
Hai hai readers....
mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers...🖤🖤🖤
Sam me menepikan SUV hitamnya. Ia menarik nafas panjang, Berkali kali ia mengusap wajahnya dengan tangan mencoba mengusir bayangan kesakitan Lisa menahan sakit di lengannya.
"Arggggh....."
Sam menenggelamkan wajahnya di roda kemudi. Kali ini ia kecolongan. Kali ini ia gagal melindungi sesuatu yang ia anggap sangat berharga. Ia memejamkan mata perlahan, sejak melihat Lisa di lobby berbincang dengan beberapa security hatinya bergejolak senang. Lisa ternyata sudah sembuh dari sakit.
Ia merasa ada yang salah dari penampilan Lisa pagi itu. Akhirnya ia memperhatikan perban yang menyelimuti lengan kecil Lisa, menutupi daerah pergelangan tangan sampai ke siku. Apa yang terjadi padanya?
Ia ingin melangkah menghampiri Lisa saat itu juga, tapi pikirannya menahannya. Ia harus tenang... Lisa pasti akan bercerita padanya di kantornya nanti. Ia hanya melewati Lisa.
Saat Lisa memasuki ruangan, ia masuk dengan tenang. Tapi bukannya malah bercerita pada Sam tentang peristiwa apa yang menimpa dirinya, Lisa malah sibuk merapikan berkas di atas meja Sam. Tingkahnya semakin membuat Sam naik pitam.
Tangannya meraba ponsel di laci dashboard. Ia menemukan nya dan memanggil sebuah nama. Pada dering pertama...
"Ya..."
"GUE MAU DENGER SELENGKAPNYA." Ia menggeram marah,seharusnya kemarin ia langsung bertindak saat mendapat laporan kalau Lisa di ikuti seseorang.
"Kejadiannya hari Minggu kemarin, pelakunya orang yang di temui Nona Lisa di kampus X. Sabtu Nona Lisa pulang terburu buru dari Caffe milik Om nya. Minggu pagi seorang laki laki datang seperti nya teman lama dari si Om , si Om keluar sebentar meninggalkan Nona Lisa sendirian di rumah. Pelakunya masuk dengan mudah karena rumah tidak dalam keadaan terkunci. Nona Lisa sempat melakukan perlawanan, tapi lengannya tergores oleh benda tajam yang dibawa oleh pelaku. Pelaku berhasil di lumpuhkan oleh si Om. Kemudian di amankan oleh pihak berwenang..."
"Kenapa Lisa tidak di bawa ke RS ?"
"Sepertinya teman si Om itu adalah dokter Tuan. Sesaat sebelum polisi datang ia sudah datang duluan beserta seorang berbaju perawat."
"Apakah lukanya cukup parah?"
"Saya rasa masih bisa ditangani dengan Home Care Tuan."
"Cari tau separah apa lukanya."
"Baik Tuan."
B*jingan culun itu harus menerima hadiah khusus dariku. Tunggu saja breng*ek berani beraninya ia menyentuh perempuanku ...
__ADS_1
Sam kembali menyalakan mesin, membiarkan jendela terbuka membuat dinginnya angin masuk menerpa wajahnya . Mencoba menghilangkan kemarahannya karena Perempuan yang ia cintai telah di sakiti oleh orang lain.
SUV hitam itu kembali membelah jalanan membawa Sam ke tempat dimana ia bisa mengusir penatnya sejenak.
🖤🖤🖤1st
Langkahnya terhenti, beberangka langkah di depannya di sebuah meja di sudut Alice in Wonderland seorang pria dan wanita tengah asik berbincang bak sepasang kekasih.
Dengan malas Lisa membalikan badan, pemandangan itu sudah ia nikmati berpuluh puluh tahun. Ia selalu harus menelan bulat bulat bagaimana tingkah dan aksi para perempuan perempuan itu menarik hati Om Nath.
Lisa meninggalkan pemandangan di mana Om Nath tengah asik berbincang dengan seorang wanita berseragam pihak berwajib.
"Sial... Om Nath lagi kecantol sama pejabat publik kayaknya." Gumam Lisa dalam hati.
"Hai Lis ."
Sebuah sapaan mengejutkannya, juga mengejutkan Nathan. Saapan itu keluar dari bibir tebal nan Sexy milik seorang pria berwajah Arab tapi berkulit kuning Langsat dan bermata sipit.
