
Beberapa orang memilih terjebak untuk sebuah pilihan cermat daripada tenggelam pada arus yang mengombang-ambing sampai menertawakan bagaimana kelemahannya terlihat jelas. Atau karena mereka tak menyukai diri sendiri dan setengahnya mungkin tidak tahu bagaimana diri mereka sendiri seperti apa. Mengerti dan mengenal diri sendiri kadang menjadi hal yang paling sulit.
Satu, dua dan tiga. Mari kita hitung berapa banyak orang yang menggunakan topeng. Atau berapa banyak topeng yang dikenakan oleh perorang. Bukan berniat menakuti, namun terkadang memang harus begitu demi mempertahaknkan sebuah kekuasaan dan citra pemegang kendali, atau mungkin lebih dari sebagian orang melakoninya karena sebuah keadaan.
Malam ini hujan disertai petir, cuaca dingin menusuk pada sebuah kaki yang berlarian tergesa hingga membuat kecipak pada ujung dress yang dikenakan. Tentu saja bersangkutan dengan Rabella. Sudah melewati satu malam dan meranjak untuk malam kedua, Rabela masih berada di apartement Jeff. Kali ini meringkuk manis di bawah selimut putih yang sudah acak akibat cengkraman keras ketika hentakan pinggul menyiksanya dalam gairah. Nyeri, pusing dan kepalang nikmat. Mungkin jika dijabarkan, kebodohan sudah merajarela dalam diri Rabela jika itu menyangkut Jeff.
Kepala pria itu pusing, terpaksa bangun karena bunyi bel ditambah ponsel yang terus berdering berkali-kali. Rambut hitam legam yang panjang sampai mata namun belahannya menunjukan dahi begitu jelas, dia singkap dengan jemari yang menyisir ke belakang. Jika kau mencari keindahan dari sebuah pagi, siang, sore atau malam yang paling indah dan menggoda adalah ketika kau melihat Jeff terbangun dari tidurnya. jawabannya. Seksi sekali.
Tangannya memijat pangkal hidung menemukan nama Grace di layar ponselnya. Sudah bisa ditebak karena Jeff memang menunggunya. Tapi itu tetap membuat Jeff cukup kesal. Bukan karena Grace mengganggu tidurnya, tapi karena gadis itu membutuhkan waktu lama untuk datang. Masih dengan kepala pusing, dia bangkit dari ranjang empuknya. Berdiri dengan berhati-hati agar tidak menginjak jarum suntik yang berserakan di lantai.
Ketika sampai pintu, Jeff segera membukanya karena tahu Grace pasti akan memandang sinis dengan kesal. Tak banyak bicara tapi dari rautnya saja cukup mematikan. "Halo Grace. Good_" Jeff menggantung ucapannya. Mengusap matanya sambil melirik ke kanan dan kiri, pukul bersama sekarang? "Night," sambung Jeff ketika berhasil menemukan letak jam dindingnya sendiri.
Grace yang berada di depan pintu dengan kedua tangan yang dilipat didada, melihat wajah pria itu dengan geram. Sama sekali tak berniat menurunkan pandangannya.
"Aku tahu kau baru saja bangun tidur, tapi setidaknya pakai dulu baju. Atau celana. Atau tarik selimut untuk menutupi tubuhmu. Kau benar-benar telanjang? Menemuiku?" Grace menggelengkan kepalanya tak habis pikir dan langsung bergegas masuk.
Jeff hanya tersenyum smirk dan memberikan kekehan singkat. "Kau dulu menyukainya," ujar Jeff sambil menutup pintu. Kemudian dia mengikuti Grace dari belakang.
Grace langsung duduk begitu saja dan menyilangkan kakinya. Diikuti dengan Jeff yang duduk di sebrangnya tanpa rasa bersalah. Gadis itu sampai menghela napas berat- kehabisan kata. Pun dia langsung bangkit dari sana menuju kamar Jeff sambil mengoceh. "Kau harus memakai sesuatu, bodoh. Di Luar hujan deras. Dingin. Kau bisa sakit! Wah, apa sampai aku yang harus mengambilkannya?"
Jeff tersenyum simpul dalam diam.
Sementara Grace terkejut ketika membuka pintu kamar Jeff. Rabella tertidur dengan pulas di sana. Entah bisa dibilang tidur atau tidak. Jarum suntik, obat penenang, dan harum sp*rma yang menyerbak. Grace tahu jelas apa yang habis mereka lakukan. Dia menoleh dan langsung memberikan tatapan mengintimidasi pada Jeff yang malah tersenyum begitu manis seperti tanpa dosa.
