Rainbow - Aku Benci Om

Rainbow - Aku Benci Om
Chapter 18


__ADS_3

Hai hai readers....


mohon vote , Like and Rate 5 bintangnya ya readers...🖤🖤🖤


Nathan mengambil handuk kecil dan baskom untuk mengompres dahi Lisa. Dulu sekali ia sangat fasih melakukan ini, Lisa kecil sering sekali di dera demam saat tubuh kecilnya kelelahan terlalu banyak menangis.


Jaket yang masih Lisa pakai sehabis pulang jalan ia lepaskan.


Nathan membasuh wajah Lisa dengan handuk hangat basah, menyapu lembut kulit putih Langsat itu. Handuk hangat itu ia gerakan ke lehernya belakang telinga.


"Pastikan seluruh tubuh di kompres dengan handuk hangat agar pori pori terbuka dan suhu tubuh dapat di lepaskan lewat pori pori". Kata kata Tante Alma terngiang selalu di benak Nathan.


Tapi... Sekarang gadis di hadapannya sudah berusia 22 tahun. Seluruh tubuh???


Nathan tersenyum pada wajah di depannya, dengan lembut ia meraih tangan lisa. Menyapukan handuk hangat dari jari jari sampai lengan atasnya. Pindah ke kaki, kaki kecil yang selelu mengejarnya dulu sekarang sudah tumbuh menjadi kaki yang ramping yang indah.


Dengan segenap konsentrasi Nathan membasuh kembali handuk itu untuk menjaganya tetap hangat. Mengompres kaki Lisa sampai ke batas wajar.


Lisa mengerang pelan, tubuhnya berbalik memunggungi Nathan. Baju nya sedikit tersingkap.


Nathan mengelap punggung serta perut Lisa dengan handuk hangatnya. Dan kembali merapikan pakaian Lisa.


Blakk


Lengan Lisa tersampir di pinggangnya. Nathan tersenyum. Dengan perlahan ia meraih tangan itu dan mengelapnya dengan handuk. Saat Lisa kecil cara seperti ini lah yang ampuh untuk menurunkan suhu tubuhnya.


Nathan memandang wajah itu. Kelopak matanya yang kecil seperti Ayu, hidungnya yang lancip seperti Ben, sedangkan bibir kecil yang tidak bisa diam itu adalah perpaduan dari keduanya.


Nathan menyentuh bibir itu dengan jari jarinya. Perempuan terindah yang pernah Nathan temui ada di hadapannya.


" Tidurlah malaikat kecilku." Nathan mengecup puncak kepala Lisa.

__ADS_1


🖤🖤🖤1st


Sepeninggalan Dokter Rean, Nathan menatap jalan, tiba tiba perasaannya tidak enak menghampiri nya.


" Lis... Ehm gimana? Sudah enakan belum?"


"Lumayan om. Abis sarapan bubur sarang walet ya Om Nath Lisa pasti langsung ngerasa baikan." Tapi wajah itu masih terlihat pucat. Nathan merasa bersalah telah mempermainkan Lisa kemarin.


"Lisa... Om minta maaf ya... Harusnya om ga bilang aneh aneh kemarin..." Nathan duduk di tepi ranjang, mengelus elus kepala Lisa .


"Iye... Jail banget sih jadi Om" Lisa memanyunkan bibirnya.


"Hahahahaha... Abisnya kamu pake nanya type idealnya Om kayak gimana segala. Om jadi gemes"


"Awww sakit Om" Lisa mengelus pipi nya yang di cubit Nathan.


Perasaannya sudah lebih baik hari ini. Seharusnya ia tidak marah marah pada Nathan kemarin, tapi entah kenapa Lisa kesel saat Nathan bilang cuman bercanda. Padahal...


"Om mau ambil HP dulu di kamar ya!"


"Om Nath, kalo mau ke apotik Lisa boleh nitip sesuatu ga ?" Lisa sudah kembali merebahkan dirinya.


Nathan kembali masuk ke kamar Lisa.


"Nitip apa Lis? "


"Lisa kepengen makan buah Om sama cemilan yang asin asin."


Nathan menghentikann jemarinya, ia tadinya ingin memesan ojek online untuk membantunya ke apotik.


"Ya uddah Lisa mau buah apa?"

__ADS_1


"Lisa mau melon sama apel, pepaya, nanas, ..."


"Tukang buahnya Om Nath bawa sini ya..


"


Lisa tertawa, "Becanda Om ku sayang,"


Nathan mengacak acak rambutnya.


"Ya uddah Om Nath jalan dulu."


"Bye..." Lisa melambaikan tangannya dari atas tempat tidur.


Mobil silver itu keluar dari halaman rumah itu, netra dari dalam Jeep hitam mengamati situasi. Lalu ia mengeluarkan sebuah belati kecil. Dari ukurannya belati itu memang kecil, tapi lihat saja belati ini cukup untuk mengoyak daging seseorang.


Ia turun dari dalam Jeep, wajahnya sudah tertutup sempurna walaupun rumah ini mempunyai CCTV ia yakin tidak akan di kenali.


Pagar berkarat di halaman rumah terbuka dan memang selalu terbuka. Dari beberapa pengamatannya pagar itu tidak pernah tertutup.


Ia menyebrangi halaman depan dalam beberapa langkah ia sudah sampai di depan pintu. Ia yakin pintu itu tidak terkunci, pengamatannya selama beberapa hari tak akan sia sia.


Trekkk... Handle pintu terbuka, ia melewati ruang depan. Ia mengintip ke ruang tengah. Ada dua pintu kamar yang sama persis. Dirinya belum pernah memasuki rumah ini sebelumnya.


Ia merasa telapak tangannya berkeringat, dengan gemetar. Belati yang di genggam nya ikut bergetar. Dengan tangan kirinya ia meredam getaran di tangannya. Ia sudah sampai di sini dan ga akan bisa mundur lagi.


Terbayang lagi apa yang beberapa hari yang lalu ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Tekadnya sudah bulat, perempuan itu harus mati di tangannya.


Bersambung


Terus ikuti cerita Nathan dan Lisa yaa...

__ADS_1


mohon tinggalkan komen, komen kamu sangat berarti buat aku lhooo ,🤗🤗🤗


sekali lagi readers ini konten dewasa, bagi yang berumur di bawah 21 tahun mohon pengertiannya.... 🖤🖤🖤🤗🤗


__ADS_2