Rainbow - Aku Benci Om

Rainbow - Aku Benci Om
Chapter 17


__ADS_3

Hai hai readers....


mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers...🖤🖤🖤


21+ pembaca di mohon bijak...


Sepasang kaki jenjang berlari, meski ia menggunakan sepatu ber hak tinggi larinya tetap lincah tanpa cela. mendekati ruangan kelas IX ia memperpendek langkahnya. mengatur nafas dan berjalan seperti biasa.


"Selamat pagi anak anak."


"Selamat pagi Bu Alma" seisi kelas menjawab. Ibu Alma tersenyum menebarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas . Ia mencari seseorang.


Matanya tertumpu pada seorang anak remaja yang sedang menahan dagunya dengan telapak tangganya. Ia tampak tidak tertarik dengan apapun sekarang. Rona duka menaungi wajahnya. Ia sembunyikan dengan terus memandangi awan yang beriringan di langit yang cerah.


"Nathan bisa ikut ibu sebentar?"


Anak itu tidak bergeming. Alma berjalan menuju mejanya. Ia menyentuh bahu Nathan.


"Nath...?"


Nathan mengerjapkan matanya.


"Iii.. ibu Alma?"


"Nathan ikut ibu sebentar ya." Nathan mengangguk.


"Anak anak ibu ada perlu sebentar dengan Nathan. Ibu mohon kalian tetap tenang menunggu guru untuk pelajaran selanjutnya!"


"Iyaa Bu..." Alma tau itu hanya omong kosong, satu meter jaraknya keluar dari pintu kelas. Kelas Nathan sudah riuh kembali.


"Nath di minum dulu". Alma menyajikan teh untuk Nathan.


Nathan menjelajahi seluruh ruang BK dengan pandangannya. Dinding berwarna pink pucat ini memantulkan rasa hangat dan nyaman. Sofa yang di dudukinya berwarna senada sederhana tapi sangat nyaman.


Pantas para siswi sering beristirahat di ruang BK dengan alasan ingin curhat dengan Bu Alma. Ternyata ruang BK senyaman ini.


"Nath, ibu mau bercerita sesuatu padamu." Bu Alma duduk di sofa seberang Nathan.


Nathan meraih teh di atas meja mencoba mengalihkan perhatiaanya dari kaki ibu Alma yang menyilang membuat rok ketatnya tertarik sedikit keatas. Paha putih mulus nya semakin terekspos.


"Ada seorang anak perempuan yang tiba tiba saja di tinggal kan ayah dan ibunya di suatu tempat yang asing. Anak perempuan itu menangis setiap hari tempat asing itu membuatnya tidak betah. Tidak satupun teman temannya menyukainya karna bosan mendengar tangisannya."


"Tapi tidak untuk anak laki laki berambut coklat dan anak perempuan berkepang dua. Mereka berusaha menghiburnya, menenangkannya , mereka membawa anak perempuan itu bermain di taman. Menangkap serangga, memberi makan kelinci."


"Mereka berdua menunjukan kalau tempat asing itu bukanlah tempat yang menyeramkan. Karena mereka memiliki satu sama lain. Asal kita mau mengangkat wajah kita sebentar dan melihat keindahan di sekitar kita, tentunya kita akan merasakan kasih sayang dari orang orang uang peduli dan sayang pada kita."


Ibu Alma menyerahkan sebuah bingkai foto kepada Nathan. Air matanya tidak terbendung, dalam bingkai itu tiga orang sedang tersenyum padanya. Ayu memakai wedding dress putih, Ben tersenyum lebar dalam tuxedo putihnya. Dan Ibu Alma di apit oleh kedua mempelai merangkul keduanya.


"Hai ... Nath... Happy.... palentine! Coklat pertama."

__ADS_1


"Nath... Aku ...suka .... rambut barumu. Coklat kedua."


"Be ...mai Valentine ...Coklat ke lima."


"My Prince.. jadian... sama aku yuk! Coklat ke tujuh."


"Aku udah..... suka sama kamu sejak kita kelas .... VII Coklat ke tiga belas."


Dengan setia Lisa kecil membacakan semua kartu di coklat yang Nathan bawa pulang. Sudah setahun kepergian Ben dan Ayu. Lisa kecil sudah mulai lancar membaca.


Semua tulisan ia baca hari ini kartu ucapan dari hadiah valentin Nathan yang ia baca. Bibir kecilnya yang lucu komat Kamit mengeja setiap tulisan yang entah ia mengerti atau tidak artinya.


Sebuah sedan merah memasuki halaman depan rumah mereka. Ibu Alma keluar dari kursi penumpang, seorang pria berjas hitam keluar dari kursi pengemudi.


" My babies... Ayuk dinner sama Tante."


Nathan dan Lisa yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Tante Alma segera bersiap. Nathan membantu Lisa naik ke mobil Mereka duduk manis di kursi belakang, kali ini Tante Alma mengajak Om Denis.


