju kota lainnya, Abel pergi keluar ke pesisir barat. Masih tak mengerti apa yang dilakukan di sana setidaknya sampai sebuah kapal ferry yang rupayanya seperti pesiar-atau memang begitu adanya menjemput. Tak masalah dengan mobil Grace karena kalau tidak dijemput oleh pelayan keluarga Harmon, karyawan keluarga Abel akan bertanggung jawab. Kenyataan bahwa Grace itu cukup berada dan Abel lebih dari itu memang membuat kehidupan kadang terasa tak adil.


Terpaan angin, sinar matahari, kesejukan yang menenangkan dan deru ombak. Jangan lupakan pemandangan kelewat indah pada setiap biru yang membentang. Sangat luar biasa. Bahkan tak bisa rasanya di dalam duduk manis sekalipun disajikan banyak sekali fasilitas mewah. Lalu berakhir di sebuah pulau yang diketahui milik keluarga Abel. Bukan pulau besar, tapi cukup untuk bisnis resort mereka yang sekarang diblokade total karena alasan Grace ada berada di sana.

__ADS_1


Maka sekarang kembali lagi pada keadaan duduk di luar cottage dengan sofa empuk berwarna biru sama seperti laut dan kemeja panjang yang digunakan Abel. Gazebo nyaman dengan atap yang menghalangi mereka dari sinar matahari yang sejujurnya tak sepanas itu. Mungkin bisa dibilang ini seperti sebuah surga kehidupan. Maka mereka mencoba satu-persatu makanan yang dibuat khusus oleh koki. Garpu yang ditusuk ataupun sendok yang menyuap selalu berakhir pada mulut mengunyah dan gumaman takjub pada rasa. Tak mungkin menghabiskan semua padahal rasanya ingin melahap sampai habis. Jangan lupakan bagaimana Abe sengaja memutar musik yang cocok. Bukan musik Live romantis tapi dari sound system dengan beberapa lagu catchy. Contohnya Lost King When We are Young - atau John K -Best of me. -Yang sebenarnya lagu itu terlihat sekali begitu biasa. Persis sebuah kode untuk perasaanya pada Grace. Berharap sekali dimengerti walaupun tentu kenyataannya gadis itu sudah tahu perihal perasaannya. Entah apalagi yang dia sampaikan, dia sendiri kebingungan.


"Serius, Bel! Ini luar biasa!" Masih sama, Grace terlihat begitu tertarik. Mata Abel tak bosan sama sekali mengabadikan setiap detik raut bahagia Grace dalam bola matanya. Karena itu rasanya begitu langka gadis itu tersenyum seperti sekarang. Tentu bukan berarti Grace jarang tersenyum, malahan sering sekali. Hanya saja cukup membuat gemuruh kelabu pada dadanya karena tahu bahwa senyuman itu bukan sebuah kebahagian yang benar-benar disajikan.


"Kau yang terbaik! Terima kasih membawaku ke sini, milyader Abel! Memberiku semua makanan lezat ini. Yummy!" Grace terkekeh dan terus mengunyah. Melupakan sejenak bagaimana dia selalu berusaha mati-matian menahan rasa lapar atau makan terpaksa dengan tangisan karena tubuhnya tidak seperti Bella atau Emeli yang akan selalu kurus. Dia harus menjaga mati-matian. Bahkan makan hanya sekali tetap membuat bobotnya bertambah cepat. Tapi kali ini berbeda.


Abel bahagia. Dia tahu bagaimana sulitnya Grace kembali ke sekolah. Seperti momok mengerikan. Sekalipun gadis itu kuat dan terlihat siap tapi nyatanya Grace itu manusia. Bukan berarti Abel mengatakan Grace lemah dan dia akan menjadi penjaga yang selalu ada. Grace dapat berdiri sendiri -salah satu yang begitu dia kagumi- tapi semua orang mempunyai batas tertentu yang tidak bisa terus dia raih dengan mudah.


"Jangankan begini dan ini semua, dunia saja akan aku berikan untukmu noona. "gumam Abel sambil tersenyum simpul. Begitu pelan penuh kebahagiaan.


Abel buru-buru menggeleng. Malu sekali kalau sampai terdengar Grace. Nanti terkesan cringe-walaupun Abel teramat serius ketika mengatakan itu. Maka Abel lebih memilih memasukan potongan kecil daging ke mulutnya sambil menaikan satu kaki ke kaki lainnya. Bersender pada sofa lalu merentangkan satu tangan ke bahu sofa di mana ketika Grace kembali ke posisi semula berakhir di rangkulan Abel. Bisa ditebak pria itu salah tingkah sendiri karena tak bermaksud begitu terlebih ketika Grace terkejut. "A-ah m-maaf."


