
Pak Murjono Ali beserta istri dan Tasya telah tiba diJogja pukul 7 pagi dan mereka langsung kekediaman rumah Arini.
Ternyata dirumah duka itu sudah penuh orang yang datang baik sanak saudara maupun tetangga. Mereka semua menoleh kearah rombongan kecil pak Murjono yang turun dari mobil Mercedez Benz.
Danur yang melihat kedatangan mereka langsung berdiri dan menyambut. Wajah Danur terlihat letih tapi ia berusaha untuk tetap sigap.
"Selamat pagi bapak ibu dan juga Tasya, sebentar lagi kita akan menshalatkan pak Darmadi. Mumpung belom ditutupi kain kafan monggo kalau mau liat untuk terahir kali"
Mereka berjalan melewati banyaknya orang yang duduk bersila diatas tikar. Pak Darmadi adalah seorang kepala RT setempat selain ia terkenal baik hati pak Darmadi juga terkenal seorang uang selalu siap membantu warganya apabila mereka dalam kesusahan. Itu terbukti dengan membludaknya warga yang hadir.
Pak Murjono dan keluarganya duduk bersila disamping tubuh pak Darmadi yang terbujur diatas sebuah dipan kayu.
Lewat setengah jam kemudian pak Rekso bersama beberapa saudara pak Darmadi mulai mempersiapkan shalat jenazah. Danurpun menyiapkan dirinya sebagai imam.
Tasya nampak berusaha memeluk Arini yang tiba tiba melemas dan ahirnya pingsan dipelukannya. Dengan sigap Tasya mengambil sebuah kipas kecil dan mengibaskan kearah Arini. Mbok Narti salah satu saudara dekat pak Darmadi juga ikut mengoleskan sedikit minyak wangi didekat hidung Arini.
...○○○○○...
Pada saat yang sama tanpa diketahui pak Murjono Ali telah mendarat di Jakarta, Hari Sukoco seorang pengusaha batu bara dari Hong Kong. Hari Sukoco adalah saudara jauh pak Murjono, ia seorang kaya raya dan pengusaha besar bahkan salah satu mall besar diJakarta juga miliknya.
Tanpa pemberitahuan ia langsung datang kekantor pak Mur dibilangan Tebet. Halmana membuat Nani seketarus pribadi pak Mur kebingungan.
"Maaf bapak..pak Mur hari ini sedang diJogja menghadiri pemakaman sahabatnya. Apa bisa saya bantu?" tanya Nani.
"Oh keJogja ya..pantesan saya kirim pesan whatsapp tidak dibalas..gini, bilang saja saya ada diJakarta perlu bicara sama dia..penting sekali"
"Baik bapak..saya akan beritahukan kepak Mur hari ini"
"Jangan lupa ya..saya nginep di Kemang Residence. Saya dan keluarga di suite 101..kasih tau ya"
Sepeninggal tamu tidak diundang itu, Nani menjadi heran, semua tamu yang akan datang sudah terjadwalkan. Siapakah pak Hari ini? Dan kalau melihat gayanya agak sombong dan sedikit otoriter.
Nani akan menunggu sampai sore, ia kawatir saat ini pak Mur pasti sibuk dengan pemakaman.
...○○○○○...
Ahirnya, selesailah acara pemakaman pak Darmadi. Meskipun lemas tidak berdaya, Arini mencoba menegarkan dirinya.
Segenggam bunga dan juga bongkahan kecil tanah ia taburkan diatas pusara ayahnya.
"Danur..kita pulang yuk, biarkan ayah istirahat dengan tenang" ucapnya kepada Danur.
__ADS_1
Iring iringan rombongan beranjak kembali pulang kerumah Arini.
Hampir seluruh keluarga besar pak Darmadipun pamit pulang, tinggal beberapa paman dan bibi saja yang tinggal.
"Kami ijin kembali kehotel, nanti sore kita kembali lagi kesini" ucap pak Murjono kepada Arini dan pak Rekso.
Danur ikut mengantar mereka kemobil.
"Danur, kamu disini saja sampe lusa..bantu Arini dengan segala keperluan disini" ucap pak Murjono sebelum masuk kemobil.
"Siap pak, terima kasih" jawab Danur.
...○○○○○...
"Arini..kamu istirahat yang dikamar, biarkan saya dan bapak membersihkan rumah..lagian masih ada beberapa bibi disini" ucap Danur yang sedih melihat kondisi Arini yang lemah.
