
mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers....💖💖💖
21+ silahkan pembaca bijak...
Lisa menggigit jarinya, Menarik... Ali terlalu sia sia untuk di lewatkan.
Wajahnya kecil tidak ssperti laki laki pada umumnya, hidungnya Bangir kulitnya putih, memang agak terlalu putih dannnnn yang menarik adalah matanya hijau zamrud kayak mata Heri poter.
Lisa menjepitkan penjepit kertas di poni nya yang menutupi kening sampai matanya. Lisa tidak pernah melewatkan mata itu, awalnya ia hanya ingin berteman dengan Ali yang kikuk.
Tapi mata itu membuatnya jatuh hati, sueerr ganteng abis nee anak kalau gaya dikit. Ali memandangnya heran, ia menarik penjepit ingin menarik penjepit kertas itu tapi Lisa menahan tangannya.
"Babe, biarin kayak gitu..." Lagi lagi Lisa betah ngeliat Ali , muka nya emang beneran enak di liat.
"Udah dong Lisa , aku mohon jangan tatap aku terus" Ia menaikan Hoodie nya berusaha menutupi wajahnya.
Lisa tertawa merdu, "Kamu tau ga kamu ganteng?" ia mencubit hidung itu.
Gemas melihat wajah Ali yang memerah ia mengecup pipi itu.
"Ehhemmm Nona dan anak muda yang di belakang, tolong yaa ini dikelas. Kalau mau pacaran di luar aja. Jangan dikelas saya." Dosen magisternya Ali menegur mereka dengan keras, Mahasiswa lain tertawa.
Kelas magister kebanyakan isinya adalah mahasiswa senior. Senior dalam arti yang sebenarnya.
Muka Ali semakin merah, sewarna dengan Hoodie yang ia kenakan. Ia masih ingin mengikuti perkuliahan, tapi konsentrasi nya sudah pecah karena gadis ini.
Dengan santai Lisa melenggang keluar kelas sambil menggandeng tangan nya. Ali membungkuk serendah rendahnya pada Dosen yang mengajar.
Sesampainya di luar, Ali melepaskan tangannya. Lisa berpaling, selama berhubungan dengannya Ali tidak pernah sekalipun kasar padanya. Muka Ali tidak terbaca.
"Lis maaf, kita udahan aja ya... Maaf aku ga bisa bareng kamu lagi" Ali pergi meninggalkannya begitu saja.
Lisa mengejarnya.
"Ali maafin aku, aku keterlaluan ya... Sekali ini maafin aku yaa... Jangan tinggalin aku dong, kita baru aja ketemu lagi setelah sekian lama... yaa yaa.. " Ali tak mengindahkannya.
"Siaaaaalllll... " Ia berteriak, tidak perduli dengan tatapan orang yang lalu lalang.
"Kemarin Jamie, sekarang Ali.. Abis dong cow gue.. " ia menghentakan kaki jenjangnya dengan kesal.
Jane berjalan gontai menuju meja makan, perut nya lapar belum diisi setelah percintaan nya dengan Nathan.
Kulitnya memerah, tapi ia menyukainya setelah Nathan pulang dari Kalimantan ini pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah sekian bulan lamanya.
__ADS_1
Sambil mengunyah roti tawar Jane masih ingat bentukan tombak Nathan. Ia sudah berkali kali melahapnya, tapi sayangnya Nathan tidak pernah sekalipun memasukannya kedalam miliknya.
Jane sangat penasaran dengan rasanya, "Ukuran lumayan, enak pasti yaa... Hemmm..."
Jane berkali kali membayangkan ia melakukannya dengan Nathan , pasti ia akan sangat nikmat.
Seseorang masuk dan duduk dengan lesu.
"Baru juga Dateng, sudah eneg gue liat muka lho. Sana gih jangan Deket gue!"
"Cewek aneh, lu juga yang ngapain tumben tumben nya jam segini ada di rumah. Kagak kerja lu?"
"Gue cuti tol*l, selama gue cuti awas lu sering sering di rumah. Males gue liat poni aneh lu!".
"Serah gue lah , rumah rumah gue ngapain lu yang sewot." Ia menyeret ranselnya dengan malas kekamarnYa di lantai dua rumah itu.
tanpa melepas sepatu ia merebahkan tubuhnya di kasur. Kejadian hari ini terekam jelas di benaknya, belum satu jam ia sudah menyesal memutuskan Lisa.
