
Hai hai readers....
mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers...🖤🖤🖤
Crazy Up yaa Gengs 3 Chapter sekaligus 🤗🤗🤗
"Gue baru pegang hape. Lu bilang tadi pagi lu sakit?"
Suara di ujung sana terdengar kawatir.
"Heeh..."
"Gue juga pengen sakit ... Terus lu yang jadi perawat gue , pake two piece ya..."
Lisa buru buru menutup panggilan. Jangan pernah telponan sama Sam di atas 3 menit. Omongannya ga bakal jauh dari paha dada kaya ayam kentaki.
"Siapa Lis?"
Nathan membawa buah potong di nampan. Tangan Lisa sudah selesai di jahit oleh Dokter Rean. Nathan dengan setia menggenggam tangan Lisa saat lukanya di jahit. Luka di lengannya tidak begitu dalam hanya cukup panjang di jahit dengan 15 jahitan oleh Dokter Rean.
Saat proses penjahitan luka asisten Rean hanya tersenyum melihat tingkah Nathan yang seperti emak emak ngeliatin anaknya di sunat.
Berkali kali Nathan bertanya apakah sudah selesai. Padahal ia sendiri membuang muka saat lengan Lisa sedang di jahit. Asisten Rean malah heran Lisa yang di jahit lengannya hanya sedikit berjengit saat di lakukan perawatan , sementara Nathan lah yang berkeringat dan mengaduh aduh. Rean hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Nathan.
"Boss tengil nya Lisa Om". Ia mencoba menggerakkan lengan nya, tapi gerakannya tertahan.
"Sakit ya Lis?" Nathan buru buru menghampiri Lisa. Tangannya kembali gemetar menahan perasaan yang berkecamuk di dadanya. Matanya kembali berkabut.
__ADS_1
"Engga Om, cuman dikit aja."
Wajah Lisa sedikit lebih berwarna sekarang, meskipun tidak kehilangan banyak darah sepertinya Lisa sangat syok dengan kejadian tadi.
Lisa menyebut Ali, entah Ali siapa Ali baba atau Ali babu Ali bebe. Nathan merasa sekarang bukan saat yang tepat untuk bertanya.
Nathan menyerahkan obat yang telah diresepkan Rean untuk menghilangkan rasa sakit karena jahitannya.
"Lisa minum obat dulu. Biar bisa enak istirahat nya."
Lisa mengangguk dan tersenyum ia menerima obat dari tangan Nathan dan segera meminumnya.
"Ehmm... Om di sini aja ya." Lisa menggenggam tangannya. Nathan membalas genggamannya.
"Iya Lisa Om Nath di sini sama Lisa. Istirahat ya Lis. Rean bilang darah Lisa emang ga banyak hilang. Tapi Lisa tetep harus banyak istirahat."
Rean memperingatkan Nathan akan adanya Post Traumatic Stress Disorder atau sering dikenal PTSD. Sebuah kejadian yang membekas akan mengakibatkan trauma setelahnya.
Rean berharap Nathan untuk beberapa hari kedepan tetap memantau keadaan Lisa baik fisik maupun Psikis.
Ponsel Lisa bergetar di atas nakas, nama Manda tertera pada layar ponsel.
"Halo Manda?"
"Ehhh... Om Nath? Lisa mana Om."
"Lisa lagi sakit Man. Kenapa mau ngobrol sama Lisa yaa?"
__ADS_1
"Engga sama Om Nath aja..." Manda terkikik centil.
Nathan tertawa, sedikit ketegangannya mereda.
"Manda lagi sibuk ga?"
"Engga sih Om, Manda lagi di Alice. Makanya Manda mau minta Lisa Dateng kesini."
"Manda ke sini aja, buat again Lisa. Bisa ga Man?"
" Bisa Om bisa... Manda Otw sekarang ya..."
"Makasih banget Manda."
"Iya Om Nath ganteng, gitu aja pake makasih. Hahahaha". Manda mengakhiri panggilan.
Nathan memandang wajah kecil Lisa sedang tertidur. Terdengar suara pintu terbuka, Nathan sigap meraih pisau yang tadi ia gunakan untuk memotong buah.
Tap... Tap... Langkah kaki semakin mendekat ke kamar Lisa. Dengan gesit Nathan keluar dari kamar dan...
Bersambung
Terus ikuti cerita Nathan dan Lisa yaa...
mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗
sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... 🖤🖤🖤🤗🤗
__ADS_1