Rahim Sewaan Sang Mantan

Rahim Sewaan Sang Mantan
Dua puluh


__ADS_3

Saka dan Rahma kini menuju rumah Sandra kembali, di perjalanan Saka terlihat sangat dingin kepada istri pertamanya itu, membuat Rahma menghela nafasnya beberapa kali.


"Mas...!" panggil Rahma.


"hmmm.." Saka hanya menjawab dengan sebuah deheman saja.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Apa? tanyakan saja.!"


"Sejauh apa hubungan mu dengan Sandra, kalian terlihat sangat dekat padahal baru sebentar kalian saling mengenal." Rahma bertanya dengan hati-hati tak ingin merusan moment mereka berdua saat ini.


"Kenapa? kamu keberatan aku mulai dekat dengannya? ini kan yang kamu mau? aku lakukan semua ini untukmu, kamu yang memaksa aku harus menikahi gadis itu, dan sekarang aku dekat dengan nya kamu malah seperti tidak tidak terima, aku harus bagaimana lagi RAHMA" Saka langsung mengultimatum istrinya bahkan Saka menyebut nama sang istri dengan lebih menekan nya.


Rahma yang merasa Saka kembali seperti dulu kini hanya terdiam dan matanya mulai berkaca-kaca, ini yang ia takutkan kesalahan sedikit saja membuat mood suaminya berantakan.


"Maaf mas.." cicit Rahma dan air matanya mulai jatuh, Saka yang melirik pun merasa bersalah karena tadi sempat kesal kepada istrinya tersebut.

__ADS_1


"Aku juga minta maaf, aku hanya emosi, sudah jangan bahas masalah ini, lebih baik kita pergi ke taman saja yuk." Saka langsung meminta maaf pada Rahma, ia tak ingin membuat Rahma menangis lagi.


"Tapi makanan untuk Sandra bagaimana kalau dingin?"


"Nanti kita panaskan di Micro wave."


Rahma pun tersenyum suasana hatinya kembali baik, mereka pun akhirnya mampir dulu ke taman sebelum kembali ke rumah Sandra.


Sementara Sandra yang sedang terlihat Badmood kini kembali ke lantai bawah untuk menunggu Saka dan Rahma, " Tadi bilang nya sebentar tapi sampe sekarang belum dateng juga."


Sandra mulai bosan, ia membuka laci di dekat televisi, di lihat nya album foto saat dirinya kecil. Di buka nya foto itu perlahan ada gambar dirinya yang sedang memeluk almarhum ibunya, tiba-tiba air matanya tak bisa ia tahan, keluar mengalir begitu saja tanpa ia minta.


Sandra menangis tanpa henti, ia mengeluarkan air mata yang selama bersama Saka bisa ia tahan, namun sekarang di saat ia sendiri tak ada lagi yang bisa menguatkan hatinya agar tidak kembali terpuruk dalam kesedihan yang mendalam.


Tak hanya satu foto yang ia lihat, ia terus membuka lembaran album itu dengan pelan, banyak kenangan-kenangan indah yang di abadikan dalam foto bersama sang ibu.


" Ibu apakah aku bisa menjalani hidup tanpa dirimu?" gumannya dalam hati membuat air matanya seakan tumpah bukan menetes lagi.

__ADS_1


Kepergian sang ibu menorehkan luka di hatinya begitu dalam, ya sangat dalam. Entah apakah ia bisa meneruskan hidupnya tanpa kasih sayang seorang ibu?


Tiba-tiba wanita itu yang sudah terlihat lelah karena menangis akhirnya memejamkan matanya, dan ia pun mulai tertidur di sofa depan ruang Tv, keadaan nya terlihat sangat kacau, untuk sementara tak ada orang yang bisa menguatkan hatinya, karena sebelah jiwa nya sedang tidak bersamanya.


Di taman kota terlihat sepasang suami istri yang sedang berpegangan tangan, menyusuri jalan setapak dengan di kelilingi bunga dan tanaman lainnya, indah sekali ya memang terlihat sangat indah, bukan hanya taman yang terlihat begitu indah tapi kedua sejoli itu juga terlihat begitu romantis, tidak tahu seseorang sedang menunggu mereka di rumah yang sedang tidak baik-baik saja.


"Mas, lihat keluarga itu mereka terlihat sangat bahagia ya berjalan bersama anak mereka yang baru bisa berjalan." Rahma menunjuk pada keluarga kecil yang sedang membawa anaknya jalan-jalan, mereka terlihat sangat bahagia karena tawa riang mereka yang begitu nyata.


"Iya, mereka tampak bahagia."


"Nanti kalau Sandra sudah memberikan anaknya pada kita, aku juga akan membawa nya jalan-jalan di taman seperti mereka"


Deg


Pernyataan Rahma membuat Saka sedikit enggan, ia merasa Sandra lah yang akan membawa anak mereka di taman itu bukan Rahma yang menjadi sang ibu.


"Astaga aku lupa, Sandra pasti sudah menunggu kita, ayo kita pulang sekarang." Saka langsung teringat pada Sandra dan itu juga alasannya agar Rahma tak mengungkit soal anak untuk sekarang ini.

__ADS_1


To be Continued


__ADS_2