
Saka mengantarkan Sandra sampai ke rumah nya, "Saka, terimakasih sudah mengantarku, apa mau masuk dulu?" Sandra mencoba berbagai basi agar tidak terlalu cuek pada laki-laki itu.
"Hmmm sudah malam, tapi boleh lah sebentar." Jawaban Saka membuat Sandra menyesal telah menawarinya untuk masuk ke rumah.
"Lah kenapa dia malah mau ikut sih, aku cuma basa basi doang" rutuknya dalam hati.
"O.. ia oke yuk.."
Saka pun masuk ke rumah nya, rumah peninggalan ayah nya hanya ini satu-satunya yang tersisa, hak nya yang lain sudah berpindah tangan pada orang-orang yang tak bertanggung jawab.
"Sudah lama aku tak ke sini, suasana nya masih seperti dulu, namun sekarang terlihat sangat sepi"
"Ya sepi lah, disini kan hanya kita berdua aja, kalau mau rame sana ke mall" ketus Sandra.
"Heii kenapa harus marah-marah sih San, aku kan cuma bilang gitu aja"
"Ya.. ya.. ya.. mau aku buatkan minum?" tanya Sandra yang kembali jutek.
"Boleh, seperti biasa ya."
Sandra langsung ke dapur untuk membuatkan minuman kesukaan Saka, Kopi hitam yang selalu menjadi minuman favorit nya kalau Saka bertamu ke rumah Sandra.
Tak lama kemudian minuman sudah siap, Sandra duduk di hadapan Saka dan mempersilahkan Saka untuk meminum kopi nya.
"Silahkan diminum"
Saka tersenyum dan langsung menyicip kopi buatan Sandra, yang rasanya masih sama seperti dulu tanpa ada yang berubah.
"rasanya masih sama, enak dan pas" puji Saka yang membuat sudut bibir Sandra sedikit terangkat.
"San, boleh aku bicara padamu?"
"hmm, dari tadi bukannya kamu sudah banyak bicara?" lagi-lagi Sandra menunjukan jutek nya.
"Ini serius San, "
"Ya..." singkat Sandra
__ADS_1
Saka mencoba duduk di dekat Sandra, Sandra pun sedikit bergeser, "Aku hanya mau minta maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu beberapa tahun yang lalu," Saka mencoba menggenggam kedua tangan Sandra dan menatap nya dengan serius.
"Aku sudah lupain semua nya, tak perlu di ungkit-ungkit lagi, hanya akan menyisakan luka yang dalam"
Perkataan Sandra membuat Saka begitu bersalah, meninggalkan wanita yang sangat ia cintai, dan menikah dengan wanita pilihan keluarga nya itu tenyata sangat sulit, namun dengan ke ikhlasan Saka, Saka bisa melewatinya.
"Iya maaf, coba tatap aku!"
Sandra pun menatap Saka dengan tatapan masih ada cinta di kedua matanya, begitu terlihat namun ia sadar diri Saka adalah suami orang yang mungkin sebentar lagi akan menjadi sementara nya.
"Apa kamu masih akan melanjutkan pernikahan kita?" tanya Saka
"Ya, aku harus menepati janjiku pada istrimu, walaupun aku tau aku yang akan banyak terluka di sini."
Saka menghela nafas nya panjang, "aku hanya ingin kamu ikhlas dan tidak terpaksa San"
"Ya aku ikhlas, ini semua demi ibu.." tak terasa bulir bening di mata Sandra mulai menetes ia menangis, ia merasa wanita paling murahan di muka bumi ini.
Saka memeluk Sandra dengan erat, dan Sandra terlihat sangat nyaman di pelukan laki-laki itu, namun tangisnya belum reda malah semakin terisak.
"Sudah jangan nangis, aku akan memperlakukan mu sama seperti aku memperlakukan Rahma"
Saka yang mendengar penuturan Sandra begitu tersayat hatinya, perpisahan mereka tanpa ada nya persetujuan dua belah pihak, perpisahan yang terjadi di antara mereka begitu mendadak.
