RAHASIA KELAM

RAHASIA KELAM
AWARENESS


__ADS_3

Abel tahu betul bahwa Grace sedang dalam titik terlemahnya. Mungkin tidak banyak yang sadar tapi dia tahu segala hal tentang Grace. Menatap dan memandangi Grace adalah kegemarannya sejak dulu. Berawal dari keheningan dalam diam dan tersenyum simpul, ia sudah cukup puas hanya dengan melihat tawa yang terukir sampai pada tahap seperti saat ini, di mana secara gamblang menyampaikan perasaannya sekalipun tak melangkah sedikitpun untuk sesuatu yang lebih. Kebiasaan itu membuat Abel dapat mengenal Grace dengan jelas, tahu bagaimana gadis itu sebenarnya. Dan tentu Sean adalah kelemahan terbesar Grace saat ini. Gadis yang dia cintai lemah jika berhadapan dengan sesuatu yang harus menyangkut hatinya, sekalipun di luar dia terlihat tak peduli. Dan, sialnya orang itu bukan dirinya.


Saat ini, sebelumnya, bahkan hari-hari yang akan datang setelahnya, Tidak pernah ada wanita lain yang Abel biarkan untuk masuk ke dalam kamarnya kecuali Grace, bahkan ketika dia berpacaran dengan Tiara sekalipun. Ini kedua kalinya Grace berada di dalam kamarnya, namun kali ini dalam keadaan sepenuhnya sadar. Bahkan ini adalah keinginan Grace sendiri, bukan karena sedang mabuk dan Abel hanya sekadar menenangkan.


Abel mendapatkan kesempatan besar. Ia datang di waktu yang kelewat tepat di mana meluluhkan Grace menjadi hal mudah. Menggiring Grace ke atas kasurnya bahkan tanpa perlu dipaksa atau diminta karena kemauan gadis itu sendiri. Pria itu hanya perlu menelusup pada kesempatan dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Dia tahu dirinya berubah menjadi pria brengsek malam ini.


Tentu terbaca sekali apa yang akan terjadi. Tubuh Grace yang sudah terbaring pasrah di atas kasur dengan rambut teracak berantakan. Menatap ke atas di mana Abel mengunci pergerakannya dengan kedua tangan. Dua kancing atas terbuka menampakan pakaian dalam dan kulit putih pucatnya.. Seluruh fetish Abel terlintas di kepala ketika fantasinya sekarang menjadi nyata di depan mata.


"A-abel" Lirih Grace dengan iris berkilau dari mata bulat yang kecil itu. Abel suka. Gadis ini terlihat begitu ingin didominasi.


"Katakan sekali lagi," perintah Abel.


Grace teringat dengan apa yang pernah Jeff katakan tentang bagaimana Abel sebenarnya. Segala yang berada di luar dugaan Grace. Mungkin selama ini memang dia tidak benar-benar mengenal Abel. Abel yang dulu selalu dia anggap adik kecil manis yang ingin dia lindungi.


Grace masih terdiam karena tak tahu akan seperti ini jadinya. Tidak pernah mengira bahwa seorang Abel akan menyerangnya tiba-tiba. Menarik dan mendorongnya sampai dia tersentak tak bisa kemana-mana. Grace tahu pria itu berbahaya, tapi Abel tak pernah memperlihatkan sisi itu padanya.


"Katakan alasan kenapa kau selalu menolakku. Mengabaikanku? Kau mencintai Sean? Aku tahu. Aku tidak meminta jadi yang pertama. Tidak masalah, Nonna."


"Bel aku sudah bilang berkali-kali padamu sebelumnya kan?." Grace berusaha menjelaskan dan membuat Abel mengerti.


"Karena kau hanya ingin mengontrolku? Menggunakanku untuk ambisimu? Kalau begitu lakukanlah, tapi aku juga menginginkanmu. Bukankah itu adil?" Sebuah tawaran yang sangat menggiurkan.

__ADS_1


"Abel..."


"Kenapa? Mau mengatakan tentang aku terlalu baik untuk kau perlakukan seperti itu?"


Tebakan Abel benar. Semua orang tahu bagaimana Grace menganggap Abel adalah yang terbaik. Tidak seburuk orang-orang yang berada di sekitarnya, terutama dia sendiri. "Kau memang pria baik." Grace mengusap pipi Abel dengan lembut, membuat Abel memejamkan mata menikmati sentuhan itu. Abel lemah sekali jika Grace melakukan itu.


Tapi hal berikutnya yang terjadi adalah dia menyingkirkan semua perasaan itu. Tidak akan terjebak kembali dalam posisi adik kesayangan. Dia ingin lebih. Ingin memiliki Grace. Maka dia menepis tangan Grace dan menggenggam erat agar tak bergerak. Grace tersentak. "Aku terlalu baik? Kalau begitu aku tidak perlu menahannya lagi bukan? Aku juga memiliki banyak fantasi tentangmu. Menginginkanmu, noona. Sekalian saja aku jadi jahat agar kau melirikku, bukankah begitu?"


