
Abel menatap sendu penuh cinta pada gadis yang selalu ada dihatinya. Melihatnya terbaring diatas ranjang miliknya dengan keadaan yang berantakan. Pandangannya kosong, air mata mengalir tidak berhenti bahkan sampai sebagiannya sudah mengering. Hening dalam gelap menatap kosong pada langit-langit, namun tidak benar-benar fokus pada apa yang terpatri diretinanya. Dadanya terlihat naik turun bernapas dengan begitu sulit dan sesak.
Ingin rasanya Abel memeluk dan menghujani ciuman pada gadis itu, tapi dia tidak bisa melakukannya, karena dia sadar dimana tempatnya berada. Sejauh mana dia melangkah akan tetap percuma. Nyatanya ada beberapa hal yang tak tergapai sekalipun sudah bersusah payah. Seharusnya dari awal dia sudah menyerah karena dia sadar semua tidak akan mungkin.
Tak kuasa melihat gadis yang sangat ia cintai itu tennggelam lebih jauh dalam kesedihannya, pun dia memberanikan diri untuk mendekat, menggeser tubuhnya walau hanya sekitar lima centimeter. Bernapas pelan selembut mungkin, membelai lembut rambut Grace. "Nonna..." Panggilnya dengan resah.
Grace bergeming, namun masih tenggelam dalam pikirannya yang limbung pada setiap sudut. Abel tak tahan lagi, dia merasa bahwa bagaimanapun, dia terlibat dalam hal yang menyakiti Grace. Seluruh isi kota ini bersalah karena sudah menyakiti gadis yang begitu dia cintai. Maka Abel tak lagi peduli masalah memberi waktu ataupun ketenangan, dia merengkuh Grace dan memeluknya begitu erat. Sangat erat. Berharap dari sana Grace dapat mengerti sedalam apa dan segila apa dia jatuh cinta terhadap wanita itu.
Mungkin Abel memang berhasil karena saat ini Grace menoleh padanya. Abel dapat melihat pantulan dirinya di iris karamel yang tersiram cahaya lampu. "Bel-aku hancur. Semub Berakhir," Lirih Grace seperti tercekik.
Abel menoleh buru-buru. Meyakinkan bahwa semuanya tidak seperti yang dipikirkan Grace. Mengusap wajah Grace yang hanya berjarak beberapa centi. Bahkan mereka dapat merasakan napas yang menyapu kulit satu-sama lain. "Tidak. Dengar... nonna, kau memang tidak bisa terus-terusan berdiri, kau harus beristirahat juga ketika lelah. Maka ketika kau memaksakan diri terus-terusan pasti akan jatuh kelelahan, tapi bukan berarti kau tak dapat bangkit lagi. Grace yang aku kenal adalah satu-satunya wanita yang dapat membuatku bertekuk lutut. Aku gilai setengah mati. Bahkan untuk diriku yang jelas ambisius, dia dapat mengontrolnya. Membuat diriku rela dikontrol olehnya."
"Kau-tidak akan berakhir sampai di sini saja. Mungkin ini pertama kalinya aku mengatakan hal seperti ini dan tidak terkesan lembut seperti biasanya padamu, tapi-"
"You're Grace Harmon. Suck it up!"
Grace terdiam untuk beberapa saat sampai pada akhirnya dia perlahan tersenyum asimetris. Abel begitu saja menamparnya kembali pada kenyataan. Menariknya pada kubangan kemalangan dengan cara yang brutal. "Kau benar."
Dan Grace langsung memeluk Abel dengan erat sekali. Menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Mengusak manis sekali. "Abellano... Terima kasih."
Sederhana, seperti yang Abel bilang, dia adalah Grace. Dia memilih jalan yang akan dia lalui. Melakukan apa yang dia yakini dan selalu siap dengan apa yang akan terjadi. Dia memang sejak awal sudah kacau dan hancur, namun dia akan selalu kembali berdiri tegak karena kemalangan itu sudah menjadi temannya. Atau malah mengakar pada dirinya sendiri.
Abel sukses bungkam. Diam kacau dengan wajah memerah panas, dalam skala satu sampai sepuluh di kematangan kepiting, dia berada pada titik matang yang berlebih-merah sekali. Salah tingkah dan malu. Grace benar-benar memeluknya terlebih dahulu. Bahkan bemanja-manja seperti ini. Abel jadi merasa mereka seperti sepasang kekasih. Padahal baru saja beberapa saat yang lalu dia memaksa dirinya sadar bahwa Grace tak akan pernah tergapai. Bahwa dirinya akan selalu berdiri di tempat yang sama tanpa pernah ada perubahan sedikitpun.
__ADS_1
Mungkin kalau saja sekarang dia dibunuh oleh pembunuh Tiara, rasanya tak masalah.
Eh, Jangan! Abel masih mau berlama-lama dengan Grace.
