RAHASIA KELAM

RAHASIA KELAM
PROBLEM


__ADS_3

Grace menyisir rambutnya dengan jemari. Membiarkan dirinya tenggelam dalam hiruk-pikuk dentuman musik dan tegukan yang dilayangkan berkali-kali guna membasahi kerongkongan. Jemarinya meraih gelas berisi cairan berkadar alkohol tinggi, mendekatkannya pada ranum, lalu meneguknya perlahan.


Panas membakar tenggorokan dan membuat kepala berputar pening mencari kenyamanan semu. Terus-menerus menjejalkan alkohol itu ke mulutnya. Tak terhitung sudah berapa banyak yang menggenang di dalam perut. Malam ini Grace membutuhkan banyak alkohol untuk menghilangkan kesadarannya.


Dia hanya ingin menjadi gila dan lepas malam ini. Melupakan kenyataan bahwa kekasih tercintanya kembali melakukan hal bodoh. Menyakiti hatinya. Rasanya ia sudah muak dengan semua ini, namun karna satu atau dua hal yang harus membuatnya tetap bertahan dengan keadaan ini. Pun membayangkan bagaimana orang lain berbisik nyalang menjadikan hubungan mereka sebagai konsumsi umum. Grace dan Sean, pasangan sempurna yang terkenal itu sebenarnya begitu bobrok. Rusak dan hancur.


Sama persis dengan hubungan sosial yang Grace ciptakan dengan yang lain. Apa itu namanya? Ah ya, persahabatan. Sesuatu yang lebih mirip seperti perkumpulan remaja konyol yang suka bersenang-senang namun siap menerjang atau menyerang diam-diam jika dibutuhkan. Bahkan terkadang terang-terangan. Pada saatnya, kalian akan mengerti seburuk apa keadaannya.


Yang pertama tentu saja Sean dan Emeli. Entah berapa kali mereka melakukan hubungan di belakang Grace, bahkan gadis itu sudah tidak dapat menghitungnya. Yang jelas Grace memang sudah menyadari bahwa Emeli memiliki perasaan khusus pada Sean, dan semua yang mengenal mereka mungkin tahu akan hal itu.


Bisa dibilang hubungan Grace dan Sean itu terbilang tidak biasa. Mereka sama-sama kacau. Jika kalian bertanya apalagi selain tentang Emeli dan Sean? maka kalian harus menunggu sejenak. Atau boleh menebak-nebak bagaimana dua orang itu berada dalam toxic relationship.


"Noona, di sini kau rupanya! Aku mencarimu kemana-mana." Abel baru saja datang dan langsung memberi kecupan singkat di bibir Grace sebelum bokongnya berakhir mendarat di kursi.


Grace memutar bola mata jengah sambil menghela napas malas. Datang lagi satu masalah. Beruntung dia sudah masuk dalam tahap setengah kesadaranyya yang hilang entah kemana. Jadi hanya perlu mengabaikan Abel.

__ADS_1


Abel memesan minuman. Kepalanya mengangguk-angguk dan kakinya mengetuk bersamaan dengan jari telunjuk yang berada di atas meja mengikuti irama musik. Setelah bartender memberikan minumnya, Abel meneguknya, menyipitkan mata sejenak ketika tegukan terakhir pada gelas pertama lolos ketenggorokan, lalu menoleh ke arah kanan dengan mata tertutup. Rasa sepatnya sedikit menyiksa.


Setelah lidahnya mampu beradaptasi, perlahan Abel membuka mata lalu kembali menatap gadis di sampingnya yang terlihat sangat kacau. Abel tahu jelas, itu pasti karena Sean.


Bukannya berusaha menenangkan dengan ucapan manis dan tatapan iba, Abel malah tersenyum tipis melihat Grace yang kacau. Lagipula dia tahu bahwa percuma saja melakukan itu padanya. Tentang Sean dan Grace adalah sesuatu yang orang luar sulit mengerti.


Pun Abel melakukan hal lain yang menurutnya perlu dilakukan. Mencondongkan tubuhnya dan kembali mendaratkan bibirnya di bibir Grace. Tapi kali ini berbeda, bukan sekedar kecupan singkat, namun sebuah lum*tan bergairah. Grace mengerang protes dan malas sementara Abel asik menutup mata. Membuka-tutup mulutnya sambil menahan tengkuk Grace agar memperdalam ciuman mereka. Melilit kedua lidah dalam beberapa saat. Lalu berhenti ketika sudah tidak mendapatkan balasan. Mengeluarkan lidahnya dengan saliva yang terjalin antara mulut Grace dan mulutnya. Seksi sekali.


"Bel, orang bisa salah paham kalau melihat kita. Berhentilah menciumku dengan tiba-tiba seperti itu." Grace kembali meneguk minumannya. Lebih banyak.


"Abel...Eung!." Grace mendorongnya menjauh. Melepas pelukannya.


"Ku kira kau benar-benar sudah mabuk." Abel terkikik.


"Jangan menyiapkan rencana macam-macam" ancam Grace buru-buru karna takut dia benar-benar akan ambruk.

__ADS_1


Dengan wajah inosen yang mirip kelinci itu, Abel melempar kalimat yang sangat tidak sesuai. "Kenapa? Bukankah Sean kembali melakukannya dengan Emeli? Ayolah! Kau juga berhak bersenang-senang, ini belum seberapa. Mungkin seperti yang kau katakan tentang Tiara, apa kau mau mencoba tersedak milikku juga?"


"Jangan mencoba mengambil kesempatan! aku sedang banyak pikiran dan jangan menambahnya!"


"Tidak. Aku justru ingin membantumu melupakannya." ujar Abel dan mulutnya yang kelewat pintar itu.


"Aku bukan Tiara, Bel. Jangan jadikan aku pelarian hormon puber mu itu."


Mendengar itu, Abel terdiam sesaat. Jelas terkejut ketika Grace membawa mantan kekasihnya yang telah mati ke dalam percakapan mereka. Lalu satu kekehan sinis lolos dari bibir Abel, "Jangan bercanda Grace. Kita berdua sama-sama tahu mengapa aku berkencan dengannya."


Grace menoleh terkesiap, menatap Abel dengan mengintimidasi. "Hentikan itu!" ujarnya buru-buru. Benar-benar tak ingin membahas itu.


"Kenapa?" Abel jelas malah menantang. Semakin menambah rasa pusing di kepala Grace. Pun gadis itu langsung meneguk minumannya lagi.


"Grace, tidakkah kau berpikir bahwa kita berdua ada hubungannya dengan kematian Tiara?"

__ADS_1


__ADS_2