Detik berikutnya yang terjadi adalah kaki Grace yang menendang ke udara ketika Abel menindihi tubuhnya penuh. Kepala yang berusaha bergerak menghindar ketika lehernya habis dihisap, disesap, dikecup dan digigit oleh Abel. Setiap gerakan gusar Abel membuat Grace paham pria itu sangat menginginkan lebih.


Grace melenguh dengan punggung yang melengkung seperti busur saat jemari Abel mempermainkan tubuhnya. Ada deru nafas hangat yang bisa Grace rasakan ditengkuk lehernya saat ini, lalu sebuah lum*tan kuat yang membuat keningnya mengernyit, pelan-pelan menjadi des*han lirih karena rasanya sesak dan pilu secara bersamaan.


Kancing baju dibuka asal hingga terlepas dan jatuh ke lantai. Satu tangan Abel mengambil banyak waktu untuk meremas kulit perutnya, bersamaan dengan bibirnya yang terus menyesap kuat leher gadis itu. Kembali memberi stimulasi agar tubuh Grace semakin lemah tak berontak. Sentuhan seduktif yang bereaksi secara biologis sekalipun tak menginginkan itu.


Dua tangan Abel menungkup penuh dada Grace pada tangannya. Meremas, lalu mengulanginya berkali-kali seraya bibirnya mengecupi pipi Grace yang ada dalam pandangannya, memberikan banyak stimulasi pada wanitanya yang membuat tubuh Grace mulai merasa lemah. Beberapa saat tangannya bermain kuat di puncak dada Grace hingga warnanya berubah menjadi kemerahan, beberapa saat berpindah meremas dua dada itu hingga membuat Grace mendes*h, hingga tangan sebelah bersiap membuka celana.


"Pel-an."


Abel langsung terdiam mendengar itu. Memandang Grace tidak mengerti dan bertanya-tanya.


"Lakukan dengan pelan kalau kau memang akan melakukannya," ujar Grace pelan. Terlalu lirih dan terlihat lemah.

__ADS_1


"Kau serius memperbolehkanku?" tanya Abel bingung. Karena seharusnya Grace tidak seperti ini.


Gadis itu menatapnya begitu sendu. Bukan Grace yang angkuh seperti biasanya. Matanya berbinar seperti taburan bintang ada di sana, padahal kenyataannya adalah embun di mana air mata sedang ditahan. "Kalau aku meminta kau berhenti. Apa kau akan melakukannya?" Jemari Grace meremas lengan Abel seperti mencari kekuatan terhadap dirinya sendiri.


"Aku terbiasa untuk menghadapi banyak hal sekalipun aku tak ingin. Bukan karena aku pasrah dan membiarkannya begitu saja, tapi ada di mana aku mempunyai batas limit atau tak bisa bergerak karena memang harus menerima itu."


Mungkin tidak ada yang tahu tentang hal ini, tapi salah satunya adalah tentang dia dan Gery. Peran yang sedang dia lakoni mungkin bisa termasuk di dalamnya. Menjadi pengontrol demi ambisinya hingga membuat dia tertelan dalam lumpur seorang diri.


Abel berhenti dan benar-benar berhenti. Ia segera bangkit dari atas tubuh Grace. Duduk di tepi ranjang sambil menunduk dan mengacak-acak dirinya. Ingin memukul wajah sendiri agar sadar bahwa dia baru saja bertindak bodoh. Perlahan dia menoleh dan mendapati Grace masih dengan keadaan kacau, terlihat sekali baru diserang habis-habisan olehnya. Tapi masih terlihat cantik. Dan Abel menyukainya. Mata gadis itu memandang Abel lurus. Bahkan Abel dapat melihat refleksinya sendiri di sana.


"Kenapa kau berhenti?" tanya Grace tak mengerti. Apa yang Abel dan Jeff katakan tepat, Abel menginginkannya lebih dari yang pernah dia bayangkan. Bahkan mungkin Grace sendiri belum tahu sepenuhnya sejauh mana.


"Aku bisa menjadi orang paling jahat yang tidak pernah kau bayangkan, noona. Tapi untuk menyakitimu, aku tidak akan pernah melakukan itu."


Grace tertegun sesaat.


"Aku mencintaimu, Grace. Selalu. Dan ya, aku serius ingin melakukannya denganmu saat kau juga menginginkannya. Bukan sekadar pemuas gairah. Aku ingin lebih dari itu."


Grace perlahan mendekat. Lalu memeluk Abel, membawa kepala Abel ke lehernya. Abel tertegun seketika. Dia memang mengerti banyak hal tentang Grace. Tapi tidak semudah dalam sekali tatap dan duga. Grace begitu abu-abu sama seperti dirinya. Tanpa mengatakan apapun, Grace mengusap kepalanya. Membelai lembut rambutnya menyisipkan jemari pada helai demi helai. Kenyataannya Abel memang sangat menyukai itu.


Mungkin tempatnya akan selalu seperti ini. Menjadi adik manis untuk Grace. Maka ia harus menyingkirkan segala hal yang mengebu-ngebu perihal memiliki sepenuhnya, Abel hanya bisa memeluk balik. Membiarkan keadaan berjalan seperti semula. Menerima kembali, terjebak dalam lingkaran yang tidak akan ada habisnya.

__ADS_1


__ADS_2