Rahasia Sang CEO Tampan Dan Misteri Sang Sekretaris

Rahasia Sang CEO Tampan Dan Misteri Sang Sekretaris
Death life...


__ADS_3

kedua gadis itu saat ini sedang berada di sebuah bar terpencil. Namun bar tersebut tak pernah kekurangan pelanggan.


"Kenapa kita kesini" tanya yang satunya.


"Bukankah kita ingin menangkap seseorang, aku dengar dia ada disini jadii aku mengajakmu kesini" ujarnya.


"Hmm, bukankah kita sudah berhasil mendapatkan informasinya? Buat apa kita menemuinya" bingung gadis pertama.


"Bukan menemui tapi menguntit" ujarnya sambil menggerakkan dua buah jari.


Kedua gadis tersebut pun mulai tersenyum saat melihat hal aneh, mereka takkan bingung karna sudah tau siapa itu. 'Death life' kelompok mafia yang paling ditakuti didunia, bahkan one hit kill pun harus tunduk padanya.


Mungkin ini terdengar aneh mengapa ada mafia yang mau tunduk. Namun ada desas desus yang mengatakan one hit kill merupakan bagian death life. Entahlah aku tak tau mengapa mereka membagi kelompok mereka sendiri.


Disebuah ruangan, ada 4 orang pria yang tengah santai sambil menikmati minuman. Tok tok tok, suara ketukan pintu membuat mereka mengalihkan intensnya. 'Siapa' pikir mereka ini ruang VVIP sangat sulit untuk masuk.


Salah seorang dari mereka akhirnya membukakan pintu, ceklek. Didepan pintu sudah ada dua orang gadis cantik "Tuan kami datang untuk melayani, apa benar kalian meminta pelayanan" ujar salah satunya.


"Hmm, baiklah ayo masuk" pria itu mempersihlakan mereka untuk masuk.


'Gila mereka guanteng banget, memang ngak sia-sia aku kesini' pekiknya dalam hati. 'Hmm, wajar mereka tak terlihat karna topeng siapa mereka sebenarnya' gumam yang satunya lagi.


"Siapa yang menyuruh kalian kesini" ujar mereka dingin.


Deg..


Mereka merasa sedikit takut, namun mereka menetralkan perasaan mereka kembali "Ahem, madam anjel tuan" ujarnya. "Oh" jawab mereka, 'Sialan mereka dasar para tembok' batinnya kesal.


"Baiklah, duduk disini" ujar mereka sembari menepuk sofa, mereka menyuruh kedua gadis tersebut untuk duduk. Kedua gadis itu ragu sejenak, namun akhirnya mereka duduk bersama.


Mereka pun meletakkan semua minuman tersebut, mereka bangkit dari duduknya. Tiba-tiba saja kedua lengan gadis itu dicekal "Bukankah kalian kesini untuk memuaskan kami?" ujarnya sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Ti-tidak tuan kami hanya diberi tugas untuk mengantar minuman ini, dan juga kami harus mengantar beberapa minuman lagi" jawabnya, berusaha menetralisir perasaan gugupnya.


Keempat pria itu hanya terdiam, dan melepaskan cekalan tangannya. "Baiklah, pergilah" ujar salah seorang pria, dan diangguki semuanya.


'Kok aku merasa aneh ya, seakan mereka sudah tau tentang kami apa itu cuma perasaanku' gumamnya, ia melirik sedikit dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


...----------------...

__ADS_1


Sedangkan diruangan lain, kedua gadis tersebut tengah membuka laptop mereka tersenyum aneh. Untuk apa laptop itu, entahlah aku pun tak tau jangan tanya aku. Aku hanyalah seorang author tanpa dosa.


Sekitar 1 jam, mereka mendengarkan sesuatu mereka kembali menyunggingkan sebuah senyuman. "Berhasil" ujar yang satunya. "ya, tapi kenapa ini sangat mudah" ia merasa aneh, tak mungkin kan seorang mafia itu mudah ditipu.


