Rainbow - Aku Benci Om

Rainbow - Aku Benci Om
Chapter 24


__ADS_3

Hai hai readers....


mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers...🖤🖤🖤


Nathan berbalik karena seseorang memanggilnya.


Ia mengerutkan keningnya melihat seseorang berseragam coklat berlari mendekat.


"Perasaan Kapten Ri bilang BAP sudah selesai" Nathan bergumam.


Seseorang itu tangah memegangi lutut dan terengah engah. Karena berlari mengejarnya, Nathan memang sangat terburu buru. Ia kawatir pada Lisa yang di rumah hanya bersama Zian dan Manda.


"Hai Nath... Hah hah hah..."Seorang petugas polisi wanita menyapanya.


"Hai... " Dengan bingung ia menatap polisi wanita itu, kok bisa polisi menyapanya dengan akrab.


"Nath ini aku, Bianca..." Masih terengah engah.


Mata Nathan membulat, "Bianca? Kok kamu...?"


Nathan menghentikan kata katanya hanya telunjuknya yang berbicara menunjuk seragam yang di pakai Bianca sekarang.


Wanita cantik itu menunjukan deret gigi nya yang putih. Dengan santai ia menyentuh lengan Nathan menggiringnya keluar dari parkiran.


" Sini aku ceritain..." Dengan luwes Bianca menggandeng lengan Nathan.


"Sori Bi gue ga bisa lama. Kasian Lisa..."


"Gue udah baca hasil interogasi tersangka penusukan. Lu mau denger ga?"


Nathan garuk garuk kepala, " Entar aja Bi gue dengerin nya, gue pulang dulu."


Sekilas, wajah manis Bianca berubah. Tapi hanya dalam satu kedipan mata. Wajah cantik itu kembali tersenyum.


"Bawa aja Name Card gue , sapa tau lu butuh Nath."


Nathan menerima kartu nama berlatar hitam itu dengan enggan. Nama Bianca tertulis dengan tinta emas tertulis lengkap dengan pangkat No telpon serta alamatnya.


"Oke Bi, ntar gue kontek elu ya."


"Oke Nath , gue tunggu." Bianca mengedipkan matanya ringan.


Mau tidak mau Nathan tertawa, kedipan itu adalah cara Bianca menebar pesona kecantikan nya . Tidak berubah sedari dulu.


🖤🖤🖤1st


"Sttt... Lisa mana?"


"Ehh elu Nath, kirain apaan? Lisa nooh jalan ama Manda ke Minimarket depan komplek..."

__ADS_1


"Ape lu bikang Zi...? Kok bisa Lisa lu izinin keluar dalam sikon kayak gitu Zi... Kok lu ga ngelarang Manda kamreeet itu bawa Lisa keluar... Kalo Lisa kenapa Napa gimana. Kalo tangannya bedarah lagi gimana ... Kalo..."


"BUSSEETTT NATH LU KAYAK IBU KOST BENERAN."


"Sekalian aja lu tulis depan pager tuh, terima kost kostan... Ya ampun Nath... Yang luka itu tangannya Lisa udda di jait Ama Rean. Lha elu si Om Nath tersayangnya di telpon ga di angkat angkat."


Nathan memeriksa ponselnya, saat proses pembuatan Berita Acara Pemeriksaan di kantor polisi. Ia mematikan ponsel nya, saat ingin menyelam kembali Nathan di kejutkan dengan kehadiran Bian.


"Sorry Zi, gue panik. Kan Lisa masih sakit." Nathan hanya bisa cengar cengir menyambut petasan cabe dari Zian.


"Lisa yang sakit, lu yang bawel. Nath Napa sih lu ga sekalian aja pacaran Ama Lisa , toh lu Ama dia ga ada hubungan darah sedikitpun kan?"


Brukkk...


Tumpukan buku yang ingin ia pindah kan jatuh menimpa kakinya.


"Lu ngom sembarangan ya Zi, gue ingetin sekali lagi ya Lisa itu ponakan gue. Masih kecil, gue bukan pedofil dan ga akan pernah jadi pedofil. Gue ga pernah punya perasaan sedikitpun ma Lisa. Gue ga akan pernah suka Ama ponakan gue sendiri."


