RAHASIA KELAM

RAHASIA KELAM
WORRY


__ADS_3

SdadowFalls bukanlah kota besar. Tak butuh waktu berjam-jam lamanya atau sampai terjebak macet untuk Grace sampai di kediaman sang kekasih. Ia segera memarkirkan mobil dan bergegas masuk ke rumah yang selalu sepi itu. Jika dipikir-pikir, mereka semua memang memiliki rumah yang selalu sepi. Tapi bisa dibilang Abel dan Jeff lah yang paling menikmati kesendirian karna mereka anak satu-satunya. Orang tua Abel sama seperti orang tua Sean, mereka adalah seorang pengusaha yang membuatnya jarang sekai ada di rumah. Sementara Jeff, dia sudah tinggal di Apartemen sendiri.


"Selamat pagi, Grace." seorang pria menyapa ketika Grace hendak memasuki pintu rumah Sean.


Grace menunduk dan memberikan salam. Menyuguhkan senyuman terbaik yang terkesan sangat sopan. Untuk urusan manner, Grace terlatih untuk itu. Anak seorang mayor tentu menjadi image untuk orang tuanya juga.


"Mau bertemu Sean, ya?"


Grace mengangguk. "Iya. Apa dia sudah bangun?"


"Sudah. Sepertinya sedang main game di ruang tengah. Aku pergi dulu ya."


Grace kembali mengangguk."Hati-hati Rendi" ujarnya pada kakak kekasihnya itu.


Setelah Rendi pergi, senyuman dan keramahan yang ada di wajah Grace luntur seketika. Tatapan sinis langsung disajikan seraya masuk ke dalam rumah. Menemukan Sean yang sedang memakan snack dan menonton tv. Untung saja bukan bermain game, karena kalau iya, sudah bisa dipastikan akan kalah karna Grace akan langsung mencabut kabelnya agar mendapat atensi penuh. Biasanya seperti itu, dan akan diakhiri dengan Sean yang merengek kesal. Tapi sebuah keuntungan bagi Sean, karna ia akan meminta ganti dengan game lain. Tentu tubuh Grace yang jadi permainan utamanya.

__ADS_1


"Wow, kekasih tercintaku akhirnya datang setelah mengabaikanku dan membuatku seperti orang gi--"


"Berisik Sean! Aku berani bertaruh, pasti jal*ng itu sudah mendatangimu. Karena dia akan semakin kesetanan jika aku tak mengabaikanmu. Dan itu memuakkan! Jadi karena aku kekasih yang baik hati, kuberi waktu untuk kau dan dia bersenang-senang, bukankah begitu Sean?" sarkas Grace


Sean terdiam. Menaikan kedua alisnya tak percaya. Bertanya-tanya apa kekasihnya ini seorang cenanyang atau apa. Tapi menarik hipotesa itu karna Sean tahu, kekasihnya itu lebih sering berpikir secara logika. Lagipula saat ini tak penting karna kehadiran Grace lebih penting. Meskipun mereka berdua itu kacau namun selalu berakhir kembali. Seperti saat ini contohnya.


Sean menepuk-nepuk pahanya dan kemudian merentangkan kedua tangan. "Kemarilah. Berpelukan dan bercinta." ujarnya sambil tersenyum lebar membentuk kotak.


Grace memutar bola matanya jengah. Mengerang frustasi kesal. "Apa kau gila, Sean? Apa isi otakmu hanya soal bercinta? Aku tidak mau!" Grace lebih memilih mendaratkan bokongnya di samping Sean. Lalu segera mengeluarkan ponselnya dan menunjukan pesan yang ada di layar pada Sean.


"Oh." ujar Grace membuat sound effect kaget dengan sengaja. Setengahnya jelas sebuah sarkastik yang entah ditujukan untuk siapa.


"Apa menurutmu orang ini tahu tentang-kita?" tanya Sean hati-hati.


Grace menyederkan bahunya di sofa. "Kemungkinan besar. Dia menujukan itu khusus pada kita berdua."

__ADS_1


Mereka sama-sama terdiam. Menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya penuh kekalutan. Sean memijat batang hidungnya frustasi. Berakhir dengan mengambil sebatang rokok di meja sekaligus pemantiknya. Mengapit di antara dua jari- memutar-mutar sebelum berakhir di antara dua bilah bibir.


Grace melirik dan segera menarik rokok itu. Membuat Sean terkesiap, menatap balik Grace.


"Sean, I always gonna be your side." ujar Grace dengan tatapan serius. Meyakinkan. "Kau tidak perlu khawatir. Selama ini aku selalu ada untuk membereskan semua kekacauan yang kau buat kan? Kali ini juga begitu."


Grace memberikan senyuman licik dan angkuhnya. Menggenggam tangan Sean, memberikan afeksi yang membuat kepercayaan Sean berserah padanya. Banyak sekali hal yang terjadi di antara mereka dan pada kenyataannya memang selalu begitu.


Bisa dilihat bagaimana Grace menanggapi kebrengsekan Sean bersama Emeli. Ada beberapa hal yang tak perlu dikatakan namun sudah tersurat dalam diam di antara mereka.


"Termasuk apa yang pernah kau lakukan pada Denis. Aku juga akan membereskannya," tambah Grace lagi.


Sean tersentak mendengar itu. "K-kau tahu?"


"Tentu aku tahu. Sudah ku bilang, aku akan selalu tahu apa yang kau lakukan. Tapi tenang saja, aku akan selalu berpihak padamu"

__ADS_1


__ADS_2