Sesampainya di restoran Jepang favorit Tante Alma tiba tiba tangan Tante Alma di cengkram oleh seseorang.


"Hehhh lepasin" Teriak Tante Alma.


Om Denis segera menghampiri Tante Alma dengan sekali pukulan membuat laki laki kasar tadi jatuh tersungkur.


"Cih... Dasar P**acur. Baru kemarin kamu putus dari aku sudah bersama pria lain."


"Fabian kita sudah tidak ada hubungan. Please jangan bersikap seperti ini". Tante Alma berusaha menenangkan Om Denis.


"Lepaskan aku Al biar ku robek mulut laki laki tidak tau malu ini." Wajah Om Denis menghitam menahan kemarahan.


"Hoho... Kau menyebutku tidak tau malu. Kau tidak tau siapa sebenarnya perempuan ini, dia Pela..." sekali lagi tinju om Denis menghantam rahang laki laki itu.


"Aku akan menuntut mu baji***, aku mengenalnya sudah lebih lama darimu. Aku membiarkannya bermain dengan laki laki sepertimu agar wanita ku bisa melihat seperti apa laki laki yang menjadi mainannya." Tendangan Om Denis mendarat di perut laki laki itu.


"Ayo sayang..." Om Denis menggandeng Tante Alma yang menggandeng Nathan dan Lisa.


Kejadian seperti tadi sudah biasa terjadi, terlalu banyak laki laki yang mengejar Tante Alma. Kadang Tante Alma ' Mencoba' beberapa di antaranya.


Tapi Tante Alma akan tetap kembali ke pelukan Om Denis. Nathan dan Lisa dapat melihat betapa berartinya Tante Alma bagi Om Denis.


"Nathan... Lisa... Dengerin Om Den ya..." Tante Alma sedang ke toilet. Nathan dan Lisa memusatkan perhatiannya pada Om Denis.


"Saat kesepian jangan berteman dengan kesepian itu, carilah orang yang tepat untuk menemanimu mengusir kesepian kalian".


"Gimana kita tau orang itu tepat atau engga om?"


Om Denis tersenyum mengacak rambut Nathan. "Hidup adalah perjalanan Nath, kalau kamu kesepian dalam perjalanan perjalanan itu akan membosankan. Terus berjalan membuat kamu tau apa arti dan tujuan perjalanan mu. Arah perjalananmu menentukan siapa teman perjalanan yang tepat untukmu."


Lisa manggut manggut. " Si kecil Lisa udda ngerti. Kalo Lisa gede mau punya pacar kayak siapa?" tanya Om Denis.

__ADS_1


"Kaya Om Nathan" Lisa menunjuk Nathan.


Nathan dan Om Dennis tertawa.


"Hayo lagi ngobrolin apa?" Tante Alma datang.


"Rahasia donk" Canda Om Denis.


Mereka larut dalam tawa.


🖤🖤🖤


Mata Lisa melotot dagu nya jatuh. Semenit lamanya Lisa hanyaa bengong seperti sapi ompong. Otaknya kosong mendengar kata kata Nathan.


"Hmmmmppphh.... Hahahahahaa"


"Om Nath becandanya kelewatan ahh..." Lisa melepaskan genggaman tangan Nathan.


Nathan tertawa berguling guling di karpet. Ekspresi Lisa sangat menggelikan bagi Nathan, Lisa berdiri dan langsung keluar dari ruangan itu.


" Hei my Sweetie mau kemana... "


"Bodo...."


"Om Nath cuman becanda... "


"Males..."


"Kalo ngambek cantiknya ilang Lis " Lisa tidak menghentikan langkahnya. Ia terlanjur malu, prank Nathan kali ini benar benar membuat jantungnya akan meledak.


Nathan cuman geleng geleng kepala menyaksikan kepergian keponakannya.


Malamnya saat sampai di rumah Nathan langsung menuju kamar Lisa . Sejak tadi tak satupun pesan atau telpon Nathan Lisa hiraukan. Sepertinya Lisa benar benar marah kali ini .


Beberapa kali Nathan mengetuk pintu kamar Lisa tapi tidak ada jawaban. Nathan akhirnya memutuskan untuk masuk, netra Nathan menangkap siluet punggung Lisa di tempat tidur.


"Lisa sayang..." Tidak ada jawaban.


"Lis maafin Om kalo tadi Om Nath udda kelewatan..." Zero reaction.


"Lisa... " Nathan menyentuh pundak Lisa pelan, membelai rambutnya. Ada yang aneh dari suara nafas Lisa , Nathan segera membalikan tubuh Lisa.


Wajah Lisa pucat, bulir bulir keringat sebesar jagung berjatuhan dari keningnya. Nathan meletakan telapak tangannya di kening Lisa . Panas membakar telapak tangannya.


"Om Nath jahat. Lisa benci Om.."


Bersambung


Terus ikuti cerita Nathan dan Lisa yaa...

__ADS_1


mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗


sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... 🖤🖤🖤🤗🤗


__ADS_2