
Reyhan bingung, mengapa sulit sekali untuk melacak alexa. Sebenarnya siapa alexa ini? Batin reyhan.
Karna belum ada kepastian, ia belum memberitahu mic memgenai alexa.
Ditempat lain di waktu yang sama...
Seorang wanita cantik dengan anggun berjalan dilobi perusahan. "Aku ingin bertemu tian, tolong ya" ujarnya sombong.
"Maaf nona tuan sedang rapat bisnis diluar saat ini" ujarnya sopan. "Alah, palingan lu boong kan? Bilang aja lo takut tian jadi milik gue bener ngak" cerocosnya.
"Maaf, nona tuan memang tidak ada dikantor saat ini" ia kesal namun ditahan, ia hanya bisa berusaha menghilangkan tudingan itu.
"Kalau nona tidak percaya lihat saja ini, ini adalah jadwal pak kristian hari ini" ucapnya sembari menunjukkan bukti, berupa jadwal kristian hari ini.
"Cih" decihan berhasil lolos dari mulutnya.
"baiklah aku pergi, ingat sampaikan pada tian bahwa aku menemuinya hari ini" ujarnya, setelah berucap itu ia langsung berjalan pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya karna kesal.
Melihat itu, sang resepsionis hanya tersenyum tipis melihatnya.
Seseorang kini tengah tersenyum karna ia telah mendapatkan sesuatu. "Haah, akhirnya kau masuk perangkap juga" ujar seseorang dengan seringaian aneh.
"Baiklah let's play" lanjutnya masih dengan seringian anehnya, namun aura yang terpancar darinya saat ini lebih kuat dari pada yang sebelunya.
Kembali kepada rey dan rin kini mereka ada disebuah toko perhiasan. Mengapa? Entahlah, bahkan wajah karin kini terlihat muram entah mengapa. Lain halnya dengan reyhan, dia justru tersenyum lebih banyak dan lebar dari sebelumnya.
"Hei lihat siapa ini" ujar seseoramg dengan nada mengejek.
Karin yang mendengar suara familiar baginya itu langsung menoleh, dan jika tadi ekspresinya muram kali ini lebih parah dari itu.
"Mengapa kau ada disini" ketus karin.
Melihat perubahan mood yang sangat buruk dari karin, membuat reyhan bingung siapa wanita ini pikirnya.
"Hahah, mengapa aku bisa disini kau yang paling tau kan" ujarnya tak kalah, ia malah mennyindir karin dn hanya karin yang tau isi sindirannya.
__ADS_1
Reyhan dapat melihat tatapan ejekan dari mata sang wanita, walau sang wanita berkata lembut dan tersenyum manis. Tapi sayangnya reyhan tidak tau isi sindiran wanita itu.
"Rey" ujar karin, sembari menoleh dan menatap tajang reyhan.
"hmm" reyhan yang ditatap tajam hanya santai, ia menunggu gadisnya melanjutkan ucapannya.
"Apa tempat ini milik leo" ujarnya.
Mendengar hal ini sang wanita terperanjat kaget, apa yang dia katakan. Reyhan juga tak kalah terkejut, namun ia berusaha untuk terlihat santai.
"Ya, honey" ujarnya sembari merapikan anak rambut karin.
Sang wanita yang mendengarnya hampir saja pingsan, untuk saja tak jadi kalau tidak ia akan malu sendiri.
"Kau tau leo yang ku maksud kan?" karin berusaha memastikan.
"hmm" reyhan hanya berdehem.
"Kalau begitu, apa kau bisa mengambil alih ini untukku" datarnya.
"Hmm, tentu honey tapi..." ia menggantungnya.
Sejujurnya reyhan sedikit terkejut dengan permintaan karin, bukan mustahil ia hanya heran mengapa gadis kecilnya ini tau begitu banyak. Namun bukan reyhan namanya tak memanfaatkan kesempatan ini, ia akan membuat karin menyetujui hal yang akan ia ucapkan. Mungkin aneh kenapa ia sangat yakin karin menyetujuinya, itu karna ia dapat melihat kebencian dimata karin dan karin tak mungkin melepaskan wanita dihadapan mereka ini.