Sulit menghadapi pria ini yang sepertinya sudah kehilangan kewarasan. Grace akhirnya tetap masuk. Berjalan dengan hati-hati membuka lemari dan mengambil sebuah selimut lain yang ada di sana. Segera kembali ke ruang tengah dan menutupi tubuh Jeff. "Berhenti bertindak bodoh," ujar Grace dengan raut begitu khawatir.
Jeff yang sedang duduk itu mendongak, menatap Grace dan tersenyum. Tak dapat diartikan apa arti senyuman itu. "Kau masih sangat peduli denganku?"
Gadis itu terkesiap dan tergagap beberapa saat sebelum dia mengambil alih kendali penuh terhadap dirinya sendiri. "Aku lebih peduli pada gadis yang ada di kamarmu. Siapa namanya? Rabella? Jeff, kau gila? Dia bisa mati!"
"Mana yang lebih kau takutkan? Aku yang mati atau dia yang mati?"
"Jeff_"
"Aku jadi pembunuh atau aku mati mengenaskan?"
Entah sudah berapa kali Grace menarik napas dan menghela dengan begitu berat. Oksigen di sekitarnya serasa menipis dengan cara yang tidak benar.
Dan pertanyaan yang Jeff berikan, jawabannya adalah iya untuk semuanya. Tapi sama seperti yang sudah-sudah, ada beberapa hal yang tidak perlu diungkapkan.
"Kau sudah mendapatkan yang aku minta?" tanya Grace sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Jeff hanya tersenyum karena untuk Grace, pertanyaannya retoris. "Ambil saja di samping tv." jawab Jeff sambil mengarahkan dengan dagunya.
Grace melirik benda berbentuk persegi panjang yang kecil itu. Dia segera mengambilnya dan senyum terlukis di sana.
"Rabela yang mengambilnya. Dia gadis yang pemberani. Aku menyukainya. Sama sepertimu."
"Aku akan mengirimkan bayarannya ke rekeningmu. Lalu, bagaimana dia mendapatkannya?"
"Mudah saja, dia berpura-pura sebagai teman sekelas Tiara yang bersedih. Datang mengunjungi rumah temannya yang baru saja meninggal. Dan membuat Ibunya tersentuh, lalu membiarkan dia ada di kamar dan wush! Flashdisk itu ada di tanganmu."
Grace mengerti jelas. Karena saat ini Grace dan yang lainnya sedang tidak bisa sembarang datang apalagi sendiri, karena itu akan membahayakan mereka sendiri. Banyak mata yang mengawasi dan membuat spekulasi acak.
"Jadi, kau benar-benar melindungi Sean, huh? Aku mendengar percakapanmu dengannya."
"Kau tidak seharusnya mendengarkan itu."
"Tapi kau harus tahu. Aku dan Sean melakukannya bersama."
"Aku tahu."
"Jadi siapa yang akan kau lindungi, Grace? Aku atau Sean?" tanya Jeff dengan serius. Matanya menatap gadis itu dalam. Kali ini tidak berniat sama sekali untuk merayu atau sekadar menggoda. Dia membutuhkan sebuah jawaban.
Hening.
Raut wajah Jeff terlihat begitu sedih sampai akhirnya dia tak bisa menahan tawa lagi. Tertawa terbahak-bahak sampai membungkuk. Padahal tak ada yang lucu sama sekali. Berbeda dengan Grace yang masih terlihat tenang.
"Akan selalu berada di pihaknya? Lucu. Ingatkan aku kata-kata ini setelah kau meninggalkannya. Sama seperti kau membuangku begitu saja dulu," sarkas Jeff tersenyum sinis.
Rahang Grace mengeras. Kedua tangannya mengepal erat. Berusaha mengontrol diri. "Jangan banyak berharap. Kau dan Sean berbeda."
"Benarkah? Bukankah semua orang di matamu sama saja? Semua hanya minion untukmu. Alat untuk mendapatkan apa yang kau inginkan?."
"Kau merasa seperti itu? Wah! Padahal kau tahu itu, tapi kau tetap melakukannya. Terima kasih flashdisknya, minionku." Grace tak berniat untuk berdebat lagi. Dia harus melakukan banyak hal. Istirahat adalah hal yang mustahil untuknya.