"Ga apa apa ya Danur..soalnya aku lemas sekali"
"Bentar..aku minta mbok Narti temenin kamu"
"Ya makasih, nanti menjelang sore aku dibangunin ya..soalnya akan banyak yang datang malam ini"
...○○○○○...
Kira kira jam 3 sore kala itu pak Mur sedang duduk dipool hotel bersama Tasya dan istrinya, tidak lama ponselnya berdering. Hmmm..ada apa dengan Nani? pikirnya.
"Halo Nani apa kabar?"
"Pak..mohon maaf sekali mengganggu..tadi pagi ada tamu datang mencari bapak tapi keliatannya penting sekali" ucap Nani.
"Loh siapa Nani?"
"Beliau namanya pak Hari Sukoco dari Hong Kong"
Dheg..jantung pak Murjono serasa berhenti. Ia tau siapa dia. Dulu waktu dia baru saja masuk Jakarta, ia pernah bekerja sebagai rekanan bisnis orang ini. Dan bahkan ia meminjam dana agar ia bisa membesarkan usaha yang baru dirintisnya.
Meskipun pada ahirnya semua pinjaman sudah ia lunaskan tapi, orang ini selalu bergaya bahwa dia telah membantu dirinya menjadi besar dan sering minta bantuan yang diluar kemampuannya.
Pak Mur tidak suka dengan gayanya yang sombong dan arogan. Sekarang dia muncul lagi, mau apa dia?
"Oh bilang saja saya akan kembali lusa..tidak apa apa itu teman lama" kata pak Mur.
__ADS_1
"Oh baik pak..nanti kalau beliau minta nomor ponsel bapak apa saya kasihkan?" lanjut Nani.
"Boleh saja"
"Baik pak, terima kasih dan maaf menggangu"
"Oke tidak apa apa"
Selesai pembicaraan itu, perasaannya jafi tidak enak..ia sebetulnya malas ketemu orang ini. Semoga dia tidak minta bantuan lagi seperti dulu.
"Siapa pah?" tanya istrinya.
"Si Hari datang dan mau ketemu" jawab pak Mur sambil melihat keair di pool.
"Hari? Hari Sukoco yang di Hong Kong? Alah mau apa lagi dia?"
"Ga tau ya..sudah lama kita tidak ketemu..aku sebetulnya malas banget ketemu sama dia..gayanya itu lho, kaya orang terkaya sequoia dan ucapannya sering menyakitin orang"
"Ya udah..papah ga usah nemuin aja"
"Pinginnya begitu..tapi, kita dulu pernah ditolong secara besar besaran..dan kamu inget tanah dan rumah kita hampir disita sama bank, aku break down bahkan mama juga nangis tiap malam karena Tasya sering sakit...tapi karena dia tolong, ahirnya kita selamat..karena itu aku merasa selalu berhutang budi sama dia"
"Ya aku inget sekali malam malam yang kelam..Tasya sakit kita ga punya wang untuk kedokter, bahkan makan setiap hari hanya malam saja, yang penting Tasya kenyang..semoga aja dia datang ga neko neko"
"Insya Allah..aku berenang dulu ah, airnya seger banget" ucap pak Mur dan langsung menceburkan diri kekolam renang.
...○○○○○...
Setelah semua rapih dan kembali bersih, Danur duduk dengan ayahnya diteras rumah pak Sudarmadi.
"Dan..rumah ini memberikan banyak kenangan manis bagiku" ucap pak Rekso.
"Oh maksud ayah gimana?"
"Aku inget kamu masih umur 4 tahun, waktu itu Arini baru lahir. Ya ditempat kita duduk ini..Aku sama Darmadi duduk disini, ngopi sama ngroko, dulu ayah perokok berat..dia bilang gini, Ndut..aku dipanggilnya Ndut karena aku kan agak gendut, Ndut kamu inget janji kita? kita berjanji akan menjodohkan anak anak kita..Ya aku inget dong..gitu jawab ayah. Dia bilang, semoga ankku tumbuh jadi pintar dan cantik kita besanan ya..ayah bilang oke aku setuju..dan janji itu ayah pegang erat Danur.." pak Rekso menarik nafas panjang, Danur melirik melihat kedua mata ayahnya berkaca kaca.
"Ayah..kalau Arini setuju, janji ayah akan aku teguhkan.." jawab Danur.
Pak Rekso menoleh dan memeluk putra satu satunya sambil menepuk nepuk punggung Danur.
...■■■■■...
__ADS_1