
"Sial! Abelano!!" seru Karin pelan sambil matanya menatap terpaku ke arah lapangan.
Grace yang tak mengerti sekaligus penasaran, langsung menoleh ke arah sampingnya. Ia terkejut saat melihat Abel yang berkeringat habis bermain basket dan sekarang sedang mengganti pakaianya di pinggir lapangan. Pria itu seenaknya membuka baju di tengah lapangan dan menggantinya dengan hodie kesayangannya.
Masalahnya Abel tak langsung mengenakan hodienya. Dia terlebih dulu mengambil air mineral dalam botol dan membasahi kepalanya yang kepanasan sehabis bermain. Membuat gadis-gadis yang sengaja menonton pertandingan karena adanya Abel dan Jeff sudah menjerit seperti kesetanan sekarang. Atau sebagiannya persis seperti Karin yang membuka mulut terpana kehabisan kata.
Begitu pun dengan Grace yang juga sama terpananya. Tapi tak mengalami kedua reaksi itu. Entah kenapa dia merasa tak suka. Bola matanya memutar muak. "Apa kau bercanda?" gumam Grace dengan sakarstik.
Karin mengangguk masih dengan tatapan terpana. Matanya tak sedikitpun teralih. Tak berniat berpaling sama sekali. "Benarkah itu Abel yang sama dengan yang selama ini selalu mengikuti kita kemana-mana? Bukankah beberapa saat lalu dia masih anak kecil yang berada di dalam kelompok kita? Sejak kapan dia memiliki tubuh seindah itu?" Karin mengoceh panjang lebar.
Sejujurnya, Grace menyetujui semua ucapan Karin.
Oh,shhiit! Dia seksi sekali.
"Grace, coba kau lihat! dia memiliki eight pack! Bukan six pack! Ergh-aku ingin menjilatnya. Apa menurutmu Tiara sudah sering mencicipinya?" tanya Karin di akhir kalimat sambil menoleh pada Grace secara tiba-tiba.
Grace terkesiap. Menjadi canggung. Namun dia berusaha menutupinya seolah tidak peduli. Mengedikan bahu dengan santai. "Aku tidak tahu. Lagipula itu bukan urusanku." Grace memang pandai bersandiwara.
Karin menganggukan kepalanya. "Benar juga, kau punya Sean. Siapa juga yang punya waktu memikirkan pria lain ketika memiliki Sean? Atau Abel atau Jeffano, atau-"
"Kau berniat menyebutkan semua nama pria tampan di sekolah?" sarkas Grace yang hanya dibalas dengan cengiran lebar dari Karin.
"Tapi, apakah kau tahu kalau Abel menyukaimu? Tunggu, kau tidak mungkin tidak tahu. Kau kan tahu segalanya! Lagipula itu terlihat sekali."
Grace tersenyum angkuh. "Tentu saja aku tahu. Hal biasa."
Teriakan para gadis kembali terdengar kencang. Grace langsung melirik memastikan Abel sudah memakai hodienya atau belum. Lalu mendapati pria itu tengah tersenyum dengan sombong ke arah gadis-gadis yang meneriakinya. Jelas terlihat begitu angkuh, tapi malah terlihat begitu mempesona. Jeff yang ada di sampingnya hanya tertawa saja melihat adik kecilnya sekarang sudah tahu cara menggoda wanita. Seingatnya, dulu Abel hanya pria tampan yang pemalu.
"Sial!." Gumam Grace kesal melihat itu.
"Ada apa?" tanya Karin
Grace buru-buru menggelengkan kepala. "A-aku baru ingat harus menemui Sean dulu, ada urusan. Kau bisa pulang sendiri? Supirku ada di parkiran. Kau bisa Pulang dengannya. Aku akan bersama Sean"
Karin menganggukan kepala tanpa curiga sedikitpun. Lalu gadis itu segera pergi beranjak dari sana. Grace tersenyum melambaikan tangannya. Memasang wajah semanis mungkin. Danketika telah memastikan Karin benar-benar pergi, raut wajahnya langsung berubah. Melangkah dengan mengebu-ngebu ke pinggir lapangan tempat di mana Abel dan Jeff berada.
