Rahasia Sang CEO Tampan Dan Misteri Sang Sekretaris

Rahasia Sang CEO Tampan Dan Misteri Sang Sekretaris
bertemu....


__ADS_3

Saat ini di markas mafia "Tu-tuan" ujar sang bawahan. "Apa" datarnya.


"Ada seseorang yang mencarimu" ujarnya lagi.


"Siapa?" bingungnya.


"Tidak tau tuan, yang pasti dia ingin menemuimu"


"Usir saja" ketusnya.


"Ah ya tuan, dia bilang ini bersangkutan dengan masa lalumu. Kalau kau tak menemuiku kupastikan kau menyesal nanti" ujarnya menirukan pesan orang yang ingin bertemu dengan tuannya.


"Hmm, bilang padanya untuk menemuiku diruang kerjaku" dinginnya, ia langsung pergi baranjak dari sofa yang di dudukinya.


Sang bawahan pun pergi menjemput orang itu, setelah tuannya pergi dari ruangan ini menuju ruang kerjanya.


Diruangan kerja tersebut kini sudah ada dua orang yang duduk saling berhadapan dengan menatap tajam satu sama lain.


"Jadi, apa tujuanmu mencariku" ujarnya datar.


"menurutmu" tantangnya.


"Jadi, dimana dia?" tanyanya.


"Kenapa kau ingin tau" ia semakin mengompori.


"Karna kau mengetahuinya, benar bukan" santainya.


"Aku tak ingin memberitahumu bagaimana?" tantangnya lagi.


"Aku bisa mencarinya" sombongnya.


"Cih, kau bahkan tak tau tanggal lahirnya bukan?" pertanyaannya ini terlalu menohok bagi lawannya itu.


"Uhuk, kenapa kau menamyakan tanggal lahirnya? Bukankah bisa yang lain?" negonya.


"Baiklah, bagaimana dengan namanya?" ujarnya sekali lagi.


"ya-yang lain" gugupnya.


"hmm, tk nya?" ujarnya sembari tersenyum mengejek.


"Glup, yang lain bisa kenapa harus tk sih?" ia mulai frustasi dengan pertannyaan lawannya saat ini.


"Kenapa, kalau begitu apa dia memiliki tanda lahir atau semacamnya?" tanyanya lagi. Dia melipat kedua tangannya dan menatap dengan penuh ejekan.


'Dia punya masalah apa sih, kenapa pertanyaannya ngaur gitu' gerutunya dalam hati.


"Uhuk, di-di leher" jawabnya


"salah, dasar payah" ujarnya menyindir.


"hmm, pinggang" jawabnya lagi.

__ADS_1


"Apa kau tolol, mengapa salah lagi" ejeknya.


"Punggung"


"salah"


"dada"


"masih salah"


"Hahah, apa kau tau?" tanyanya dengan sedikit kesal.


"Ya, dan itu di...." ia menghentikan kalimatnya.


"Jeng...jeng, mau tau atau mau tau banget nih" candanya


Geplak, ia digeplak dibagian tengguknya.


"Auch"


"lemah"


"apa kau bilang hah" kesalnya.


"Apa" nyalangnya.


"jika kau bersikap begini lagi maka aku takkan memberitahumu" cetusnya.


"kau mengancamku" dinginnya.


Ditempat lain, kini seorang wanita tengah panik. Mana sih anak itu perginya, lebih baik dia dirumah setidaknya aku tak menghawatirkannya batin ale.


"hai ale"


"hmm" ia hanya berdehem


Ayo pulang, ma-maaf aku telat ya ale" ujarnya sambiĺ memelas.


"hmm, ayo" jawabnya singkat.


"Ale aku benar-benar minta maaf, pliissssss" ia kembali memelas, dan kini wajahnya sangat super duper imut.


"Hia, mereka imut banget kek kakak adek gitu ngak sih" pekik seseorang yang melihat mereka berdua.


"ya" datarnya.


"Ayolah, akan ku masakkan makanan kesukaan kamu ya ale" negonya.


"Hmm" ia kembali berdehem.


"Padahal aku akan buat ayam panggang spesial, bahkan kue dan es krim sebagai penutup" ujarnya sembari tertunduk.


Sedangkan yang mendengarnya langsung saja tersenyum "Iya aku maafkan, tapi kau kemana saja stev" ujarnya sumringah. Stev senang karna bujukannya berhasil, terutama kalau tentang makanan.

__ADS_1


"Hmm, ale? Bagaimana kalau kita ke supermarket disana?" ujarnya.


"Baiklah" jawabnya sembari tersenyum manis, dan senyumannya berhasil membuat semua orang melihatnya 'cantik' kata ini yang terdengar dari bisikan beberapa orang. Sedangkan stev kesal karna alenya dipandang seperti itu. Karna tak terima ia menarik lengan ale dengan posesif, ia tak ingin ale berada ditempat ini. Apalagi ia kini sangat mencolok.


Kembali kepada reyhan dan karin, saat ini karin sedang menjadi ratu. Karna reyhan sangat memanjakannya, dan hal ini membuat mood karin sangat bagus.


"Reyhan~, ambilin aku bantal donk, yang empuk ya" ujarnya.


"Yaa, akan ku ambilkan" sahutnya.


"reyhan, remot tv nya donk" ujarnya lagi.


"hmm, ya ini" reyhan langsung memberikan remot tv nya.


"cemilan"


"nih"


"makasih"


"hmm"


"kenapa? Marah ya" ujarnya sembari tertunduk.


"Ngak"


"truss kenapa? Apa ada yang kamu mau kamu bilang aja aku kabulin deh" ujarnya percaya diri.


"bener nih" reyhan berusaha meyakinkan.


"ya, bilang aja" serius karin.


"kalau aku mau kamu masak gimana?"


"it's oky"


"kalau aku mau kamu jauhin rendy, kamu sedia?" tanyanya lagi.


"ya" jawabnya tanpa ragu.


"kalo aku mau kamu jadi sahabatku gimana?" ujarnya.


"ya"


"Kalau aku mau kamu jadi teman hidupku gimana" ujarnya lagi.


"ya, rey aku kan dah bilang mau jadi sahabatmu" ujarnya mulai jengah.


"Jadi, kamu setuju ya jadi pendamping atau lebih tepatnya istriku" ujarnya dengan senyum kemenangan.


Sedangkan karin hanya diam, dia berusaha mencerna dan baru sadar setelah kata teman ada kata 'hudupku'. Dan ia baru sadar, secara tak sadar telah menyetujui lamaran dari reyhan.


Reyhan langsung merogoh sakunya dan mengambil sebuahkotak berisi cincin, cincin itu dibeli saat ditoko perhiasan tadi. Dan sekali kagi karin tersadar bahwa cincin pilihannya tadi ternyata adalah cincin lamaran untuknya.

__ADS_1


Reyhan langsung memasangkan cincin di jari karin, walau karin terkejut ia tidak sepenuhnya membenci ini. Dan sejujurnya ia sudah dapat merasakan ketulusan dari reyhan, dan ini membuatnya cukup bahagia.


__ADS_2