
"Berdoa saja dan semoga ada keajaiban"
Deg
Kata-kata dokter Indra membuat Jantung Sandra terasa berhenti berdenyut, apa lagi dokter Indra langsung meninggalkan Sandra tanpa berkata apa-apa lagi, membuat Sandra berpikir negatif.
"Sandra are you oke?" tanya Saka yang melihat Sandra terdiam.
Sandra menoleh ke arah Saka, ia menghambur memeluk Saka, Sandra menangis, "Saka kenapa dokter bilang begitu, apa yang terjadi pada ibu?" tanya Sandra sembari menangis.
"Tenanglah, nanti kita akan tau saat ibu sudah keluar dari sana."
Bu Arumi terlihat di bawa keluar oleh para petugas rumah sakit, blangkar nya di dorong oleh dua orang perawat namun arah nya tidak mengarah ke ruang rawat pertama ibunya di rawat.
"Saka, kenapa arah nya berbeda?" tanya Sandra.
"Entahlah, kita ikuti saja" ucap Saka.
Sandra dan Saka mengikuti kedua perawat yang membawa ibunya itu dari belakang, namun saat di ruang ICU kedua perawat itu berhenti dan langsung membuka pintu ruangan ICU.
Sandra pun berhenti dari langkah nya, ia menatap belangkar ibunya yang memasuki ruangan itu dengan tangis yang terus mengalir.
Saka yang melihat Sandra seperti itu kemudian menggenggam tangan Sandra dan mencoba menguatkan Sandra.
"Aku mohon, kuatlah saat ini ibumu membutuhkanmu, jangan terlihat rapuh ibumu tidak akan suka"
__ADS_1
Perkataan Saka tak di gubris sama sekali, ia terus menatap kosong ke arah ruang keramat itu, ia tidak tahu apakah ia bisa kuat seperti yang Saka mau?
"Maaf mbak, mbak bisa melihat ibu nya sekarang, tapi hanya satu orang yang bisa masuk" ucap perawat itu dan membuat Sandra tersadar dari lamunan nya.
Sandra mengangguk dan menoleh ke arah Saka, meminta izin untuk masuk ke sana sendiri.
"Iya masuklah, aku akan menunggu disini."
Sandra langsung masuk ke ruang ICU dimana ibunya kini terbaring lemah tak berdaya, tak ada senyum di wajah nya yang sangat pucat, Sandra mulai menghampiri ibunya lebih dekat, dilihat nya wajah renta yang biasanya selalu tersenyum kini hanya terdiam tanpa ekspresi.
"Bu.. aku mohon bertahan lah, aku tidak mau kehilangan ibu.. hiks.. hiks.. hiks..." Tangis Sandra kembali pecah disana, ia menggenggam tangan Ibu nya dengan kuat berharap ibu nya akan baik-baik saja.
Sandra terkejut saat ia sedang menangisi ibunya, pundak nya di sentuh oleh seseorang di belakang sana, Sandra menoleh dan melihat ternyata ada dokter Indra di belakang nya.
"Tapi kalau kamu belum ada jodohmu, aku yang akan menikahimu," Lanjut Indra
Sandra kembali menoleh kepada dokter Indra, "Maaf Dok, aku akan segera melakukan amanat ibuku" Sandra langsung keluar dari ruangan itu dan langsung menuju Saka yang sedang menunggunya.
"Ada apa San?" tanya Saka
"Cepat nikahi aku sekarang, aku gak mau menyesal, atau akan ada orang lain yang menikahiku."
"Kau yakin?" tanya Saka lagi.
Sandra hanya mengangguk, ia langsung memeluk tubuh tegap yang selalu menenangkan itu, Saka kemudian langsung menghubungi seseorang untuk menyiapkan segalanya.
__ADS_1
Hingga akhirnya pernikahan Saka dan Sandra di laksanakan di hadapan ibunya Sandra yang masih tidak sadarkan diri, pernikahan itu di hadiri oleh Rahma dan beberapa orang lainnya sebagai saksi.
Meskipun pernikahan mereka hanya pernikahan Siri tapi tidak di pungkiri ada kebahagian di antara mereka, Rahma yang menyaksikan acara itu pun tersenyum, walau hatinya terlalu sakit, ia ikhlas karena itu keinginannya.
"Bagaimana saksi... Sah...?"
"Sahhhhh."
Pernikahan mereka sudah sah di mata agama, membuat Saka tersenyum menatap Sandra, Saka langsung mencium kening Sandra dengan begitu dalam, kemudian Sandra pun mencium tangan Saka.
Rahma menitikkan air matanya, hati nya sakit melihat suaminya menikah lagi, sekarang ia mempunyai madu dan harus bisa ikhlas berbagi suami dengan madunya.
Namun setelah pernikahan mereka selesai, kondisi ibu Arumi kembali kritis, dokter Indra langsung mengambil tindakan, dan menyuruh semua orang keluar dari ruangan.
"Maaf semuanya tolong keluar dulu, biar saya periksa keadaan nya."
Semua orang tampak panik, apalagi Sandra yang sudah tidak bisa berpikir apa-apa lagi, ia terus berdoa, Saka yang tahu Sandra sedang tidak baik-baik saja, selalu berada di sisinya sesekali memeluk nya erat.
Rahma yang melihat nya merasakan cemburu yang begitu dalam, Rahma tak menyangka Saka bisa melakukan hal itu di depannya, tapi mungkin karena sekarang Sandra sudah Sah menjadi istrinya maka Saka bertanggung jawab untuk semua tentang Sandra, pikir Rahma.
Tak lama dokter Indra keluar menghampiri Sandra dan mengusap pundaknya, "Maaf, saya sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi Tuhan lebih sayang pada beliau."
Duaaaarrrr
to be continued
__ADS_1