Rainbow - Aku Benci Om

Rainbow - Aku Benci Om
Chapter 25


__ADS_3

Hai hai readers....


mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers...🖤🖤🖤


Aroma menyegarkan mengunci Indra penciuman Nathan. Di sela sela mimpinya Nathan merasakan sapuan di pipinya.


Suara yang akrab di telinga dan hatinya berbisik , "Terima kasih untuk segalanya Om Nath."


Nathan terbangun dan melihat tempat tidur Lisa dalam keadaan kosong. Panik Nathan bangkit dari tempat tidur, ia mencari ke kamarnya , ke depan, ke dapur. Tapi keberadaan Lisa nihil.


Nathan menyambar ponselnya pukul 8 lewat 15 menit. Apakah mungkin Lisa berangkat ke kantor?


Ia menghubungi ponsel Lisa , dalam dua kali dering ia mendengar suara Lisa.


"Halo Om Nath udah bangun?"


"KENAPA LISA KE KANTOR? OM JEMPUT SEKARANG."


"Plis Om ini penting buat Lisa , baru seminggu Lisa dapet pekerjaan ini. Masa harus izin satu Minggu.!"


"Tapi Lisa...uiu


"Om Nath, Lisa juga kepengen bahagiain Om Nath.."


"Om Nath selalu bahagia Lisa, Lisa ga pernah ngecewain Om." Suara Nathan melembut, ia tau keponakannya sedang berjuang keras untuk hidup yang lebih baik.


"Selalu dukung Lisa ya Om.."


Hening...


"Lisa kalo lukanya sakit langsung hubungi Om Nath ya."


"Siap Om ... "


"Ya uddah, Om di Alice. Makan siang di Alice ya... Om tunggu."


"Oke Om Nath..."


Lisa menutup panggilan. Nathan duduk kembali di kursi dapur. Sekarang malaikat kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang mengerti akan tanggung jawab.


Waktu boleh berlalu, tapi ia akan selalu menjaga Lisa sampai kapanpun. Nathan berjanji pada dirinya sendiri di depan pusara Ben dan Ayu. Sampai kapanpun Lisa adalah tanggung jawabnya sebanyak apapun waktu yang mengalir hal itu tidak akan berubah.


🖤🖤🖤1st


Sam memandang Lisa yang sedang kesusahan menulis notulen rapat hari ini. Tangan kanannya berbalut perban yang sepertinya masih baru.


Sejak pagi Lisa datang dengan senyum secerah mentari pagi. Tapi hanya di sambut dengan tatapan dingin dari Sam.


Sambil merapikan tumpukan berkas di atas meja Sam ia mengamati roman wajah tirus itu.


"Awww...." Gerakannya terlalu terburu buru. Perbannya terantuk gunungan berkas.


Sam mendadak berdiri, "Sakit...?" Ia menyentuh perlahan punggung tangan Lisa yang tidak tertutup perban.


Lisa menggeleng dan tersenyum, "Ga papa Pak."


Sedikit demi sedikit ia memilah milih tumpukan file. Lengannya memang tidak terasa sakit apabila digunakan untuk bergerak , tapi kadang gerakan mendadak membuat Lukanya terasa sedikit nyeri.

__ADS_1


Sam diam, ia tidak bertanya apapun walau melihat perban di tangan Lisa menghiasi sepanjang lengan sampai sikunya.


"Hari ini kita akan meeting dengan Daddy." Sam memecah keheningan.


"Hah?? Baik Pak." Lisa tergagap, ia ingat kala pertama kalinya ia bertemu dengan ayah Sam . Setelah kegagalan nya dalam interview sebagai Staff Marketing Officer, tapi ia malah di terima sebagai Sekertaris Junior di PT BAU.


Di seberang ruangan berdinding kedap suara, seorang pria paruh baya dengan setelan jas coklat tersenyum, di sebelahnya tidak lain tidak bukan adalah Sam tukang bikin tensi naik.


