
Setelah melewati kejadian dibandara, gadis itu menyelidiki ketua mafia itu lebih dalam siapa sangka orang itu ketua mafia. "Mereka memang bermain dengan bersih sekali" gumam gadis itu sambil menatap komputernya.
"Sial, magaimana bisa aku teledor begini. Kemarin mereka hampir saja menangkapku" amuk gadis itu.
Flashback on...
Dibandara
Gadis tersebut masih ternganga akan apa yg ia lihat, saat ia membekap mulutnya badannya sedikit mundur mengakibatkan sedikit suara. Ya namanya mafia pasti peka dan sensitif kan.
Suara pergesekan sepatunya dengan lantai, berhasil mengundang perhatian dari beberapa mafia yang ada disana. "Siapa yang ada disana, semuanya tangkap dia" ucap salah seorang mafia kepada yang lainnya.
"Mampus, ketahuan lagi" gumam gadis tersebut. 'Cepet kabur aja dah dari pada ditangkap' batin gadis itu berkata. Gadis tersebut langsung berlari menghindari para mafia disana.
"Untung mereka ngak tau jalan tikus disini, gwe bisa aman untuk sementara waktu" gumam gadis tersebut, sambil berjalan untuk pindah dari tempat tersebut.
Flashback off...
"Haah, syukur dah gwe bisa kabur dari mereka kalo ngak bisa berabe nih" ucap gadis tersebut sambil menghela nafas lega.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suci kini telah tiba diperusahaan, dan seperti biasa suci selalu datang 15 menit lebih awal. Dia sudah lelah mendengar ocehan sang bos, kristian selalu mengatan 'waktu adalah uang'. Suci selalu harus bangun pagi² sekali agar tidak terlambat masuk kantor.
__ADS_1
Entah sejak kapan dimulainya, kristian bukan hanya tertarik tapi juga mencurigai suci. Kristian mengambil beda pipih tersebut dan menekan sebuah nomor. Tut, panggilan tersambung "Selidiki tentang Suci Wulandari Ndiandra, baik masa lalunya atau pun saat ini" ucap kristian tak menerima bantahan. "Baik" ucap orang yang ada disebrang, "Tunggu, semua informasi itu harus ada saat jam makan siang ini. Ingat jangan sampai ada yang tau, terlebih lagi suci" kristian mengingatkan.
"Baik" jawab orang tersebut, ia sedikit terheran mengapa tuannya ini harus mengingatkannya akan hal kecil ini. Tuan yang ia kenal memang sangat waspada, namun kini bukankah sedikit berlebihan. Nampaknya wanita tersebut bukan wanita biasa, hal ini membuat pria tersebut bersemangat untuk menggali informasi gadis itu.
Sebentar lagi memasuki jam makan siang, entah mengapa kristian sedikit gelisah menantikan informasi tentang suci. ceklek, pintu ruangan tiba-tiba terbuka membuat kristian kembali memasang wajah datar. "Dimana informasinya ben" ucap kristian sambil menjulurkan tangannya.
"Ini tuan" ucapnya dengan sedikit membungkuk. Nama orang tersebut adalah beni, ia merupakan tangan kanan kristian. Beni memberikan kertas berisi informasi suci teraebut dengan wajah suram. Kristian yang melihat hal tersebut pun terheran "Kenapa wajahmu suram, musuhmu kabur atau ada hal lain" tanya kristian.
"Kris, ku pikir wanita ini sangat hebat maka dari itu tak boleh ketahuan. Tapi nyatanya tidak sama sekali dia hanya wanita biasa" ucapnya kesal.
Beni dan kristian merupakan teman smp, dari jenjang sana sampai sekarang mereka berteman atau bisa dibilang sahabat. Beni bersedia jadi tangan kanan kristian atau asisten pribadinya. Itu karena saat keluarganya mengalami kelumpuhan kristianlah yang membantunya, maka untuk membalas budi ia mengabdikan diri terhadap kristian.
Awalnya kristian menolak hal tersebut, namun beni memaksanya maka dari itu kini beni menjadi bawahan kristian.
Kristian mengerutkan keningnya tanda kurang paham. Beni yang melihat itu pun mengatakan semua ini benar dan tak ada yang salah sedikitpun. Kristian yang mendengar hanya mengangguk paham.
......................
Malam harinya....
Seorang gadis masih sibuk melihat data seseorang, tiba-tiba saja "Sial, bang*** siapa yang berani meretas komputerku" umpatan lolos keluar dari bibir sang gadis. Bagaimana tidak disaat dia tengah bersantai seseorang malah meretas komputernya.
Gadis itu dan si peretas saling beradu akan siapa yang menang. Gadis itu makin kesal, dengan kekuatan yang kuat ia menekan tombol yang ada di keyboard. Bagaimana tak kesal, pagi ini ada seseorang yang tengah menyelidikinya. Dia sampai takut, karna sudah mengusik mafia hidupnya takkan mudah lagi.
__ADS_1
Gadis itu masih sibuk beradu dengan sang peretas, hingga akhirnya seri tak da yang menang dan tak da yang kalah. Gadis itu hanya menghenafas gusar.
...----------------...
Disisi lain, seorang pria menerbitkan senyuman penuh makna diwajahnya. "Menarik" gumam pria tersebut.
Pria itu mencoba melakukan sesuatu lagi namun gagal, akhirnya sang pria menyerah dan meninggalkan tempatnya tadi berada. Saat hendak tidur pria tersebut makin senyum-senyum sendiri ntah kenapa.
Wilayah mafia...
"Sial" ucap seseorang dengan nada tinggi.
"Apa kalian bodoh, bagaimana bisa kalian ceroboh begini" makinya kembali.
"Haah, bagaimana kalau identitas kita semua ketahuan. Kalian tau kan aku seorang pembisnis sukses, jika hal ini sampai tersebar. Maka, opini publik akan menyerang dan menghancurkanku" pria itu menghela nafas gusar, kemudian. Prang prang, suara benda pecah menyahuti amarah pria itu.
Siapa yang akan diam saja dan masih tenang jika ada seseorang yang mengetahui identitasnya saat ini. Semua anak buahnya hanya bisa tertunduk diam. Mereka tak tau harus berbuat bagaimana lagi, mereka tak mungkin kan memutar kembali waktu.
......................
Gadis tersebut tersenyum puas saat musuhnya tak dapat meretas sistemnya. Kini gadis tersebut semakin memperkuat pertahanan sistemnya dari virus. Saat diretas tadi ia dapat merasakan bahwa pihak lawan memasukkan virus. Dan kini ia tengah membasminya, virus ini cukup hebat ia sedikit kewalahan dibuatnya.
Ting, sebuah notifikasi muncul. Gadis itu baru selesai membasmi virusnya, dan sekarang sedang terkulai lemas di atas sofa. "Sudah kubereskan, kau tak apa" itu isi pesannya. " Ya kerja bagus, kau sudah menemukan yang satunya lagi" balas gadis ini. "Tidak" jawab gadis yang satunya dengan emoji sedih.
__ADS_1
"It's okey, ini saja sudah cukup untuk sekarang" balasnya tak menyalahkan gadis disebrang. "Thanks, good night girl" ucap gadis disebrang. "You're welcome, good night, too". Setelah itu pesan berakhir, dan gadis itu mulai terlelap.