RAHASIA KELAM

RAHASIA KELAM
IGNORED


__ADS_3

Kehadiran Jeff yang sudah sekitar satu jam di rumah Sean sama sekali tak dihiraukannya. Pria itu sibuk mencak-mencak sendiri berkutat pada ponsel. Sesekali berteriak kesal mengalahkan musik yang menggema memenuhi rumah besar itu. Tentu alunan musik kelewat kencang itu bukanlah masalah besar karna kedua orang tuanya bisa dihitung jari berada di rumah karena terlalu sibuk. Rumahnya hanya diisi oleh dirinya sendiri, kakaknya dan tentu saja Jeff sebagai penghuni tetap. Bahkan rasanya Jeff lebih sering tidur di rumahnya daripada pemiliknya sendiri.


Jeff tahu sahabat baiknya itu sedang kacau, walaupun itu karna ulahnya sendiri. Lagipula asalkan bisa mengosongkan isi kulkas Sean, dia tak masalah. Tentu yang diambil Jeff bukanlah makanan, tapi kaleng bir yang sibuk dia teguk sambil menonton acara televisi. Lebih baik lagi kalau berada di rumah Abel, ada penyimpanan minuman khusus. Luar biasa.


"Sial, Grace benar-benar mengabaikanku! Tidak membalas satu pun pesanku dan bahkan tidak mengangkat telepon!" Sean kembali memaki. Sudah lelah sekali mencoba.


Jeff menoleh sekilas lalu menghela napas pelan. Kembali menonton layar besar di hadapannya. Tapi rasanya kali ini dia tak bisa membiarkan Sean yang terlihat menyedihkan begitu saja. "Tentu saja! Apa yang kau harapkan dari bercinta dengan orang lain? Apalagi dia adalah salah satu dari kita. Kau ingin Grace berterima kasih dan menghujanimu dengan ciuman? begitu?"


Sean diam, tak dapat membantah. Jeff benar sepenuhnya. "Tapi aku membutuhkannya."


"Excuse me, Membutuhkannya?" Jeff menggeser posisinya. Memberikan fokus penuh kali ini pada Sean. Menatap dengan santai yang terkesan sarkastik namun penuh keseriusan.


Sean tak menjawab dan malah membuang muka. Tak berminat menjelaskan pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Jeff menjadi retoris.


"Kau melakukan dengan Emeli bukan hanya sekali, Sean! Berkali-kali. Bayangkan jika Grace mengetahui itu. Bahkan sebelum kau dan dia berkencan, kita sama-sama tahu bagaimana hubunganmu dan Emeli."


Ucapan itu menyudahi penyangkalan Sean.. Kalau diteruskan, jelas dia salah telak. Bukan tidak mau berdebat, tapi Sean tak mau mengakui itu. Dia tak ingin melepaskan Grace.


Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu dibanting dengan sangat kencang. Sean dan Jeff sudah sama-sama bisa menebak siapa pelakunya. Seorang gadis berambut panjang datang dengan berapi-api. Langsung melewati Jeff seolah pria itu tak pernah ada. Menuju tujuan utamanya, Sean.

__ADS_1


"Kenapa kau mengabaikanku? Kenapa kau tak membalas satu pesanpun dariku? Tak mengangkat teleponku?" teriak Emeli menggelegar. Seperti biasa, gadis itu akan merengek dan berceloteh.


Sean menghela napas berat. Sangat bukan waktu yang tepat untuknya bertengkar saat ini. Sudah cukup Grace mengabaikannya.


Dan Jeff sebagai penonton berusaha menahan tawa. Sedikit meloloskan kekehan yang sukses membuat Emeli melotot geram. Tentu saja menurut Jeff itu sangat lucu, masalahnya saat ini Sean melakukan sesuatu yang dilakukan Grace, mengabaikan. Kalau diminta untuk memilih antara Sean dan Grace, Jeff tentu saja memilih sahabatnya Sean. Tapi lain hal lagi jika memilih di antara Emeli dan Grace, Jeff berada di tim Grace garis keras.