"Hmm, mungkin mereka tergoda dan tak curiga sama sekali" jawab sang gadis, ia tak merasa ada kejanggalan apa pun.


Setelah beberapa saat mereka pun mengemasi laptop mereka "Al, al, Alexsa" ujarnya membuyarkan lamunan sang gadis. "Aah, apaan sih Ta" ujarnya kesal, "ayo ke sebelah mereka udah pada keluar tuh" gadis itu menarik lengan sahabatnya itu.


Ceklek, pintu pun terbuka kedua gadis itu pun mulai masuk. Alexa jalan terlebuh dahulu disusul oleh sahabatnya itu, namun tiba-tiba ada pintu tertutup alexa terkejut. "Ta kok lo nutup pintunya kenceng-keneng sih" kesal alexa, karna tak ada jawaban ia pun membalikkan badan.


"Ta, ta lo kemana jangan becanda deh ta ngak lucu tau" ujar alexa, ia pun berjalan menuju pintu. Terkunci, pintu itu terkunci alexa mulai cemas kemana sahabatnya itu pergi. Tak mungkin ia akan bercanda seketelaluan ini, ada yang tak beres pikirnya.


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekik lehernya "Siapa kalian haah" hardiknya, alexa mulai gemetar walau tak nampak namun tubuhnya sedikit sesak atas cekikan itu. "Uhuk, lepaskan siapa kamu" tanyanya balik.


Hening, pria itu tak menjawab cekikan itu melonggar pria itu pun mundur beberapa langkah. "Tahan nafasmu" pekik pria itu, alexa yang masih bingung pun tak bergeming. Kenapa harus menahan nafas pikirnya, setelah beberapa saat tubuhnya merasa aneh ia mencium sesuatu yang aneh. Ia mulai menahan nafas namun semua sudah terlambat, tubuhnya mulai lemas ia merasa tubuhnya terbakar.


Sial, ini bau ini, obat perangsang batinnya. Ia merasa bodoh karna tak mendengarkan pria tadi, dasar alexa bodoh gumamnya.


Pria itu pun mulai mendekati alexa "Mau apa kau" ujarnya sedikit takut, ia mulai memeluk tubuhnya sendiri.


Pria itu terus berjalan, alexa yang lemah pun memicingkan matanya. Heh tak terjadi apa pun, alexa mulai membuka matanya perlahan. Ia melihat pria itu berusaha membuka pintu namun tak bisa, pria itu mulai bergumam "Apa kau bilang" ujar alexa, seketika pria itu melirik alexa.


Ia kembali berjalan menuju alexa, "Aku bilang, ada bajingan yang telah mengunciku disini. Sial, kalau aku tau aku takkan balik lagi" umpatnya. "Dan kau, mengapa kau kesini" ia menunjuk alexa dengan kesal "Apa kau ingin mengambil ini" lanjutnya sambil mengangkat suatu benda kecil


Alexa pun terdiam, ia tak tau hal ini akan terjadi. "Apa kau tau dimana temanku" ujarnya tanpa malu, ia khawatir temanya itu ditangkap oleh musuhnya.


Ekspresi pria itu semakin buruk "Kau tak berniat untuk menyembunyikannya lagi kah" ia terkekeh pelan. Alexa dibuat bungkam, bagaimana tidak ia telah ketahuan jadi tak ada salahnya menanyaan kondisi temannya atau lebih tepatnya sahabatnya. Tapi sepertinya pria ini tak tau menau tentang dia pikirnya.


Mereka mulai panik, bagaimana tidak tubuh mereka mulai memanas. Alexa pun sudah tak tahan "Aah, panas bang***, sialan kan ku cari dalang semua ini nanti" umpatnya kesal.


Pria itu berlari kekamar mandi, namun tak ada setetes air pun yang keluar "Bang***, awas kalian ku cari sampai dapat dasar ba****** sialan" umpatnya, ia mulai memecahkan dan membanting semua barang.