"Ikut aku!" ujar Grace begitu saja ketika sampai di antara Jeff dan Abel. Gadis itu Menepuk dada Abel dengan kencang sehingga pria itu mengaduh. Lalu berhalau begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Jeff dan Abel saling bertatapan bingung. Jeff mengedikan bahunya menandakan dia tak tahu apa-apa. Lalu membiarkan Abel pergi begitu saja setelah memiringkan kepalanya ke kanan menandakan kebingungan. Tapi Jeff memandang punggung Abel menjauh dan tersenyum sinis memperhatikan kedua orang itu.
Grace berhenti di belakang gudang olahraga dengan Abel yang mengikuti dari belakang. "Ada apa noona?"
Grace menarik Abel dengan sigap dan mendesak pria itu sampai punggungnya menyentuh tembok. Lalu berjinjit dan menyerang tiba-tiba dengan ciuman. Sebuah lum*tan.
__ADS_1
Abel tentu saja terdiam kaku. Membeku karena dicium tiba-tiba. Tapi lama-kelamaan dia ikut menutup matanya. Menikmati ciuman itu yang berubah menjadi intens ketika Abel memegang kendali -balik mel*matnya dengan penuh penekanan. Lebih dari apa yang dilakukan Grace. Lengannya melingkar di pinggang gadis itu dan menariknya agar mendekat. Bukan terdesak seperti seharusnya, Abel malah bersender nyaman ke tembok dengan tubuh Grace dalam kuasanya.
Menurut Abel ini adalah sebuah keuntungan. Bukan lagi paksaan. Ia menikmati bagaimana Grace yang terengah menyamakan ciumannya. Kedua saliva yang saling menyatu ketika lidah mereka beradu. Ini adalah pertama kalinya Grace mencium Abel terlebih dulu, hingga membuat hasrat dalam diri pria itu bergejolak hebat. Ia mengigit bibir Grace karena terlalu bersemangat. Menjilat sedikit darah yang keluar dari sana.
"Abel-h berhenti." Grace mendorong Abel pelan ditengah Abel yang masih menikmati ciuman mereka, tapi mendengar suara Grace yang terengah dan permintaan gadis itu, dia langsung berhenti.
Abel tidak pernah mau menyakiti Grace.
Mereka mengatur napas masing-masing. Grace menunduk sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Abel juga menunduk, tapi menatap Grace. Kemudian tangannya mengusap bibir Grace yang bengkak, merah dan basah. "Kenapa?" bisik Abel lembut tanpa berhenti menatap gadis itu.
"Kenapa tiba-tiba menciumku?"
Grace termangu sendiri dengan pertanyaan itu. "Memangnya kenapa? Kau tidak suka?" tanya Grace balik-menantang. Wajahnya kembali terlihat angkuh seperti biasa.
Abel tersenyum simpul mendengar itu. "Tentu saja aku menyukainya. Kau tahu itu. Bahkan aku sempat berpikir untuk menarikmu ke dalam dan menyetubuhimu." ujar Abel melirik ke arah gudang olahrga.
Grace terkesiap. "J-jangan bercanda. Dan jangan lakukan itu!" kecam Grace buru-buru.
Abel terkekeh. "Aku tidak akan melakukannya. Apa kau masih meragukan pria yang bahkan ketika kau mabuk dan kita berada di ranjang yang sama, aku tetap tidak melakukan itu padamu?"
Kalimat itu sukses membuat Grace bungkam. Lalu akhirnya menghela napas panjang. "Kau benar. Maaf."
"Sekarang katakan padaku, kenapa kau menciumku tiba-tiba? Jelas sekali kau terlihat marah."
Satu alis Abel naik. Menyadari kebohongan telak pada ucapan Grace. "Noona, kau memang pintar bersandiwara, tetapi semua orang tahu bagaimana dirimu. Melakukan sesuatu begitu saja? Bertindak tanpa arah? Sangat bukan dirimu".
Grace menggigit bibirnya. Mendengus kesal dan mengangkat kedua tangannya. "Oke! Oke! Aku jelaskan. Aku sendiri bingung kenapa. Tapi aku tidak suka melihat kau mempertontonkan tubuhmu seperti itu."