"Pulanglah Emeli, aku sedang tidak ingin bertengkar." Sean memutar tubuhnya. Menghindari kontak dengan Emeli. Mengacak-acak rambutnya frustasi.


Tentu saja itu semakin membuat Emeli geram. Gadis itu Menarik Sean dengan kasar agar berhadapan dengannya.


"Seriously? After you f*ck me and then now? Wow! Kalaupun kau tidak mencintaiku, bisakah kau bersikap baik? Oh, aku lupa, kau hanya baik dan manis ketika di kasur. Harusnya kalau perlu aku merekam dan memberikan kepada kekasihmu yang sempurna itu. Agar dia tahu bagaimana Sean pacar yang baik ini sangat-sangat menikmatinya."


"Tidakkah kau sadar apa yang sedang terjadi sekarang? Grace tahu semua tentang kita! Aku benar-benar sedang kacau. Kalau saja dia tidak tahu, aku juga tidak akan mungkin mengabaikanmu. Kau tahu itu!" pekik Sean balik menjelaskan dalam satu kali helaan napas.


"Ya benar, kau selalu adil. Sekalipun untuk wanita keduamu." Emeli jelas sekali memberi sindiran pada Sean. Tapi juga tidak membantah apa yang Sean katakan. Semuanya benar. Selama berpacaran dengan Grace, Sean tetap berhubungan secara khusus dengannya.


Tapi bagaimanapun juga, jadi yang kedua tak pernah menyenangkan. Mungkin dalam beberapa kasus terlihat menyenangkan. Namun tidak untuk seorang Emeli, karna masalahnya ia sudah lama menginginkan Sean untuk bersama layaknya seorang kekasih, namun berakhir dengan semua kabar heboh yang mengatakan bahwa Sean berpacaran dengan Grace -anak dari Mayor Shadowfalls.


Jadi bisa dibilang seharusnya dialah yang mendapatkan Sean. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Emeli? Berakhir menjadi persinggahan ketika Sean sedang bosan atau senggang. Namun bagaimanapun dia tetap bertahan karna satu-satunya yang dia inginkan adalah pria brengsek bernama Sean.

__ADS_1


"Kau pikir ini kemauanku? membiarkan Grace mengetahuinya? sehingga kau memperlakukanku seperti ini? Salahkan Tiara atas semua ini!"


Sean dan Jeff terkesiap. Memandang Emeli dengan dahi mengerut dan alis menukik bingung. "Apa maksudmu?" tanya Sean menyuarakan apa yang ada di benak Jeff juga.


"Apa kau tahu? Wanita sialan itu lah yang sudah memberitahu hubungan kita pada Grace!"


"Tunggu! kau bilang Tiara tahu tentang kita?"


"Yes. Long story. Dia melihat ponselku lalu_"


"Brengsek!" Sean menyela dengan makian. Cukup membuat Emeli tersentak. "Apa untungnya dia memberi tahu Grace? Bukankah dia juga tidak menyukai Grace?"


Emeli mengangguk. "Benar. Tapi Tiara itu penjilat! Lagipula, bukankah kita semua seperti itu secara insting? kita akan melakukan apapun yang membuat aman dan merasa diuntungkan? Pasti sesuatu terjadi padanya hingga dia mengatakannya pada Grace"


"Untunglah dia sudah mati," tambahnya lagi. Emeli bukannya tidak menyukai Tiara, bisa dibilang hubungan mereka cukup baik walaupun tidak sedekat dia dan Anya, setidaknya tak seburuk dengan Grace atau Karin. Tiara itu berada di tengah-tengah, namun kadang itu yang perlu ditakuti karena dia bisa menyerang ke sisi mana saja.


"Dia memang pantas mati." Gumam Sean pelan namun masih dapat terdengar.


Dalam sekali ucapan, Jeff menatap Sean dengan intens. Menyaksikan yang dia lihat. Sean sahabatnya, tersenyum ketika mengatakan itu.

__ADS_1


__ADS_2