"Arrgghh... mulut beg*... ngapain juga lu putusin cewek secantik itu". Ali sering membayangkan tubuh Lisa di atas tubuhnya di kamar ini seperti beberapa bulan yang lalu.
Kakaknya yang judes itu lagi kerja, Ali engga tau lagi harus bawa Lisa kemana. Sedangkan laporannya menumpuk belum ada satupun yang ia kerjakan. Akhirnya dengan berat hati Ali mengajak nya kerumahnya.
"Ga papa nih ikut aku kerumah? Ntar kamu bosen?"
"Kalo aku bosen tinggal peluk peluk kamu... " Lisa mengecup pipinya. muka Ali lagi lagi memerah, ia tidak pernah terbiasa dengan ciuman itu.
15 menit, Lisa masih anteng maen game di ponselnya.
30 menit, ia beralih ke drama Korea.
55 menit, Lisa mulai mengelilingi kamar Ali, membuka setiap laci, menyentuh semua benda yang ada dikamar itu.
1 Jam
"Kamu masih betah ngetik, badan kamu emang gak kaku?" Lisa memulai pijitannya.
"Lis, apaan ah geli."
"Aku pijeti kamu babe."
"Pijetin apaan, tangan kamu hihihi ... tangan kamu bikin aku geli sayang..."
Tangan Lisa berhenti, baru kali ini Ali memanggilnya sayang. Ali mengamati ekspresinya Lisa . Perlahan ia mendekati Lisa .
__ADS_1
"sayang..." Ia mengulang panggilannya sekali lagi.
"Ali kamu, beneran sayang sama aku?" Lisa menatapnya tak percaya.
Ali hanya mengangguk, ia memberanikan diri memeluk gadis itu. Tapi sepertinya Lisa belum siap di peluk, ia terhuyung. Tak siap dengan gerakan tiba tiba tubuh Ali limbung. Mereka terjatuh di atas kasur Ali, mata mereka bertemu, Ali melihat dirinya di mata itu.
Sejurus kemudian Ali menempel di bibir Lisa yang lembut seperti es krim. Matanya terpejam baru kali ini ia mencium seorang perempuan, dengan nalurinya ciuman itu berubah menjadi kecupan yang magis.
Padahal ia baru melakukannya pertama kali tapi sepertinya ia sudah mengenal bibir itu. Ia menjelajah sampai kedalam, menemukan banyak hal manis di sana.
Keluar desahan kecil dari mulut Lisa, tangannya membelai lembut rambut Lisa. ciuman mereka semakin dalam, semakin lama, semakin panjang, siapa yang duluan entah . Ketika ia sadar kemeja yang di pakainya sudah terlepas, Kaos Lisa sudah tidak ditempatnya.
Adegan demi adegan kembali terbayang di kepalanya, tubuh Lisa begitu hangat, kulit dengan kulit melekat satu sama lain.
"Lisa aku sayang kamu".
Air mata mengalir di pipinya. Betapa bodohnya dirinya meninggal kan Lisa begitu saja tadi.
Sementara Lisa...
"Sam, aku bete"
"Aku jemput kamu bentar lagi ," Suara bariton menjawab.
"Mau kemana emang?"
"Driving aja, mau ikut ga" Suara itu terdengar tak sabaran.
"Boleh deh, aku lagi di ...."
Cittttt... Ban mendecit, sebuah SUV berada di hadapanya. Jendelanya terbuka, wajah Tirus dengan kulit kuning Langsat tersenyum miring.
"Stalker sialan" umpat Lisa.
"Biarin, tapi Lo suka kan" Sam memakai kacamata hitamnya
"Asem lu, ... " Sambil tertawa Lisa melemparkan tas nya ke jok depan, SUV itu meluncur membelah jalanan kampus Pasca sarjana yang mulai sepi.
3 Jam berlalu, Lisa lelah menunggu Ali yang pergi gitu aja. Dari cowok cowok yang jadi pacarnya padahal Lisa berharap banyak pada Ali.
Angin lembut menyapu wajahnya, Lisa memandang keluar kaca mobil itu. Goodbye Ali, I wouldn't Miss you..
Terus ikuti cerita Nathan dan Lisa yaa...
__ADS_1
mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗
sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... ❤️❤️❤️🤗🤗