"Aku tidak ingin bayaran uang. Aku ingin kau di atas tempat tidurku."
"Kau pikir aku mau membuat diriku mati? Euw!"
Jeff mengedikan bahunya. "Tentu saja. Apalagi kalau aku mengajak Sean dan Abel. Kau akan menjadi pesta terindah yang kami punya."
Entah kalimat apa yang harus Grace lontarkan. Kata apa yang dapat mendeskripsikan betapa brengseknya Jeffano. "Kau benar-benar iblis."
__ADS_1
Jeff tersentak mendengar kalimat itu keluar dari mulut Grace bersamaan dengan petir dan kilat. Perlahan dia tersenyum menyeringai. Ingatannya mengacu pada pesan yang dia dapatkan. Semuanya sangat menunjukan bahwa Grace adalah pelakunya. Kata-kata Grace dan semua yang gadis itu tahu.
"Mungkin orang lain tidak tahu, tapi aku tahu apa saja yang telah kau lakukan. Kita semua tahu. Bahkan dipemakaman Tiara, Anya sampai berkata seperti itu. Awalnya aku sependapat dengan Karin, tapi lama-lama aku berpikir Anya ada benarnya. Bukankah kau yang menyebabkan kematiannya, Jeff?"
Jeff tidak menjawab. Hanya terkekeh. Karena jawaban iya atau tidak sama-sama akan percuma.
Mereka berdua sama-sama menaruh rasa curiga saat ini.
"Kalau kau mengira aku yang terburuk dari kita semua, jelas kau salah. Tunggu sampai kau tahu apa saja yang Abel bisa lakukan."
Grace tertegun ketika Jeff mengatakan itu. Bibirnya bergetar. "Kenapa kau membawa nama Abel dalam percakapan kita?"
Jeff mengedikan bahu santai. "Kau selalu menganggap dia yang paling baik di antara kita semua. Adik yang baik?" Jeff terkekeh.
Lalu beberapa saat kemudian kembali menatap Grace dengan licik. "Kau tak pernah tahu batapa dia ingin sekali menyetubuhimu. Menginginkanmu lebih dari yang pernah kau bayangkan."
Grace tahu. Dia tahu Abel menyukainya. Dia tahu Abel menginginkan dirinya berada diatas ranjang bersamanya. Yang dia tidakk tahu adalah mengapa Jeff tahu akan hal itu?
Dan entah kenapa Jeff mengatakannya seolah itu adalah hal yang begitu menakutkan. Grace masih tak mengerti dan penasaran secara bersamaan.
"Aku harus pulang." ujar Grace mengakhiri ini semua. "Dan Jeff, berhenti memanfaatkan Rabela seperti itu."
"Kenapa? Bukankah kita sama? Manpulatif adalah nama tengah kita, Grace Harmon"
Mereka sama. Tapi Grace tahu ada beberapa hal yang berbeda dan dia tidak ingin Jeff seperti dirinya.
Sementara Jeff tahu jelas bahwa dia lebih buruk dari itu. Lebih dari yang Grace bayangkan. Dia tahu bahwa dia tidak memiliki apapun yang membuat gadis itu bertahan di sampingnya. Terlebih atas apa yang pernah dia lakukan.
Grace berusaha tak mempedulikannya. Berbalik segera menuju pintu dan Jeff hanya duduk menatap sosok itu pergi. Tatapan yang begitu sedih dan sendu.
"Grace...." panggilan Jeff menghentikan langkah kakinya tiba-tiba. Tapi tidak juga berbalik. "Kenapa kau mengatakan bahwa aku pembunuh Tiara? sementara kita sama-sama tahu siapa yang berkemungkinan besar membunuhnya."
Tak ada balasan. Hanya hening sampai Grace kembali melangkah dan benar-benar keluar dari pintu.
Mengenai pertanyaan Jeff tentang dirinya melindungi Sean atau Jeff, jawaban sebenarnya adalah mungkin dia melindungi dirinya sendiri dari dia sendiri pula.
Dan tentang siapa yang paling jahat, Grace tahu itu bukan Jeff atau siapapun. Itu adalah dia sendiri. Tapi dia tak akan pernah bisa berhenti karena semua itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Pintu kamar Jeff terbuka. Rabela keluar dengan tubuh yang tertutupi selimut. Memandang Jeff dengan wajah bingung. "Jeff, itu siapa?"
Jeff tersenyum simpul. "Seseorang yang pantas mati, tetapi juga harus tetap hidup"
__ADS_1