Lisa menebak Pria itu adalah ayah Sam, bibir tipis dan senyum miring keduanya sangat identik.


"Selamat siang Lisa."


Pria itu mengulurkan tangan.


"Siang Om eh maaf Pak".


Pria itu tertawa renyah, tidak seperti suara Sam yang dalam dan berat suara Ayah Sam lebih ringan dan hangat.


"Don't , just call me Sam."


"Sam .Tapi anak anda namanya juga Sam Pak?"


"Hahahaha... Dia Samudra aku Sam Tirta Adrian." Tawanya khas, ia senang mendengar Ayah Sam tertawa. Suaranya tertawa mengundang orang lain untuk ikut tertawa bersamanya.


"Tapi Pak, eh Om eh Sam..."


"Panggil Daddy aja Lis." Lisa melirik pada Sam kecil, yang di lirik hanya mengangkat bahu.


"Ehmm... Daddy, apa ga aneh anak dan ayah sama sama memiliki nama Sam?" Aku menengok lagi pada Sam kecil, ia dengan cuek memandang ke luar jendela.


"Suka suka Daddy aja, ngasih nama. Mending di kasih nama dari pada No Name." Si nyebelin sudah mulai buka suara.


Pintu terbuka, Lisa tersadar dari lamunannya. Kali ini tubuh atletis pria paruh baya itu berbalut setelan jas Biru laut dengan dasi Orange. Karna Sam Senior sudah tampan dari sananya jadi menurut Lisa pakai baju apapun bagus bagus aja.


Sedangkan Sam kecil di belakang Lisa berlagak menirukan adegan muntah pelangi.


"Lis... Bagus ga style Daddy hari ini?" Tubuhnya berputar layaknya seoranh model catwalk profesional Sam Senior berjalan mengelilingi Ruang kerja Sam Kecil sambil berpose.


Lisa bertepuk tangan, dengan sigap ia mengambil kamera bergaya seperti Fotografer. Semakin bersemangat Sam Senior kali ini melepas jas nya dan menyampirkannya ke bahu. Kemudian Jas itu ia sampirkan ke lengannya dan berpose menghadap ke samping. Lalu...


"Eheemmm..." Sekertaris Ana masuk. Sebagai Sekertaris Senior sekaligus pawang dari Sam Senior, Sekertaris Ana dengan mudah membalikan suasana.


Sam Senior buru buru memakai kembali jasnya. Dengan gaya maskulin ia membetulkan letak dasinya yang sedikit bergeser.


"Ehmmm... Jangan lupa ya Sam , Lisa kita meeting setengah jam lagi." Ia melangkah keluar ruangan. Lisa harus menahan tangannya untuk tidak bertepuk tangan atas keberhasilan Sekertaris Ana meredakan tingkah Sam Senior.


"Lisa... Tangan kamu kenapa?" Sekertaris Ana menyentuh puncak kacamatanya. Sudah menjadi gayanya saat berbincang serius atau sedang tertarik dengan sesuatu ia akan menyentuh puncak kacamatanya.


"Ga papa Bu. Hanya tergores sedikit." Lisa menyembunyikan lengannya di belakang punggungnya.


"Apa kamu punya musuh?" Sekertaris Ana memandangnya tajam.


"Tii.. Tiiiidak ada Bu." Lisa menggeleng cepat. Entah hanya tebakan atau memang intuisinya sebagai Sekertaris Senior memang tajam. Tebakan Sekertaris Ana sangat tepat.


"Hemmm... Jaga dirimu baik baik. Kau harus pintar menjaga dirimu. Sebelum kau menjaga Sam Kecil." Secepat ia datang secepat itu pula ia pergi.


Sam menarik tangan Lisa yang tidak terluka, "Sebenarnya lu kenapa Lis? Sejak kemarin gue susah banget hubungin lu. Lu bilang lu sakit, tapi lu Dateng tangan lu kayak guling puskesmas."