Alexa terkejut "Ada apa bang***, mengapa kau teriak-teriak" ujarnya geram. "Mereka mematikan air, dan mereka memadamkan listrik jaringan hilang lalu bagaimana?" bingungnya.


Alexa nampak berpikir "Kita lakukan saja" ujarnya sedikit ragu. "APA, a-apa kau yakin. Kau tidak gila kan" ujarnya heran.


"Tidak"


"lalu" pria itu maasih bingung.

__ADS_1


"Aku tak ingin mati" gumamnya namun pria itu masih dapat mendengarnya.


"Apa maksudmu?" ia makin bingung.


"Ini hanya sebuah perangsang bukan" ujarnya.


"Ya, namun perangsang ini terlalu berbahaya efeknya cepat dan kuat" alexa menjelaskan dengan serius.


"Bukankah ada penawarnya, yang ku tau banya sekali racun yang ada penawarnya" pria itu mulai berpikir, namun rasa panas masih tah berkurang da malah semakin menjadi.


"Tidak" alexa menggelengkan kepalanya.


"Apanya yang tidak, jangan buat aku pusing" ujarnya frustasi menahan panas tubuhnya.


"Maksudku, ini jenis perangsang baru perangsang ini jika melalui suntikan saja sudah dapat membuat orang mati dalam jangka waktu setengah jam, jika tidak diatasi. Sedangkan yang ini hanya dua puluh menit langsung mengancam nyawa. Jadi--" penjelasan alexa mulai terpotong.


"Tunggu, maksudmu dalam waktu dua puluh menit kita akan menjadi mayat?" ia paham namun tak menyangka separah ini.


"Ya, jadi apa kau mau" tanya alexa.


"Apa kau tak apa, kau seorang wanita bukankah kau yang akan rugi" pria itu mulai melihat ekspresi dan jawaban apa yang akan alexa keluarkan.


Alexa yang mendengarnya menggigit bibirnya, dan pria itu dapat melihatnya. Dan kedua tangannya yang mengepal erat, pria itu dapat melihat darah yang mengalir dari tangan putih gadis tersebut.


"Tidak apa-apa, lagi pun semua orang akan mengalaminya lambat laun. Jadi, selama kita tetap hidup tak ada salahnya mengorbankan hal ini" ujarnya dengan ekspresi datar.


Pria itu dapat melihat, ketidakrelaan dan kebencian yang dalam. Namun mengapa, apa ia sudah tak perawan lagi pikirnya. Jika ia mengapa ada ketidak sudian untuk melakukan hal itu, seakan dia memang masih memiliki mahkotanya.


"Baiklah"


Mereka pun mulai melakukan sesuatu, hal yang dapat mengubah masa depannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari yang terik, menyilaukan mata seorang pria ia mulai bangun. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, ia melirik sekitar "Dia sudah pergi" gumamnya pelan.


Pria itu melirik sebuah noda "Sepertinya aku benar-benar sudah mengambil mahkotanya" gumamnya, ia merasa bersalah akan hal itu. Namun ada yang aneh, mengapa ia merasa gadis itu familiar siapa dia pikirnya.


Pria itu pun bangkit, ia mulai membersihkan diri. Dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia mulai mengambil telpon dan menekan nomor seseorang "Tolong kau cari tau tentang gadis yang bersamaku semalam" ujarnya dan langsung mematikan sambungan tanpa mendengarkan jawaban dari orang yang ditelpon.

__ADS_1


'Gadis kecil, aku akan mencarimu dan bertanggung jawab untuk hal ini. Aku juga akan membawa semua baji**** kepa*** itu, agar kita dapat menghukum mereka' gumamnya.


Entah mengapa ia merasa bahwa gadis itu sangat istimewa, ia juga tak ingin melihatnya menangis. Ketika memikirkan gadis itu, ia mulai menyunggingkan sebuah senyuman. Ia pun mulai meninggalkan bar tersebut, ia menggunakan mobil hitam.


__ADS_2