Grace menggeleng lembut dan menatap dalam obsidian Abel seakan itu adalah galaksi terindah yang mengalahkan milky way. "Bel, kalau aku jatuh cinta padamu, kau akan hancur lebur."


Kembali lagi kata itu terucap. Rasanya setiap Abel mendengar itu ingin mendengus sambil memutar bola mata. Sebelumnya kerap terkekeh sinis ketika dihadapkan pada kalimat itu. Meyakinkan Grace kalau dia tidak seinosen dia. Kalau dia lebih buruk dan gelap dari yang Grace kira. Lebih penuh kegilaan dengan semua obsesi akan gadis itu. Namun sekarang rasanya ada Abel lain yang terbentuk seiring kebersamaannya dengan Grace. Abel yang masih sama, namun keasadaran membawanya padah hal lain yang lebih murni, lebih indah, lebih tulus. Bukan sekadar obsesi gila tapi sesuatu yang lebih dari itu. Mendamba dengan cara yang teramat indah.


"Hancur tak apa-apa asal meleburnya bersamamu. Sungguh." Jawaban berbeda dari yang pernah ada.

__ADS_1


Grace tertegun. Berhenti makan seketika. Teringat perihal Abel yang mengatakan akan selalu di sisinya. Mungkin itu benar-masih sama-sama benar. Yang berbeda adalah cara pandang Grace sebelumnya. Gadis itu menemukan banyak sekali peluang di mana dia dapat mengambil keseluruhan. Kegembiraan dan pesta pada kesempatan yang dilontarkan dari janji Abel. Namun kali ini yang dia dapatkan adalah sebuah debaran, pilu-ingin menangis tapi karena lega. Bahagia. Satu orang-satu-satunya yang dia lihat dengan cara berbeda telah Grace temukan.


Tak ada kata 'Abel kau mendapatkanku' atau deklarasi semu apapun yang dilakukan hanya sekadar untuk meyakinkan. Kali ini hanya diam. Menunduk dan tersenyum bahagia. Dalam diam batinnya bergumam manis. Menggema memenuhi hati.


'Bolehkah sebentar saja dia menikmati ini? Merasakan cinta dan percaya juga memberi kepercayaan? Sebentar saja sesuatu yang benar-benar baik. Satu saja, tidak perlu hal lain. Setidaknya sampai pada saatnya tiba. Sampai dia kehilangan dan mendapatkan semuanya'.


Karena mungkin semuanya adalah tentang Grace. Karena dia adalah pusat dari segala alasan ini terjadi.


Askara terdiam tidak jauh dari tempat kedua insan itu begitu menikmati hidup. Sebenarnya cukup jauh dibalik batu besar yang menyerupai tebing. Siapa sangka bahwa dia bisa bergerak sejauh ini. Aska mencurigai Grace. Masih. Dia yakin ada sesuatu yang gadis itu tahu namun masih menyimpannya rapat-rapat entah untuk apa. Padahal jelas gadis itu sama dalam bahayanya.


Tapi melihat kebahagiaan itu, Aska merasa setidaknya harus menyingkir. Merasa berdosa jikalau harus merusak suasana itu. Kembali mengirim pesan singkat pada seseorang untuk menjemputnya di salah satu sisi pulau agar tidak ketahuan.


Aska pernah melihat senyuman itu pada bibir Grace. Sekali. Hanya sekali. Dulu sekali ketika dia masih berada di Shadowfalls Sesuatu yang tak akan pernah Askai lupakan. Gadis itu tersenyum sama entah beberapa tahunalu. Yang Aska ingat adalah ketika dia dan Jeff datang menemukan Grace mengumpat di salah satu pohon sambil memeluk kakinya sendiri. Lututnya gemetar dan menangis. Saat itu Grace bilang dia melihat monster di rumahnya maka ia berlari. Tubuh mereka masih begitu kecil dan isi kepala yang begitu inosen.


Jeff mengulurkan tangan dan Aska mengusap kepala Grace dengan wajah berusaha dibuat tak begitu peduli, berbanding terbalik dengan senyuman malaikat Jeff. Tapi hal itu membuat Grace tersenyum yang sama. Entah sudah berapa lama hal itu tak pernah terjadi. Bahkan Aska rasanya lupa bagaimana semua menjadi begitu kacau. Dan sejak kapan senyuman itu direnggut dari mereka semua.


Menyeramkan ketika kedewasaan seperti merenggut senyuman itu. Entah sejak kapan mereka tidak pernah Lagi tersenyum seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2