
Suci paham mengapa ia bisa pingsan, ingin rasanya ia tertawa namun ia tak ingin disangka gila. Bagaimana tidak ia sangat ingin menertawai dirinya yang bodoh, dirinya yang masih terjerat oleh masa lalu ini.
Iya suci pingsang karna traumanya yang telah terkubur itu bangkit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kantor..
Suci telah pulih dan ia kembali bekerja seperti biasa. Awalnya kristian menolaknya, ia ingin suci lebih banyak istirahat. Namun suci menolaknya, akhirnya kristian menyetujuinya dengan enggan.
Kristian, beberapa kali menanyai keadaannya itu membuat suci kesal dan muak. Siapa yang tak muak dipertanyakan hal yang sama setiap lima menit. Bahkan saat makan siangpun kristian menyuapi suci. Suci makin heran dengan bosnya ini.
Kini sudah waktunya pulang, dan kristianlah yang mengantarnya. Awalnya suci merasa tak perlu, namun ya lagi-lagi kristian memaksanya. Suci yang lelah dengan paksaannya, akhirnya setuju.
Mereka telah tiba disebuah rumah sederhana, rumah itu harus melewati gang dan mobil tak bisa lewat. Suci awalnya ingin pergi, ya kristian lagi-lagi ingin mengantarnya. Ia bilang agar suci tak kenapa-napa. Why? Pikir suci selama ini ia pulang kan lewat sini dan tak ada bahaya satupun.
"Baiklah pak, terimakasih atas tumpangannya saya izin masuk pak" ucap suci sopan.
"Kau tak menawariku masuk dulu"
"Haah" suci loading.
Ting akhirnya ia sadar "hmm, baiklah apa bapak ingin masuk" tanyanya.
"Tidak, sana masuk" jawab kristian.
Lalu ia berbalik dan pergi, suci terbengong di tempat. Apa-apaan dia tadi minta ditawari dan sekarang malah pergi, aku memang tak mengerti bosku ini gumam suci.
__ADS_1
Suci yang telah sadar pun masuk kedalam rumahnya.
...****************...
"Tak disangka ada kejadian ini dalam hidupnya, akan kuhancuran si breng*** itu" gumam seseorang. Ia geram sambil meremas kertas yang selesai ia baca.
Deringan ponsel membuatnya sadar "Halo".
"Apa, ada masalah kalian memang payah" hardiknya.
Dia mematikan ponselnya dengan kesal. Suasana hatinya sedng buruk sekarang, dan ia mendapatan masalah benar-benar sial pikirnya. "Aah, sial bang***" ujarnya kesal ia membalikkan meja, dan memecahkan semua pajangan yang ada. "Lihat saja, akan kuperhitugkan hal ini" gumamnya kesal.
"Tuan mobil telah siap"
"hmm" jawabnya dingin.
"Permainan baru saja dimulai, aku akan menangkapmu" ujarnya tersenyum smirk.
...----------------...
Disisi lain seseorang sedang berkecamuk dengan laptopnya "Cih, sial dia berhasil kabur" ujarnya kesal.
Dia kesal karna mangsanya lepas, apa lagi tenaganya yang keluar kini jadi sia-sia saja.
Karna kesal ia langsung membanting dirinya diatas kasur yang empuk, ia mencoba mencari ketenangan.
Drrrt, deringan ponsel berhasil mengusik ketenangannya. "Bang***, malam-malam begini siapa yang menelfon sih benar-benar sial hari ini" ujarnya kesal
__ADS_1
Awalnya ia ingin mengabaikannya, namun ponsel tersebut terus-terusan berdering. Hinga akhirnya membuat ia yang sedang istirahat harus mengangkatnya, ya mau tidak mau gumanya kesal.
Saat melihat siapa yang menelfon dia sedikit tenang "Halo, kenapa"
"kenapa kau lama sekali" ucap orang disebrang.
"maaf aku sedang kesal"
"kau gagal lagi"
"diam, cih pasti kau senang kan"
"kau benar aku senang, akhirnya kau gagal juga"
"hahaha, sangat lucu sekali kan"
"memang, tapi dia emang hebat kan"
"cih, baiklah aku mengakuinya" ujarnya kesal.
"pufft, sudahlah jangan marah aku ada hadiah"
"hadiah? Apa itu" ia mulai penasaran.
"kau ingin tau, kalau begitu datang kesini ok"
"hmm, baiklah" jawabnya datar.
__ADS_1
Dia pun bergegas menuju lokasi yang sudah dikirimkan.