Rahasia Sang CEO Tampan Dan Misteri Sang Sekretaris

Rahasia Sang CEO Tampan Dan Misteri Sang Sekretaris
Alexa mual dan sakit, karin jadi marah .


__ADS_3

hampir sebulan lalu pria labil itu telah mencari sang gadis, namun hasilnya nihil. "Haah, dia kemana sih" ucap mic sambil mengacak ranbutnya, ia mulai frustasi. Tak ada bedanya dengan sang sahabat saat ini, "Kau tau mic, aku akan gila jika ia tak ditemukan" ujarnya frustasi.


Mic mengangguk setuju, ia hampir kehilangan akal sehatnya karna seorang gadis sama seperti sang sahabat. Mereka itu terkenal kejam dan dingin tapi sekarang, mereka malah hampir gila karna seorang gadis.


...----------------...


Sedangkan di tempat lain diwaktu yang sama, ada dua sahabat yang sedang bersenda gurau. Namun gurauan itu harus terhenti saat alexa mual, karin bingung 'kenapa dia' pikirnya.


"Al lo kenapa, sakit lo ya kita kedokter yuk" paniknya, ia bicara sambil berlari menyusul alexa.


Huek, huek "Ta gue ngak pa- huek, huek pa kok" wajah alexa memucat karin pun semakin khawatir.


"Ngak papa gimana, ayok kerumah sakit kita periksa" ujar karin, ia tak tega melihat sang sahabat yang seperti itu. Wajahnya pucat, raut lesu 'kemana sahabatku yang ceria haah' batin karin.


Setibanya dirumah sakit alexa diperiksa, saat ini hanya ada alexa dan sang dokter. Kini karin telah kembali, ia langsung menanyakan kondisi sang sahabat "Dia kenapa dok?" dokter yang tengah merawat alexa pun menoleh "Oh, hanya masuk angin dan tubuhnya kurang vit. Ini ada vitamin dan kalau bisa ajak dia untuk joging dan berjemur. Dia juga kekurangan vitamin D, maka dari itu jaga dia ya saya permisi" dokter yang telah menjelaskan pun pamit.


Setelah kepergian sang dokter, kini hanya tersisa alexa dan karin "Kan, gue bilang juga apa al lo tu kurang olahraga akhir-akhir ini. Dan juga lo terlalu sibuk dengan aktivitas lo, dan sekarang liat hasilnya lo sakit kan" celoteh sang sahabat, ia kesal karna alexa tak menjaga kesehatan dirinya sendiri.


"Ya, maaf ta kan gue sibuk" alexa mencoba memberikan alasan.

__ADS_1


"Sibuk, apa karna kata sibuk lo mau mati haah" kesal karin. "Al, lo tau kan lo itu penting bagi gue, jadi jangan ninggalin gue dengan kata sibuk ini deh. Lo udah sakit karna kata sibuk ini tau al" karin menaikan suaranya 1 oktaf.


Alexa tersentak, ia sangat tau apa yang sang sahabat rasakan. Alexa hanya bisa diam, ia tak dapat menjawab apa-apa lagi saat ini. Ia melihat kekhawatiran dan rasa takut yang kuat, itu membuatnya ikut merasakan sakit dan sedih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Senin yang indah, tapi bukan bagi author seorang gadis sedang menuju motor kesayangannya. Ia melaju dan menikmati jalanan yang sudah mulai ramai, karna ini hari kerja, sekolah, dan lainnya.


Setibanya di sebuah bangunan pencakar langit itu, ia mulai melangkah masuk kedalam dan memulai aktivitas biasanya. Saat ini pukul 09.00 pagi, kristian sudah berada di dalam ruangannya.


Suci mulai memasuki ruangan kristian "Pak, ini berkas yang perlu anda tanda tangani" ucapnya, ia berdiri tepat didepan meja kristian atau pebih tepatnya dihadapan kristian.


Keesokan harinya...


Kristian sudah memasuki kantor, anehnya ia tak melihat suci. 'apa dia terlambat' pikirnya. Kristian berpikir suci mungkin terlambat karna sesuatu. Namun kini sudah menunjukkan pukul 11.00 tapi belum ada juga tanda-tanda kedatangan suci.


'Kemana dia, ini sudah jam berapa kenapa belum datang" batin kristian, ada sercecah kekhawatiran diwajahnya.


Kristian pun mulai menanyakan suci pada bawahannya "Ya, ada apa pak" ujarnya sopan. "Suci mana?" to the point kristian.

__ADS_1


"hmm, bukannya suci udah ngundurin diri kemaren ya pak?" ia mulai bingung, mengapa atasannya bertanya tak mungkin ia ta tau kan?


"Apa" suara kristian hampir memecahkan gendang telinga orang disebrang.


"Bu-bukannya bapak sudah menyetujuinya, mengapa bapak terkejut" ujarnya gemetar, ia bisa merasakan kristian tengah marah saat ini.


Kristian heran kapan ia menyetujuinya "Apa buktinya" tanyanya singkat.


"Bapak su-sudah menandatangani suratnya pak" ujarnya gugup.


"Maksudmu?" bingung ktistian.


"Maksud saya, babak sudah menandatanganinya yang berarti bapak menyetujui pengunduran diri dari suci" orang tersebut berusaha tenang, namun setelah mengatakan hal itu ia justru malah merasa merinding dan semakin takut. Apa ia salah bicara pikirnya, kristian mengakhiri panggilan.


Kristian mencoba menghubungi nomor suci berkali-kali namun gagal, karna kartunya sudah tak aktif dari sebulan yang lalu. Kristian heran mengapa dari sebulan yang lalu, ia baru saja tersadar bahwa ia tak pernah menghubungi suci. Ia akan langsung menuju ruangannya jika ada sesuatu, atau bahkan menggunakan telepon kantor saja.


"Kau kemana suci" gumam kristian. Entah mengapa kristian khawatir karna suci yang tiba-tiba saja menghilang.


Ia sudah menghubungi semua bawahannya untuk mencari suci, dan hasilnya nihil. Suci tak dapat ditemukan bak ditelan bumi.

__ADS_1


__ADS_2