Rahim Sewaan Sang Mantan

Rahim Sewaan Sang Mantan
delapan belas


__ADS_3

Tiba-tiba Sandra keluar dari kamarnya dengan rambut yang acak-acakan dan juga baju yang sedikit berantakan, tak terlihat ada yang datang akhirnya Sandra bertanya pada saka.


"Sayang siapa yang datang?"


Rahma yang sedang melihat-lihat isi rumah Sandra begitu terkejut mendengar Sandra memanggil suaminya dengan sebutan Sayang.


Hati nya bergemuruh menandakan begitu cemburunya dirinya ketika kesayangan nya di panggil sayang oleh orang lain.


Rahma langsung mendekati arah suara itu dan betapa terkejutnya Sandra melihat Rahma ada di rumah nya.


"Eh mbak udah dateng?" sapa Sandra ia benar-benar lupa dengan Rahma yang memang sudah izin untuk datang kerumah nya.


"Aku benar-benar lupa, saking nikmatnya" ucap Sandra dalam hati sambil tersenyum mengingat kejadian tadi, saat dirinya ingin menyerahkan seluruh hidupnya untuk Saka.


Jleeb


Jantung Rahma terasa tertancab ribuan duri saat melihat Sandra mencepol rambutnya ke atas dan melihat bagaimana penuhnya leher Sandra dengan maha karya suaminya di sana.


Hatinya mencelos melihat itu semua, air matanya seakan ingin tumpah begitu saja, namun ia berusaha menahan nya, ia tak ingin terlihat rapuh di hadapan madunya itu.


"San aku ikut ke toilet sebentar ya" izin Rahma dan di angguki Sandra.


Rahma langsung masuk ke toilet, dan mengunci pintunya barulah ia menumpahkan rasa sakit hatinya di sana, mengeluarkan seluruh air mata yang ingin ia buang sedari tadi.


"Sakit ya Allah, sakiittt banget..." sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu sakit, rasa sakit tak berdarah itu begitu sangat menyayat hatinya.


Namun apa yang bisa ia lakukan, ini adalah keinginan nya, ia hanya butuh kekuatan untuk menyaksikan segala yang akan terjadi di hadapannya untuk kedepannya.


Rahma yang sudah puas menangis lalu mencuci wajah nya ia tidak ingin terlihat sudah menangis di sana, "Baiklah hati, tolong kerjasamanya ya, kuat dulu untuk beberapa bulan kedepan ini, semoga cepat berlalu." Rahma pun memaksakan senyum di wajahnya, ia keluar dari toilet dan menemui Sandra kembali.


Sandra yang sudah duduk di sopa depan dengan Saka mendengar langkah kaki di belakangnya langsung menoleh,


"mbak ayo duduk di sini, aku udah bikin minuman buat mba." Sandra pun mencoba menjadi tuan rumah yang baik.


"Terimakasih ya san, padahal gak usah repot-repot begini."


"Gak apa-apa kok mbak, aku seneng mbak kesini,"


"Tapi aku gak ganggu kalian kan?"


"kamu bicara apa sih? ya enggak lah, masa ganggu sih?" kini Saka yang menjawab pertanyaan Rahma.


Mereka bertiga duduk bersamaan di satu sopa yang sama, dengan Saka yang berada di tengah keduanya.


Saka menggandeng kedua istrinya, dan keduanya bersandar di bahu Saka, membuat Saka menerawang jauh.

__ADS_1


Bahkan fantasinya kini benar-benar liar, ia ingin bercinta dengan kedua istrinya secara bersamaan, ia pun senyum-senyum sendiri dalam khayalannya.


Bagaimana tidak istri yang satu sedang memaikna alat tempurnya dan yang satu lagi sedang menyusuinya.


Aih senangnya dalam hati


Kalau beristri dua


Oh seperti dunia


Ana yang punya


Kepada istri tua


Kanda sayang padamu


Oh kepada istri muda


I say i love you


Istri tua merajuk


Balik ke rumah istri muda


Ana kawin tiga


Mesti pandai pembohong


Mesti pandai temberang


Oh tetapi jangan sampai


Eh pecah temberang


Saka hanya mampu bernyanyi dalam hatinya saja tanpa mau bersuara, ia pun tersenyum tak menyangka kalau ia akan memiliki istri dua sekarang ini, padahal tadinya tak pernah tersirat akan menikah lagi, walaupun Rahma tak mempunyai keturunan.


