
Kristian kini tengah berada di sebuah bar, ia berada di ruangan VVIP bar tersebut. Suci kini tengah bingung untuk menghampiri bosnya atau tidak. Pasalnya ada berkas penting yang perlu untuk kristian tanda tangani.
Akhirnya setelah perang batinnya selesai kini suci memilih untuk menghampiri kristian. Suci sudah mengetahui keberadaan krstian adalah hal wajar, karna dia adalah sekretaris kristian.
Suci kini telah tiba di sebuah bar, tanpa pikir panjang lagi suci langsung memasuki bar tersebut. Dia lupa untuk menanyakan posisi kristian. "Hei, sini" seseorang menunjuk kearah suci dan menyuruh suci menghampirinya. Suci yang melihat hal tersebut menjadi bingung.
"Saya" ucap suci sambil menunjuk dirinya. "Ya, kesinilah dan antarkan pesanan ini" ucap seorang pelayan. "Tapi, aku bu--" suci belum sempat menyelesaikan kalimatnya. "Sudahlah antarkan ini ke ruang VVIP, cepat sana" ucap pelayan tersebut sambil menyodorkan nampan yang berisi berbagai minuman.
Suci hanya bisa melakukannya agar bisa lebih cepat mencari sang bos. Suci kini tengah berjalan menuju ruang VVIP bar tersebut.
Diperjalanan suci menyadari ada yang aneh dengan minuman ini. Baunya tidak menyengat, kenapa seperti bau darah?? Batinnya. Namun suci tidak terlalu memperdulikan hal tersebut, ia langsung berjalan kembali menuju tempat tujuannya kini.
Sampai didepan ruangan tersebut suci mengetuk pintu tersebut, dan saat dibuka suci terkejut melihat sang bos. Kristian tak kalah terkejutnya dengan suci "Suci, kenapa kamu ada disini?" tanya kristian dengan heran.
Suci tertegun sejenak, lalu ia tersadar akan tujuan awalnya datang kesini. "Maaf pak, sebetulnya saya kemari ingin meminta tanda tangan bapak" ucap suci jujur.
Kristian yang melihat kejujuran suci hanya terdiam, kemudan ia segera mengambil nampan tersebut.
"Lalu, kenapa nampan ini ada dikamu. Apa kamu bekerja disini?" selidik kristian.
Suci mengerucutkan bibirnya "Ini semua salah pelayan itu, dia menyuruh saya seenaknya. Dan saat saya akan menjelaskan dia malah main pergi saja" gerutu suci.
__ADS_1
Entah ada apa dengan kristian ia menganggap lucu tingkah suci tersebut. Tak berselang lama kristian dan suci kini berada di dalam ruangan tersebut.
Ternyata kristian bukan seorang diri saja di dalam. Awalnya suci berpikir kristian sedang mencari kesenangan disini, siapa sangka ia akan berjumpa dengan kawannya. Disini ada tuan Ali, beni, dan evan. Evan cenderung pendiam, dan suci sadar sejak tadi ia tengah diperhatikan evan. Suci yang diperhatikan mencoba tenang, seolah tak menyadari perilaku evan.
Kristian dan ketiganya mulai meminum minuman tersebut. Suci kembali berfikir apa itu benar darah, atau sebuah jus. Namun kristian tiba-tiba saja memberikan segelas minuman kepada suci. Suci mencoba untuk menolaknya "Maaf pak tapi saya tak bisa minum" namun kristian tetap memaksanya "Kau sekretarisku dan kedepannya mungkin kau harus minum" setelah mendengar hal ini suci langsung setuju untuk meminumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya....
Suci terbagun dari tidurnya "iss, kok badanku pegel semua ya" gumam suci. Suci mulai menstabilkan pandangannya, ia sadar ini bukan kamarnya "Dimana ini" ucapnya sambil memicingkan matanya. "Apart ku" terdengar jawaban dari seseorang yang suaranya cukup familiar.
Kristian yang melihat reaksi suci, dengan santai menjawab "Aku baru selesai mandi, tidak mungkin aku mandi tanpa melepas pakaianku bukan" suci yang mendengar hanya bisa terdiam.
Tunggu, kenapa ada yang aneh dengan bosnya ini apa kepalanya terbentur.
Dengan sigap suci langsung menempelkan tangannya di dahi kristian "Hmm, tidak panas" gumam suci yang didengar kristian.
"Bwahahah, kau pikir aku sakit suci" kristian menjawab sambil tertawa lebar. Suci yang melihatnya semakin heran, ada apa dengan bosnya ini apa dia memiliki kepribadian ganda tanyanya.
Suci kini tampak termenung membuat kristian bingung "Hello, suci kau ada dimana hah" ucapnya sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Ha, ah ada apa pak" ucap suci bingung.
"Kenapa kau melamun haah, mandi sana" ucap kristian sambil menunjuk kearah kamar mandi.
'Mandi' pikir suci "Tapi saya tak punya baju ganti pak" ucap suci. Kristian melirik suci " bajumu disana" ucapnya menunjuk kearah walk in closet. Suci yang mengikuti arah tunjukan kristian pun bingung.
Namun suci tetap menurutinya dan pergi kekamar mandi. Tak selang berapa lama suci pun keluar dengan gaun mandi, kini ia berjalan menuju walk in closet.
Didalam suci ternganga melihat semua pakaian, sepatu, tas, dll semuanya milik wanita. Suci berfikir sejenak apa kristian mempunyai kekasih, tapi kenapa aku tak tau.
Tanpa banyak berfikir lagi suci mengenakan salah satu baju disana 'pas' batinnya. Kenapa pakaian dan sepatu ini semua ukurannya, suci bingung. Karna kebingungannya ia langsung menghampiri kristian di meja makan.
Suci kini telah berada di samping kristian "Maaf pak saya ingin bert--" ucapannya terpotong. "Duduk dan makanlah dulu baru nanti bicara" ucapnya lembut. Suci makin tercengang dibuatnya, ada apa ini bosnya yang sombong kemana pikirnya.
Entah kenapa lagi-lagi suci hanya menurutinya. Sarapan selesai "Pak saya ma--" lagi-lagi ucapannya terpotong. "Bisa saya yang berbicara dahulu" tanya kristian. "Baik, silahkan pak" jawab suci sopan.
"Apa kau ingat kejadian semalam suci" ucapnya serius. Suci berfikir sejenak, namun tak mengingat kejadian setelah ia minum. Suci menggeleng pertanda ia tak ingat, kristian mengangguk paham. "Kau mabuk semalam, dan kau tertidur maka dari itu ku bawa kau ke sini suci" ujar kristian.
Suci tampak sedang mengolah semua ucapan kristian. "hmm, terimakasih karna bapak telah menolong saya" ucap suci berdiri, lalu membungkuk hormat sebagai tanda terimakasihnya.
"Sama-sama, ayo berangkat" ucap kristian sambil bangkit dari sana. "Baik" jawab suci, ia bergegas menyusul bosnya.
__ADS_1