
Setelah kedua orang tersebut masuk kehutan, laki-laki itu keluar dari tempat persembunyiannya. Namun ia tak memasuki hutan tersebut, kenapa? Apa kalian pikir ia takut? Ya sedikit sih. Yang menjadi alasannya tak masuk itu karna stev yang melarangnya. Bagaimana ia tau, tentu karna stev menggodenya saat sebelum ia masuk.
Kedua orang itu telah tiba didalam rumah, karna lelah wanita itu langsung saja merebahkan tubuhnya disofa. Sedangkan stev ia langsung menuju dapur, ia akan menepati janjinya ia akan memasak makanan lezat.
"Ale, jika kau lelah mandi dan istirahatlah dulu dikamar. Nanti saat sudah siap aku akan membangunkanmu" pekiknya, ia berbicara sedikit berteriak agar wanita itu mendengarnya. Bukan karna wanita itu tuli, namun karna jarak ruang tamu yang lumayan jauh dari dapur.
"hmm, iya stev aku akan keatas" teriaknya, lalu dengan langkah gontai menaiki tangga dan memasuki kamarnya.
Setelah ia tiba dikamar ia membuka jendela dan melihat seekor burung terbang. Dia hanya bisa tersenyum tipis melihatnya, 'Apakan sekarang waktunya' gumamnya.
"Sia, piwuitt" ujarnya, dan datanglah seekor burung elang yang besar. "sia, ikuti lian dan awasi dari jauh oke" ujarnya sembari mengelus kepala burung tersebut.
Burung itu langsung saja pergi dengan cepat, dan wanita itu hanya memandangnya.
Ditempat sia ia melihat lian sedang bertengger dilengan seorang pria, itu membuatnya iri dan tanpa sadar ia terbang menuju pria tersebut. "Eh, ini burung siapa elang? Besar sekali" ia tabjuk dengan sedikit rasa takut.
Lian yang melihatnya kesal dan akhirnya ia malah menyerang sia. Sia yang tak terima membalas, hingga akhirnya kedua burung beda jenis dan ukuran itu bertengkar.
Pria itu berusaha memghentikan pertengkaran tersebut dengan mengijinkan kedua burung tersebut dibahunya. Karna kalau dilengan ia pengal, apalagi ukuran sang elang yang terbilang cukup besar.
Akhirnya pria tersebut memberanikan diri untuk menebus hutan yang lebat ini, hingga akhirnya ia melihat sebuah rumah. Ia mulai mengetuk pintu, dan akhirnya dibukakan.
"Ale, makanannya sudah siap ayo makan" ia berteriak hingga menggema keseluruh ruangan. Mendengar suara stev wanita itu segera keluar dari kamarnya.
Saat ia menuruni tangga ia melihat seseorang "siapa dia stev" ujarnya.
"kau tak mengenaliku lagi kah" bukan stev yang jawab namun pria itu malah bertanya balik kepada wanita itu.
"emang kau siapa" ujarnya bingung.
__ADS_1
"A-aku, aku adalah--" ucapannya terpotong.
"I don't care"
Mendengar hal itu membuat sang pria sakit hati. "Ale sudahlah ayo makan" "hmm, oky" ujarnya malas, namun saat melihat semua makanan yang tersedia ia langsung saja tersenyum lebar.
Ditempat lain..
"haah, sial dia kabur lagi bang***" kesalnya.
"maaf tuan ia berhasil lolos lagi" ujarnya ketakutan.
"ini sudah 8 tahun mengapa kalian selalu gagal haah, apa kalian to*ol" kesalnya.
"maaf tuan dia saja yag terlalu pintar"
"De-dengar tuan" ujar semuanya serentak.
Kembali pada dua sejoli ini..
"rey"
"hmmm"
"apa bener kita akan menikah 2 hingga 3 bulanan lagi"
"ya, apa ini terlalu lambat?"
"tidak ini sangat cepat, bagaimana jika tahun depan saja"
__ADS_1
"hmm, karin menunda suatu hal yang baik itu tidak baik loh" nasehat reyhan.
"reyhan, aku serius aku masih belum siap tau" kesalnya.
"hmm, 3 bulan lagi saja ya" reyhan mulai memelas, dengan ekspresi yang tak dapat ditolak.
"9 bulan ok" tawar karin.
"tidak 4 bulan hmm" reyhan kembali memelas.
"8 ok reyfan sayang" ujarnya gemas.
" 5 pliss" mohonnya.
"ok baiklah 6 bulan fix"
"hmm, ok honey. Jadi dalam setengah tahun kamu akan menikah denganku dan semoga tak ada halangan apapun itu. Harap reyhan ia ingin agar hari bahagianya yang akan datang itu bisa berjalan dengan sempurna, ups maksudnya baik.
"ok, kalo gitu kamu masak gih"
"udah laper ya" tanya reyhan lembut.
"iya, dia mintak diisi" ujarnya.
"baik nyonya"
"hahah, cepatlah nanti alarm perutku berbunyi" karin tertawa mendengar ucapan reyhan.
"oky"
__ADS_1