"Aku harus kembali merencakan segalanya. Nama baik keluargaku dipertaruhkan di sini. Pada akhirnya aku harus berdiri lagi dan melawan semuanya sendiri," ujar Grace tersenyum simpul.
"Noona... Bolehkah aku mengatakan sesuatu?" tanya Abel lembut. Grace mengangguk. Pun dia mengambil napas dengan dalam terlebih dahulu sebelum menghembuskannya. Menurutnya saat ini adalah yang paling tepat.
Namun alih-alih mengatakan sesuatu, Abel malah menutup mata Grace dengan tangannya. Grace tersentak sesaat karena bingung dengan apa yang Abel lakukan. "Bel... Aku tidak bisa melihat apa-apa. Apa yang sedang kau lakukan? Kau bilang kau mau mengatakan sesuatu."
"Seperti ini..." Lirih Abel pelan menggantung kalimatnya untuk sesaat dan membiarkan hening menyelimuti.
"Sadarkah kalau selama ini aku selalu di sampingmu, noona? Mungkin karena aku terlalu dekat sampai tak terlihat. Seperti ini. Dan yang ada di matamu selalu saja Sean."
Abel yang tadii menutup mata Grace untuk memberikan visualisasi atas dirinya yang berada terlalu dekat sampai tidak disadari, lalu membukanya perlahan. Kembali membuat kedua mata mereka bersirobok. Sebelumnya Abel yang selalu tenggelam pada bola mata indah Grace, tapi kali ini Grace jelas kalah telak, ia tertarik ke dalam gemerlap isi galaksi yang berada di manik mata Abel. Menyadari sejauh apa berharganya pria yang ada di depannya. Beberapa hal yang dia simpan dan takutkan. Hal yang dia pegang erat-erat sampai harus membohongi diri sendiri.
"Bel, kau tidak boleh mencintaiku. Aku bukan seseorang yang kau bisa cintai seperti itu. Aku tidak mau menyakitimu. Di sampingku kau akan hancur lebur bahkan lebih dari sekadar melupakanku atau mendamba yang kau katakan selama ini. Kau terlalu berharga untuk mencintaiku."
Abel nyaris tak bernapas mendengar itu. Butuh mencerna apa yang Grace katakan berkali-kali. Tetapi masih saja abu-abu. Terlalu banyak tanda tanya dan maksud yang bercabang. Tapi yang Abel mengerti pasti, Grace mengatakan bahwa dia seolah barang pecah dan Grace adalah penghancur.
Ingin tertawa.
"Noona... Kau salah. Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak sebaik itu. Aku yang sebenarnya akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku begitu ambisius dan siap menyingkirkan apapun yang menghalangi jalanku. Tapi kau, adalah pengecualian. Aku tidak akan pernah menghancurkanmu, atau menyakitimu apapun yang terjadi. Mungkin karena pengecualian itu kau jadi melihatku seperti pria baik-baik."
__ADS_1
"Aku akan melakukan apapun untuk kebahagianmu, Grace."
Giliran Grace yang terdiam. Dari mata Abel ada kesungguhan di sana. Persis seperti kesatria dan ratunya. Mark anthony dan Cleopathra. Sayangnya kedua orang yang saling mencintai itu malah berakhir begitu tragis.
"Bel, apa kau serius?" tanya Grace akhirnya membuka suara setelah hening yang cukup lama antara mereka.
"A-apa maksudmu?" tanya Abel tergagap karena bingung sendiri. Grace punya banyak ekspresi, cara menatap dan tersenyum. Kali ini dia mendapatkan Grace yang seperti biasanya tetapi lebih intens dan mengintimidasi. Bertanya-tanya sejak kapan suasananya menjadi seperti itu.
"Kau-akan melakukan apapun, untukku?" tanya Grace mengulang lebih spesifik dengan penekanan.
Abel mengangguk pasti dengan mata bulat yang berbinar.
"Kau-akan selalu di pihakku?"
Abel kembali mengangguk. "Selalu. Untukmu, apapun."
Maka Grace tesenyum penuh keangkuhan dan segera mencium Abel. Melum*tnya seraya memejamkan mata.
Menyerang terlebih dulu-kembali. Tapi bukan karena amarah atau rasa cemburu yang tak pasti seperti sebelumnya. Abel benar-benar bingung, kaget. Tapi sungguh, ini ciuman Grace! Ini indah dan nikmat sekali. Maka pada akhirnya Abel memejamkan mata dan malah ******* lebih geram, menekannya dengan sangat bergairah, terlebih ketika perlahan tangannya mengusap tubuh Grace. Menyusuri lekuk indah yang sekarang tanpa jarak itu.
Sebuah kejutan ketika Grace malah terang-terangan mengarahkan tangan Abel untuk mengeksplor tubuhnya lebih dalam. Melepas ciuman mereka dan menatap Abel dengan sedikit terengah, dengan mata sayu dan agak bengkak sehabis menangis tadi.
"Abellano, kau mendapatkanku."
__ADS_1