Hening... Petasan cabe melempem. Krik Krik suara jangkrik. Nathan hanya bisa memandang sebal pada makhluk hidup di depannya.


Nathan kembali ingin memunguti buku buku yang berserakan saat seseorang secepat angin lewat di sebelahnya dan membanting pintu kamarnya.


Brakkkkkkk...


Nathan tergagap , Manda berdiri di pintu dengan menenteng kantung belanjaan. Berarti angin topan yang lewat tadi adalah...


"Om Nath... Manda pulang dulu ya... Laptop Manda perlu di bawa ke service." Manda meletakan kantung belanjaan dengan hati hati di meja.


Nathan mencoba tersenyum pada Zian dan Manda. Setelah mereka pulang, Nathan menutup pintu dan memastikannya terkunci.


Jendela tidak ada yang terbuka, tadi pagi Nathan sudah memberi kunci ekstra untuk semua jendela tersebut.


Di depan pintu kamar Lisa ia menarik nafas , mempersiapkan kata kata untuk menghibur Lisa . Walaupun dirinya tau Lisa tidak akan terhibur apapun kata yang terucap darinya.


"Lis... Lisa ... Boleh Om Nath massuk?"


Ga ada jawaban.


"Lisa ... Lisa marah sama Om?"


Hening.


Cekreekkkkkk... Nathan membuka kamar Lisa , tubuh itu sedang berbaring menghadap dinding. Membelakangi Nathan.


Ia duduk di tepi tempat tidur Lisa , tangannya berbegerak membelai lembut rambut Lisa.


" Lis... Lisa marah?"


"Bodo...." Suaranya tertutup oleh bantal.

__ADS_1


"Lisa Om Nath salah ngomong yaa?"


"Ga tau pikir aja ndiri..."


"Engga kayaknya ya... "


"Iyee engga..."


"Kok Iya engga... Om Nath salah apa engga?"


"Ga tau ... Sana Om Lisa mo tidur..." Sahut Lisa ketus.


"Geseran Lis... Om Nath juga mau tidur..." Dengan tubuh nya Nathan menggeser Lisa semakin merapat ke dinding.


"Apaan sih om .. Lisa sempit nihh.."


" Om juga Lis ... Om Nath harus banyak istirahat..."


"Om Nath... Yang kena Pisau Lisa... Kok Om Nath yang perlu banyak istirahat?" Lisa duduk menatap Nathan dengan bingung.


"Iya Om Nath hampir aja serangan jantung tau..."


Greebb... Tangan Nathan membawa Lisa kedalam pelukannya.


Irama jantung Nathan mengalun lembut di telinga Lisa. Sedangkan irama jantung Lisa kayak orang demo... Ga teratur banget...


"Lis... Lisa ga denger apa apa kan tadi?" Nathan membelai lembut kepalanya.


"Tau..." Gue baru inget kan tadi gue lagi ngambek


"Lisa segalanya buat Om. Dan ga akan pernah berubah. Maaf kalo kata kata Om ke Zian tadi bikin Lisa marah ya..." Kecupan kecil nan ringan mendarat di keningnya.


Lisa merasa sekarang bukan hanya jantungnya yang mau meledak. Nafasnya juga hampir lepas. Lisa ga mau menatap Nathan ia takut Om Nath tau kalo Lisa baper berat sekarang.


"Lis... Lisa tidur?" Nathan menatapnya. Cepat cepat Lisa menutup matanya.


"Hmmm... "


"Tidurlah malaikat kecilnya Om. Mimpi indah ya..." Usapan lembut di kepalanya membawa Lisa larut dalam perasaannya sendiri.


*Engga ... Gue ga boleh kayak gini... Gue ga boleh berharap lebih pada Om Nath.. Selama ini Om Nath sudah berbuat banyak buat gue. Dan Om Nath berhak buat bahagia, gue ga pengen jadi beban Om Nath ...


Gue pengen yang terbaik buat malaikat penjaga gue dari kecil... Apapun yang terjadi jangan sampe perasaan ini jadi beban buat Om Nath..


Lisa sayang Om Nath..Sampai kapanpun Lisa akan tetap sayang sama Om Nath*...


Bersambung


Terus ikuti cerita Nathan dan Lisa yaa...

__ADS_1


mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗


sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... 🖤🖤🖤🤗🤗


__ADS_2