
Siang hari itu juga sebuah email tiba, Arini kembali gemetar ketika membukanya. Ia baca dan baca berulang kali. Seakan ia tidak yakin apa isi email itu.
Danur mendekat kearah Arini, ia tau sebuah berita bagus telah datang.
"Mas..email dari ibu Tuti manager HRD sudah datang, mau liat?"
Danur menoleh kearah ponsel Arini dan mulai membaca betita itu.
"Alhamdulillah! Yes! kamu diterima di Citibank!"
Danur lebih mendekat dan mencium pipi Arini.
"Sebaiknya kita keJakarta besok mas, soalnya bu Tuti mau memperkenalkan aku kepada manager Legal.. gimana menurut mas Danur?"
"Ya..kayanya semua sudah selesai disini..nanti kita tanya mbok Narti apa masih disini atau kembali kerumahnya, pade lainnya sudah pulang tinggal mbok Narti aja"
"Hari ini kita pamitan ya sama pak RT dan beberapa warga yang dekat dengan ayah dan juga ayahmu"
Danur menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Katanya kamu mau bawa foto foto ayah, itu sudah aku siapkan semua diamplop..mau aku masukan kekopermu?"
"Ayuk sekalian kita packing dulu, kalo gitu kita pamitannya setelah jam 9 aja ya"
...○○○○○...
Ditempat lain diruang kantor pak Murjono, seorang anak muda duduk disebuah kursi sofa menghadap kearah pak Mur. Sejenak pak Mur melihat penampilan anak muda sangat mewah.
Sebuah jam Rolex menempel ditangan, pasangan jasnya pasti kalau tidak Armani atau Boss. Rambutnya tersisir rapih kebelakang seperti layaknya para bintang sinetron.
"Apa yang bisa saya bantu disini?" tanya pak Murjono.
Dengan sedikit mendehem, Hendri membuka sebuah amplop putih besar yang ia keluarkan dari tas jinjingnya.
"Kami dari Great Mountain project sudah memperhatikan dan mempelajari progres perusahaan pak Murjono. Tahun demi tahun kita melihat kenaikan dalam pengembangan usahanya dan itu bagus sekali..Kami tau bapak adalah pemilik satu satunya grup Maha Karya Indonesia ini. Dulu, waktu bapak masih miskin dan menjadi driver papa saya telah dibantu dengan pinjaman dana sebesar 25juta"
__ADS_1
Pak Mur mulai mencium tanda tanda tidak baik, kenapa pihak Hari Sukoco memperhatikan dan mengikuti perkembangan perusahaannya dan juga kenapa anak muda ini bicara mengenai dana yang ia dahulu kala?
Anak muda itu mendehem sedikit dan meneruskan..
"Karena pinjaman dari papa itulah pak Mur mengembangkan usahanya sebab kalo tidak ada dana pinjaman maka bapak dulu tetap menjadi driver bahkan hari inipun mungkin masih jadi driver..Nah oleh karenanya, papa berpikir bahwa kini sudah saatnya pak Mur kembali membantu grup kami"
"Maksudnya membantu bagaimana?" tanya pak Murjono mulai kebingungan.
"Papa ingin masuk sebagai partner, jadi papa akan mempunyai setengah saham dari perusahaan Maha Karya Indonesia. Dan papa ingin agar saya duduk sebagai CEO dari Maha Karya"
Pada saat itu pak Mur hampir saja tertawa, tapi ia masih bisa mengontrol diri.
Pertama tama orang ini gayanya seperti orang sombong datang bertemu tanpa senyum, kedua Hari Sukoco yang ia tidak tau sepak terjang usahanya tiba tiba ingin masuk menjadi pemegang saham dan ketiga tanpa malu malu minta anaknya menjadi CEO? Gila apa mereka?
"Begitu ya..Ini merupakan suatu kejutan bagi saya apalagi anda yang notabene belum pernah saya kenal sebelumnya ingin menjadi CEO diperusahaan kami ini..Jadi, begini saya akan bicarakan dulu di meeting dengan management atas permohonan ini"
"Ini ada proposal dari Great Mountain Project, selain surat proposal disana ada sepuluh anak perusahaan kami yang bisa menjadi acuan dalam proposal ini" ucap Hendri sambil menyerahkan sebuah buku tebal berukuran A4.