Suara Sember itu tidak lain tidak bukan berasal dari Zian Abdullah. Sahabat Nathan sejak SMP. Sejak Ayu dan Ben membawa Nathan ke rumah mereka, sejak itu pula lah Nathan dan Zian bersahabat, Rumah Nathan hanya berjarak 4 buah rumah dari rumah Zian. Walaupun saat SMA Zian pindah ke lingkungan lain. Ia dan Nathan tetap berteman karena tetap bersekolah di satu SMA yang sama.
Seseorang memegang kedua bahu Lisa. Om Nath sudah berdiri di belakangnya saat Lisa sibuk menatap dandanan Zian yang kali ini terlihat sangat ... Hmmm... Good looking.
"Woooo... Pamer sama ponakan gue lu Zi?"
"Ya iyalah. Ini adalah salah satu Ikhtiar gue buat ngedapetin salah satu cewek yang nongkrong di Caffe lu. Karna Lisa juga ada di sini sekalian juga biar Lisa sendiri bisa liat. Ketampanan sahabat Om nya."
Lisa tertawa kecil, sulit baginya untuk tidak tertawa saat bersama satu satunya sahabat Om nya ini.
"Kak Zian sewa dimana?" Lisa terkikik.
"Sembarangan aja lu Lis. Asli tau... Mau gue keluarin SIM terbang gue? Ujarnya sombong.
"Kak Zian... Buat Lisa pribadi Uniform Kak Zian ga ngaruh. Saat saat memalukan yang Kak Zian lewatin bareng Om Nath lebih dominan di kepala Lisa . Hihihi."
"Hooh... Salah satunya di kejar anjing pak Samosir sampai celana lu sobek gara gara lompat pager." Tangan Nathan bergerak mengelus elus puncak kepala Lisa , Lisa sendiri mencoba mengabaikannya.
"Yang paling ngenes inget ga Om waktu Kak Zian nembak temen sekolah Lisa pake surat. Suratnya ketuker Ama surat cowok yang suka Ama Lisa . Trus tuh cowok malah jadian Ama temen Lisa yang di taksir Ama Kak Zian."
__ADS_1
Nathan dan Lisa tertawa terpingkal sampai keluar air mata. Refleks Lisa menyetuh sudut mata Nathan menghapus air matanya yang keluar saat tertawa.
Yang di tertawakan juga ikut menertawakan diri sendiri.
"Hai... Kok pada ketawa sih." Sebuah suara merdu yang terdengar di buat buat di telinga Lisa datang dari arah belakang.
"Ehh... Iya nih Lisa masih ingat sama Bianca?" Nathan melirik Lisa sekilas.
Benar dugaan Nathan dengan ekspresi tidak suka yang bener bener nyata, Lisa memelototi wanita itu.
"Ohhh... Bianca yang dulu kunciin Lisa di toilet itu ya Om?"
Jedeeng.... Kerutan kecil yang hampir samar muncul di ujung bibir Bianca.
"Ehhh Lisa masih inget yaa kejadian dulu? Itu dulu cuman salah paham Lisa. Kan Kaka udda bilang kalo kunci toiletnya rusak." Bianca berusaha tersenyum semanis mungkin. Tapi Lisa masih bisa melihat bibirnya berkedut.
"Hahahahaha... Iya aneh yaa toilet kok langsung rusak habis di pake sama TANTE yaa." Suara lisa melengking, seperti saat dulu ia sangat suka menirukan suara Bianca yang terkesan di buat buat merdu.
Alarm di kepala Nathan berbunyi.
"Bi, ngobrolnya kita lanjutin lain kali ya. Aku mau bawa Lisa ke klinik dulu." Nathan bersegera menggandeng tangan Lisa membawanya jauh.
"Iya Nath. Ntar aku telfon ya." Bianca coba tersenyum, ia tidak ingin Nathan kembali tergelincir gitu aja dari tangannya.
Nathan hanya mengangguk kecil. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada Lisa dan berbicara pelan di telinga Lisa.
Merasa masih di awasi oleh Bianca , nekat Lisa menyampirkan tangan Nathan ke bahunya.
"Rasain dasar nenek sihir. Ga puas puasnya deketin Om Nath dari dulu." Omel Lisa dalam hati.
"Awas lu anak kecil. Kali ini Nathan pasti bakalan jadi milik gue." Janji Bianca dalam hati.
Akan kah ada perang antara Bianca dan Lisa?
Terus ikuti cerita Nathan dan Lisa yaa...
mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗
__ADS_1
sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... 🖤🖤🖤🤗🤗