__ADS_1


Mau tidak mau Lisa tersenyum mendengar idiom konyol itu.


"Aku ga papa Sam..."


"Gue ambil telpon, 5 menit lagi juga gue udah tau apa yang sebenarnya terjadi. Lu pilih cerita sekarang atau gue beresin masalah ini dengan cara gue sendiri." Alis tebalnya hampir bertaut, wajahnya merah kemarahan Sam sudah tidak dapat ia bendung lagi. Lisa memilih mengalah.


"Semuanya udda beres Sam , pelakunya sudah di tangkap."


"Pelaku apa Lis.. Lu di rampok?"


Lisa menggeleng, ia mulai bercerita saat ia kebanyakan makan seblak dan harus di rawat di rumah oleh dokter Rean sahabat Nathan. Lalu Nathan pergi sebentar ke apotik untuk membeli obat yang telah di resepkan dokter Rean.


"Lalu dia datang... Dia bawa pisau awalnya gue berhasil menghindar, tapi saat..."


Greebb... Kedua lengan Sam memeluk Lisa, ia menenggelamkan kepalanya di bahu Lisa.


"Sam... Aku ga papa..." Lisa mengelus kepala Sam.


Sam tidak menjawab, hanya membenamkan wajahnya semakin dalam. Tubuh itu sedikit bergetar, Lisa balas memeluknya mencoba mengatakan dirinya baik baik saja.


Sam mengangkat wajahnya,ia mengamati wajah , tangan, kaki , mengangkat rambut Lisa memeriksa apakah ada luka lain lagi yang fatal.


"Sam... Aku baik, Setelah belatinya kena lenganku. Om Nath datang, dia langsung di banting sama Om Nath. Aku ga pernah ngeliat Om Nath semarah itu."


"Siapa? Siapa bajin*an yang berani ngelakuin ini ke kamu Lis?"


Lisa terdiam, takut mengatakan yang sebenarnya. Ia takut Sam akan melampiaskan kekesalannya pada Ali.


"Kalaupun Lu tau pelakunya gue harap lu tetap tenang Sam. Gue sama Om Nath sudah menyerahkan semuanya ke Polisi..."


"Hahahahaa..." Sam tertawa bengis, Lisa merinding mendengar tawa itu.


"Darah mesti di bayar darah Lis... Gue ga akan lepasin ..."


Bruukkk... Lisa menghambur ke pelukan Sam.


"Lu sangat berarti buat gue Sam. Gue ga pengen lu ngelakukan kesalahan yang bakal bikin lu nyesel. Serahin semua ke polisi Sam."


Lisa membenamkan wajahnya di dada Sam. Tangan besar Sam mendarat di puncak kepala Lisa, mengelusnya perlahan. Lisa mengangkat wajahnya, berharap ia melihat wajah Sam yang lembut yang dikenalnya dengan baik.


Perlahan Senyum miring itu terukir, "Please, be safe Lis... Gue ga akan bisa maafin diri gue kalo sampe ada hal buruk yang datangin elu. Dan gue janji, hal kaya gini ga akan terulang lagi."


Lisa tersenyum ia melepaskan pelukannya , tapi tangan Sam menahan punggungnya.


"Tetep kayak gini, gue suka te** lu empuk banget."


Bughhhh...


"Awwww....." Seru Lisa dan Sam bersamaan. Sam kesakitan karna perutnya dapet bogem mentah.


Sedangkan Lisa kesakitan karna tangannya yang luka harus terpaksa mengeluarkan jurus untuk si campppret Sam.


Sam buru buru meraih tangan Lisa dan mengelus elus nya lembut. "Please , be safe always..." Ia mengecup puncak kepala gadis itu lembut.


Bersambung


Terus ikuti cerita Nathan dan Lisa yaa...

__ADS_1


mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗


sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... 🖤🖤🖤🤗🤗


__ADS_2