Hanya pesan singkat yang di tulis Saka untuk Sandra "Maaf aku harus menikah dengan calon dari omaku, kita putus."
Bagaimana tidak sakit hati Sandra menerima kabar seperti itu, di saat Sandra menghubungi Saka yang ingin bertanya tentang keputusan nya, Saka sudah lebih dulu mengulang tanpa kabar, sampai bertahun-tahun pun tidak ada kejelasan.
Dan sekarang mereka di pertemukan kembali oleh keadaan. "Maaf kan aku sayang!"
Sandra langsung mengurai pelukannya, menatap Saka begitu dalam, "apa aku tidak salah dengar, kau memanggilku sayang?"
Saka hanya tersenyum dan tak lama bibir Saka mulai menyentuh bibir Sandra dengan lembut, menyalurkan kerinduan yang selama ini mereka tahan.
Tidak di pungkiri kalau Saka pun begitu merindukan Sandra, keduanya saling menyesap dan saling membelit, sampai suara decapan keduanya terdengar syahdu di ruang tamu itu.
Tangan nakal Saka mulai meraba tengkuk Sandra dan mulut nya mulai berani menjilat dan menghisap leher mulus Sandra, Sandra hanya bisa memejamkan matanya, tak munafik Sandra begitu menikmati sentuhan-sentuhan dari Saka.
__ADS_1
Bahkan kini tangan Saka mulai menangkap sesuatu yang bulat dan besar itu, dibuka nya perlahan kancing kemeja Sandra, dan menampakan bukit kembar yang besar dan indah.
Di angkat lah wadah kacamata ke atas hingga aset kembar milik Sandra terlihat begitu jelas, Saka mulai memasukan nya ke dalam mulut nya, di sesap dan di mainkan bergantian.
Sandra pun mulai mengeluarkan suara-suara erotis, yang sedari dulu sering ia keluarkan di saat sedang bercumbu mesra dengan Saka.
Sedari dulu saat mereka pacaran, gaya pacaran mereka memang seperti itu, namun hanya sampai itu saja tak lebih.
Setelah selesai dengan aktifitasnya sebagai bayi besar yang kehausan, tangan nya mulai membuka kancing celana jeans milik Sandra.
"Tidak, jangan terlalu jauh.. aku ingin kita melakukan nya saat malam pertama nanti." Ucap Sandra yang tak ingin terlalu jauh melangkah, ia akan memberikan mahkota berharganya saat dirinya sudah sah menjadi seorang istri.
Itulah yang di banggakan Saka dari Sandra, Sandra selalu menolak saat Saja ingin meminta lebih, dan Saka pun menghargai apa yang menjadi keputusan Sandra.
"Maaf aku lupa sayang, tapi sekarang bagaimana dengan dia yang sudah bangun." tunjuk Saka pada benda keras di balik resleting celana nya.
"Sekarang temui istrimu, dan minta dia yang memuaskanmu!"
Saka melongo mendengar apa yang di ucapkan Sandra, ia menghela nafasnya kasar membuat Sandra tersenyum puas.
"Emang enak aku kerjain, enak aja mau curi start dulu." ucap nya dalam hati.
"Ya sudah aku pulang," wajah Saka menekuk karena kesal, namun ia tak bisa berbuat banyak.
Namun saat ia akan pulang, Saka menoleh kembali ke belakang dan mencuri ciuman perpisahan mereka, dan masih tetap meremas dua gunung kembar Sandra dengan gemas.
"Terimakasih sayang,"
Saka langsung pulang begitu melihat ekspresi Sandra yang sudah mulai kesal karena selalu seperti itu kalau Saka akan pulang.
Mencuri ciuman dan meremas gunung kembar nya dahulu dan langsung lari menuju mobil nya.
"Gak pernah berubah" Ucap Sandra tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.
***Udah ach pagi-pagi bikin panas aja mereka,
jangan lupa saweran nya bestie..
__ADS_1
cukup like and komen aja othor udah seneng kok..
makasih***...