Rahim Sewaan Sang Mantan

Rahim Sewaan Sang Mantan
Tujuh belas


__ADS_3

Hari ini Saka dan Sandra hanya duduk di taman belakang, sesekali bercanda mengusir rasa sedih yang masih Sandra alami sampai saat ini.


"Sayang, apa kamu mau kita bulan madu?" tanya Saka


Sandra hanya menggelengkan kepalanya, tanpa menjawab pertanyaan Saka, membuat Saka menghela nafas nya.


Tiba-tiba suara HP Saka berdering dan terlihat nama Rahma istri pertamanya menelpon, Saka melirik Sandra meminta jawaban apa harus di jawab atau di abaikan saja.


"Jawab saja mas, aku tak apa."


Saka pun mengangguk dan langsung menjawab telpon Rahma.


"Iya assalamualaikum,?"


"Waalaikumsalam" Jawab Rahma di sebrang sana.


"kenapa sayang?"


"Mas maaf aku ganggu, aku hanya kangen sama kamu, boleh gak aku ke sana?" tanya Rahma, namun Saka tak langsung menjawab ia kembali melirik Sandra yang masih betah bersandar di bahu nya, dan Sandra yang mendengar perkataan Rahma kembali mengangguk tanda menyetujui keinginan kakak madu nya itu.


"Baiklah kalau kamu mau kesini, antar supir ya, jangan sendiri." Saka begitu perhatian pada Rahma karena tak ingin terjadi apa-apa lagi pada istrinya.


Dan akhirnya telpon itu terputus setelah Rahma memutuskan untuk bersiap pergi ke rumah Sandra.


"Sayang, gak apa-apa kalau Rahma kesini?" tanya Saka dengan sedikit tak enak, sebenarnya Saka tak ingin ada yang mengganggu kebersamaan nya dengan Sandra saat ini.Namun kalau menolak Rahma ia juga takut akan menyakiti hati istrinya itu.

__ADS_1


"Memang kenapa kalau mbak Rahma ke sini, dia juga istrimu mas, aku tak masalah kok." ucap Sandra walau dalam hatinya ia sedikit cemburu, pasalnya kalau Rahma ada di antara mereka, Rahma selalu mendominasi Saka, dan seakan menunjukan bahwa Saka adalah miliknya, dan hanya ia yang berhak atas Saka.


"Makanya kita harus bulan madu, biar nanti waktu ku hanya untukmu saja, biar cepat ada Saka junior disini." ucap Saka dan mengelus perut rata milik Sandra.


Namun tak di sangka Sandra malah menitikkan air matanya saat Saka menginginkan agar cepat ada janin yang tumbuh di rahimnya, dan itu berarti akan cepat pula waktu untuk mereka berpisah.


"Heii kenapa menangis,?"


"Aku hanya tak ingin semua cepat berakhir, aku masih ingin bersamamu mas, kalau anak kita sudah lahir artinya aku harus benar-benar pergi dari hidupmu."


Saka langsung memeluk Sandra, ia merasa bersalah karena tidak bisa berbuat apapun saat ini, tapi Saka sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan mempertahankan pernikahannya dengan Sandra.


"Sudah jangan menangis, kita nikmati dulu masa-masa saat ini, kita harus bahagia walau waktu kita hanya sebentar, tapi aku akan berusaha mempertahankan pernikahan kita."


Saka menangkup wajah Sandra, mereka saling menatap terlihat dari sorot mata keduanya mereka sama-sama saling mencintai.


Sandra pun mulai membalas, ciuman lembut itu kini berubah menjadi semakin panas bahkan udara sejuk di taman pun tak mampu membuat panas dari tubuh mereka mereda.


Ciuman yang saling menuntut itu berlangsung sangat lama, hingga berakhir saat keduanya kehabisan pasokan oksigen dalam paru-paru nya.


"Aku ingin apa boleh sekarang?" tanya Saka yang ternyata hanya dengan berciuman saja tongkat bermata satu miliknya itu langsung bangun dari tidurnya.


Sandra tersenyum dan ia hanya mengangguk saja, Sandra berpikir mungkin ini saat nya ia menyerahkan seluruh miliknya pada laki-laki yang sudah Sah menjadi suaminya itu, ia tak ingin egois ia juga harus memberikan hak suaminya itu.


"Yesss terimakasih sayang, yuk kita ke kamar aja." Saka begitu semangat dan langsung membawa Sandra ke kamar dengan menggendong nya ala bridal style, keduanya kembali berciuman, mereka seakan enggan melepaskan pagutan mereka.

__ADS_1


Setelah berada di kamar Saka langsung membaringkan tubuh mungil Sandra di atas ranjang, ia kembali ******* bibir merah muda itu dengan begitu rakus nya, tak memberi celah manapun yang terlewat.


Sandra pun tak ingin kalah ia pun melawan dan ciuman itu pun semakin panas, mereka berguling ke sisi kanan dan kiri hanya untuk sama-sama mendominasi permainan.


Setelah pas dengan bibir sang istri kini bibirnya turun menyisir ceruk leher mulus dan putih milik Sandra, Saka mulai membuat maha karya di sana, gugatan-gugatan kecil mulai Saka berikan di leher Sandra membuat Sandra hanya mampu menutup matanya menikmati semua hal yang di berikan Saka.


Tangan Saka yang terulur mulai menyingkap dress pendek yang di pakai Sandra, dan


Ting tong


Ting tong


Ting tong


Suara bel yang berbunyi membuat keduanya saling terdiam, "Siapa sih jam segini udah bertamu" Sungut Saka yang merasa terganggu, namun ia masih terus melakukan aksinya yang akan membuka dress milik Sandra, tanpa memperdulikan suara bel dan setelah berhasil membuka nya saka langsung melemparnya ke sembarang arah.


namun suara bel kembali terdengar bahkan semakin kencang, "ya sudah mas buka dulu aja, nanti kita lanjut lagi" Kini sandra meyuruh Saka membukanya.


Saka pun langsung turun dari ranjang dengan wajah kesal ia berjalan menuju pintu dan langsung membukanya.


Terlihat wajah Rahma yang sudah mulai kesal karena Saka terlalu lama membuka pintu, Saka benar-benar melupakan kalau Rahma akan datang.


"Lama amat sih mas, aku dari tadi pencet bel gak ada yang buka" Bibir Rahma mengerucut tanda jengkel.


"Maaf sayang, aku udah dari kamar mandi, Sandra juga ada di kamar nya mungkin gak kedengaran ada yang datang" Ucap Saka yang langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"maaf ya tong, kita skip lagi ***.. ***.. nya"


to be continued


__ADS_2