Abel terlihat terkejut mendengar pengakuan Grace. Sulit menutupi raut senangnya hingga senyumnya terukir sempurna.
"Jangan tersenyum seperti itu!" protes Grace
Abel menggeleng. "Sulit sekali menutupi senyum ini. Apa kau cemburu? Apa kau tahu betapa senangnya aku?"
"Aku tidak cemburu, Abel!"
Sekarang Abel mengangguk-anggukan kepalanya. "Iya. Kau tidak cemburu. Benar."
Dan Grace tahu itu hanya sakarstik. Pun dia kembali memukul Abel yang dibalas pekikan mengaduh. "Jangan memukulku begitu. Tubuh ini asetku tahu. Lagipula-" Abel menarik Grace kembali ke pelukanya. Kedua tangannya melingkar di pinggul gadis itu.
"Bukankah kau menyukai Tubuhku?"
"Wah! adik kecil sekarang sombong sekali."
__ADS_1
"Adik kecil?" Abel tertawa. "Aku suka semua panggilan yang kau berikan padaku, membuatku merasa spesial dimatamu. Tapi juga membuatku selalu merasa diperlakukan seperti anak-anak. Apa ini semua tidak cukup? Aku selalu berusaha menunjukan diriku yang dewasa."
Grace melepas pelukan Abel. Membuat jarak antara mereka. "Apa yang kau inginkan ketika aku melihatmu seperti itu?"
"Noona tahu apa maksudku."
"Bel, aku memiliki Sean dan aku tak pernah ada niat sama sekali untuk berpisah dengannya," tegas lagi.
Kalimat yang kembali Abel dengar.
"Kau tahu satu-satunya alasan aku melakukan semua ini adalah untuk mengontrolmu. Memanfaatkan perasaanmu padaku agar suatu saat ketika aku butuh, aku dapat menggunakanmu. Bukan cinta."
Abel hanya tersenyum sendu. "Aku tahu. Kau telah mengatakan itu berkali-kali. Secara terang-terangan."
"Aku harus pergi. Aku ada janji untuk menemui Sean." Sebelum semuanya semakin panjang, Grace segera pergi menyingkir dari sana.
Meninggalkan Abel yang menatap punggung itu menjauh.
"Mau rokok?" tawar seorang pria yang cukup membuat Abel tersentak. Menoleh dan menemukan seseorang yang berada tidak jauh dari sana.
"Aku tadi tidur di dalam gudang. Saat ingin keluar melihat kalian sedang berciuman jadi aku menunggu sampai selesai. Turut berduka cita atas apa yang terjadi barusan."
Grace segera melangkahkan kakinya. Berjalan menuju gedung sekolah untuk masuk ke kelas Sean. Pikirannya berusaha menyingkirkan kejadian tadi. Setiap dia menyakiti Abel, entah kenapa dia merasa begitu bersalah. Tapi dia harus tetap berada di jalur yang ia tentukan. Karena ketika dia kehilangan kendali, hidup akan memakannya habis. Grace tidak ingin berakhir bunuh diri seperti Ibunya. Bahkan kejadian mengerikan sekaligus menyakitkan itu tidak pernah bisa hilang dari kepalanya.
Ponselnya berbunyi. Membuyarkan lamunannya. Ada panggilan dari nomor tak dikenal. Kening Grace berkerut namun tetap menerimanya.
"Halo," ujar suara berat di sebrang sana yang terlihat aneh. Suaranya seperti robot. Seperti suara yang sengaja dibuat dengan alat tertentu untuk menutup suara asli.
"Ya?"
"Berikan aku isi flashdisk yang kau miliki."
Grace menegang seketika. "F-flashdisk apa?" tanyanya pura-pura tak tahu.
Suara aneh itu tertawa sinis. "Kirimkan isinya ke emailku. Jika tidak, aku pastikan bahwa semuanya akan jadi semakin buruk untukmu."
Panggilan itu putus begitu saja.
"Halo! Halo! Persetan!"
Sebuah pesan masuk dari email yang memberikan peringatan di kematian Tiara.
"Berikan isinya padaku, atau kau akan menyesal."
__ADS_1