"Tapi, apa?" karin heran, apa susahnya coba dia bilang iya.
Reyhan pun mulai membisikkan sesuatu, dan itu membuat karin tersentak. Ia syok dengan hal yang reyhan ucapkan, namun sedetik kemudian ia melirik wanita yang terduduk dilantai karna syok. Karna melihat itu karin pun menggangguk, dan itu membuat reyhan senang.
Setelah mendapat jawaban dari karin, ia merogoh sakunya dan menggambil sebuah benda pipih. Kemudian ia menghubungi seseorang "Halo, hmm aku menginginkan tempat ini bisa kan?" ujarnya. "hmm, baik" tuut, reyhan langsung memutuskan sambungan telepon itu.
Seteah telepon ditutup, ia dapat melihat karin tengah menatapnya kini. "Bagaimana?" tanya karin "hmm" jawabnya "Makasih ya" ujarnya dengan datar.
"haah, kau itu sedang berterimakasih atau apa sih rin" herannya, mana ada orang bertermakasih dengan nada datar begitu pikirnya.
"Asal kau tau, kau itu orang beruntung" kesal karin.
__ADS_1
"Ya, aku tau aku ini beruntung. Tapiii, apa hubungannya keberuntunganku dangan ucapan terimakasihmu itu? Dan ya, kenapa kau kesal?" reyhan tak habis pikir dengan sikap karin mengapa ia yang kesal, bukankah dia yang seharusnya kesal.
"Kau itu beruntung, karna mendapat ucapan terimakasihku tau. Dan aku kesal karna kau menghina ucapan terimakasihku itu" karin masih saja kesal, bahkan kini ia membalikkan badan.
"Ap-apa, baiklah terimakasih atau ucapanmu yang langka itu. Aku sangat-sangat beruntung, tapi rin--" ujarnya tergantung.
Karin bingung mengapa reyhan tak melanjutkan perkatannya. Saat ingin berbalik badan, ia terhenti karna tiba-tiba saja ada yang memeluknya.
Ternyata reyhan yang kini tengah memeluknya, ia bingung mengapa reyhan memeluknya. Tiba-tiba ia merasa reyhan sedang mengikatnya dengan sesatu, dan ternyata itu sebuah jaket.
Setelah mengikat jaket tersebut, reyhan membisikkan sesuatu yang membuat wajah karin bersemu merah karna menahan malu.
Di mobil...
Karin tengah duduk manis dikursi belakang, ia tengah menunggu reyhan saat ini. Terdengar suara pintu mobil yang terbuka, dan saat ini reyhan duduk disamping karin.
"nih" ujar reyhan. Karin yang melihat 1 kantong besar yang ada di tangan reyhan pun terbelalak.
"Buat apa sebanyak ini sih rey" ujarnya, ia tak percaya dengan apa yang dilakukan reyhan.
"Aku kan ngak tau kamu suka yang mana" ujarnya cemberut.
"Haah, yaudah deh sini aku liat" karin menghela nafas kasar.
"nih" ujar reyhan dan karin menerima bungkusan besar itu.
"Ngak ada rey, ngak satupun disini" ujar karin, ia sedikit tak enak namun tetap mengatakannya.
"Hmm, kalo gitu liat aja di 2 plastik yang ada disamping tomi" reyhan menunjuk kedua bungkus plastik besar tersebut.
Karin yang mengikuti arah yang ditunjuk reyhan pun ternganga. "Reyhaaaan" pekik karin, reyhan yang mendengarnya segera menutup kedua telinganya.
"kenapa sih rin" ujarnya.
"Haah, ngak tau ah" kesal karin.
__ADS_1
Karin merasa malu akan hal yang dilakukan reyhan, namun ia juga bahagia karna reyhan terbukti tulus padanya. Karna jarang sekali pria yang mau membelikan barang seperti itu, yang perempuan pasti tau lah yaa.