Pak Mur tidak menerima buku itu..ia hanya membiarkan Hendri meletakkannya diatas meja.
"Sebentar..proposal semacam ini tidak bisa kita rangkum dalam 1 minggu apalagi, ini menyangkut keterlibatan perusahaan lain yang ingin menjadi partner kami" potong pak Mur agak jengkel.
"Ya..bapak inget inget saja dulu kan kalo tidak ada papa saya mana ada Maha Karya Indonesia..iya kan?"
"Apa ini suatu tekanan? Kedengarannya seperti blackmail?"
"Maaf..kalo saya sudah berkata sejujurnya..tapi silahkan bapak pikirkan dan bucarakan dengan management bapak saja dulu"
Pak Mur sebetulnya ingin berdiri dan mengusir tamu yang sombong ini..wajahnya jadi mengencang dan jengkel bukan main.
"Ada lagi yang hendak dibicarakan?" Soalnya hari ini saya ada meeting penting dengan pihak bandara udara Cengkareng" pak Mur langsung to the point.
"Hmm..saya rasa cukup sudah, oke tolong ya pak dipelajari..Oya, nanti apabila saya sudah duduk sebagai CEO, saya minta seketaris bapak didepan itu menjadi sekpri saya..karena dia pasti sudah banyak mengetahui seluk beluk perusahaan"
Pak Mur benar benar muak melihat gaya dan bicara anak muda ini. Ternyata ada ya orang model begini? Wow!
__ADS_1
Pak Mur mulai berdiri, ia masih membiarkan buku proposal diatas meja. Hendri anak muda itupun berdiri dan berjalan kearah pintu keluar.
Tidak lama ia memanggil Nani.
"Oh ya, bagaimana pak?"
"Haha..saya baru dapet tamu yang sangat aneh! kamu duduk dulu saya mau cerita"
Pak Mur mulai menceritakan semuanya dan ia katakan bahwa mulai saat ini apabila ada call atau minta waktu untuk meeting agar dikatakan pak Mur tidak ditempat.
"Iiii..ada orang kaya gitu ya pak? Lagian saya tidak mau pak jadi sekpri orang itu! gayanya kaya sultan..Semoga bapak tidak mau kongsian sama mereka"
"Aah ngapain? kita tuh ga bisa asal menggabungkan satu pwrusahaan dan lainnya begitu saja..Haha aneh dan lucu mereka"
"Oya pak, tadi waktu bapak meeting mba Tasya call apa jadi makan dirumah atau tidak"
"Oke terima kasih nanti saya call Tasya..eh Nani"
"Ya bapak?"
"Siapapun orangnya tidak akan bisa ambil kamu, bapak sayang sama kamu" ucap pak Mur sambil mengerdipkan satu matanya dan tersenyum.
"Trima kasih bapak, besok jadi makan malam?"
"Jadi dong..book tempat biasa ya"
"Siap!" jawab Nani dan juga melepaskan senyum yang indah.
Setelah Nani keluar, gantian pak Mur garuk garuk kepala.
Hmmm..kacau nih..pikir pak Murjono. Begitulah keadaannya dengan pak Mur,..diam diam dia mempunyai cerita sendiri yang ia simpan rapih rapih. Hanya dia dan Nani yang tau rahasia cinta diantara mereka.
Ayah Nani pak Burhan telah meninggal dunia, dulu ia adalah kepala cabang Bandung untuk urusan kurir antar Jawa Barat. Pak Burhan memperkenalkan Nani di Bandung ketika pak Murjono melakukan pemeriksaan wilayah. Nani kala itu baru saja selesai kuliah business administrasi.
Pak Mur mengatakan lebih baik Nani bekerja magang dikantor pusat. Waktupun bergulir dan seiring perjalanan waktu mereka saling merasakan adanya cinta. Diam diam merekapun menjalin hubungan, kini sudah berjalan 4 tahun semenjak pertama kali pak Mur mendaratkan ciuman mesra dibibir Nani...
__ADS_1
...■■■■■...