Namun ternyata ada hikmah di balik musibah yang ia alami, akhirnya ia bisa menikah dengan wanita yang selama ini ia cintai.


"Mas, kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Rahma yang ternyata sedari tadi memperhatikan Saka.


"Gak apa-apa kok, mas cuma bahagia aja dengan hidup mas yang sekarang, di temani dua bidadari cantik sekaligus."


"Tapi inget ya Mas, sesudah Sandra melahirkan nanti kamu harus pisah dengan nya, dan kamu juga Sandra jangan lupa dengan janjimu yang akan memberikan anak kamu sama aku."


Pernyataan telak Rahma membuat Sandra menciut ia hanya tersenyum dengan menahan luka di hatinya.

__ADS_1


"Mbak gak usah khawatir, aku pasti akan menepati janjiku." ucap Sandra dengan menahan sesak di dadanya.


Nyanyian yang begitu indah yang sempat Saka dendangkan di hatinya kini berubah jadi nyanyian yang paling menyeramkan.


"Baru aja senang, sekarang sudah mencekam kembali" rutuknya dalam hati.


"Ya udah gak usah di bahas dulu, jangan biarkan Sandra memikirkan itu dulu sayang, biar Sandra gak stres, itu akan mempengaruhi hormon nya, nanti malah susah hamil kan." Saka mencoba menengahi kedua istrinya itu, agar perbincangan tadi tidak terus mengular.


"Iya maaf, oia kapan kamu pulang mas?" tanya Rahma.


"Aku besok pulang, malam ini aku disini dulu." ungkap Saka tanpa melirik istri pertama nya itu.


"Aku pikir kamu akan ikut pulang bersamaku hari ini."


Saka menatap wajah Rahma yang terlihat sangat sedih, ia tidak menyangkal perasaan nya terhadap Rahma, ia juga begitu menyayangi wanita itu.


Namun ia harus menuntaskan dulu sesuatu yang tertunda tadi, apalagi ini yeng pertama untuk Sandra, mana mungkin ia meninggalkan Sandra di malam pertama nya.


"Maaf ya, besok aku baru bisa pulang, ada hal yang harus aku selesaikan dulu di sini."


"Baiklah kalau gitu, tapi kita keluar yuk hari ini, aku lihat dijalan tadi ada resto baru mas, tempatnya lumayan nyaman"


"Ya udah nanti jam makan siang kita bareng kesana, kamu mandi dulu aja yang" Kini Saka melirik ke arah Sandra dan menyuruh nya untuk mandi.


"hmmm lagi-lagi yang" Kini Sandra mencibir perkataan suaminya dalam hati. ia tidak rela ada wanita lain yang di panggil sayang oleh suaminya.


"mas aku cuma mau kita berdua aja, udah lama lih kita gak jalan berdua."


"Tapi kan..."


"Sudah mas turuti saja, aku gak apa-apa kok, lagi pula aku belum mau keluar rumah." Sandra memotong pembicaraan Saka dan mengalah untuk tak ikut bersama mereka.


"Baiklah"


Rahma pun tersenyum ia merasa menang saat ini, ia takkan rela kalau suaminya di dominasi oleh Sandra, ia yang lebih berhak atas Saka pikirnya.


Sandra pun menghela nafasnya , ia harus terbiasa dengan keadaan ini, Sandra tahu walaupun ia kini jadi istri Saka, tapi ia harus sadar kalau Rahma lebih berhak atas Saka daripada dirinya.


Dirinya hanya menganggap kalau status nya adalah istri di atas kertas, sungguh memilukan bukan?


Pernikahan yang di inginkan nya adalah pernikahan yang sehat, tanpa syarat dan sakit hati berkelanjutan.


Ia pun sudah memperkirakan akan bagaimana kedepannya, dan ia sudah mempersiapkan hati dan raga nya untuk menyambut segala hal yang akan ia alami nanti.


to be continued

__ADS_1


__ADS_2