
Meriah sekali acara makan malam dirumah pak Mur. Ayahnya Danur sudah tiba diJakarta dan ikut acara makan malam, Danur datang bergandengan tangan dengan Arini, gadis itu terlihat begitu cantik jelita mengenakan rok hitam ketat sedengkul dipadu dengan baju batik tang indah warnanya.
Dedipun hadir disana, bu Junita tersenyum gembira melihat semuanya hadir penuh dengan tawa dan canda.
"Baiklah..setelah perut kita semua kenyang, saya akan sekali lagi memberikan kata selamat dan congratulations kepada Danur, Marilah kita panjatkan doa kepada yang maha kuasa agar Danur sukses dalam mengemban tugas yang mulia ini..Aamiin"
Semua yang hadirpun mengatakan kata Amin dan satu persatu memberikan jabatan tangan.
Ketika, semuanya sedang sibuk saling ngobrol pak Mur mendekat kearah pak Rekso.
"Aku mau bicara sebentar..yuk diluar" Ajaknya kepada sahabat lamanya. Pak Mur menggandeng tangan pak Rekso berjalan kearah veranda dan duduk diteras rumah.
"Aku ngerasa ko tidak dalam keadaan prima mas" ucap pak Mur.
"Maksudmu gimana?" tanya pak Rekso.
"Belakangan ini jantungku sering berdetak kencang dan ujung ujung kakiku dingin.."
"Loh..apa sudah cek ke doktermu?"
"Itulah..dokter bilang aku harus istirahat total..makanya kepemimpinan aku serahkan kepada Danur..aku pikir dialah satu satunya penerusku..anakmu itu cerdas dan dewasa sekali..aku yakin dia bisa sukses"
"Aamiin..Insya Allah, aku berterima kasih bahwasanya sampeyan memilih dia untuk meneruskan perusahaanmu yang besar ini"
"Aku kan dulu pernah bilang, Kalau salah satu anak kita laki laki dan pintar dia yang akan mengangkat kita ketingkat puncak..dan ternyata dari kita bertiga, kamulah yang mendapatkan anak laki laki..Alhamdulillah"
"Mungkin acara malam ini akan aku tinggalkan dulu, kayanya aku perlu istirahat.." ucap pak Mur dengan nada pelan.
"Ya sudah..mas Mur istirahat dulu..biarkan mereka bersenang senang dulu..ga apa apa ada aku dan bu Junita"
Pak Mur kemudian bangkit dan keduanya masuk kembali kedalam rumah.
"Mama..kayanya aku mau istirahat dulu ya, badan rasanya capek banget..Tasya dan lainnya papa masuk ya..Danur terima kasih sudah datang, Selamat ya sekali lagi.."
"Oh ya pak..monggo istirahat..kasian bapak dari pagi sudah sibuk, terima kasih pak"
...○○○○○...
Pak Mur masuk kekamarnya, ia melepaskan semua pakaiannya dan menggantikan dengan piyama malam. Setelah meneguk segelas air putih iapun bergerak kearah tempat tidur dan merebahkan diri.
__ADS_1
Matanya menerawang kearah langit langit, ia menarik napas dalam dalam..pikirannya damai, meskipun ia bisa mendengar keramaian percakapan diluar dan sekali kali terdengar ketawa Tasya putrinya yang cantik itu namun pak Mur melupakan apa yang terjadi disekelilingnya..pikirannya masih menerawang kepada kekasihnya Nani yang telah tiada...
Antara sadar dan masuk kealam tidur, samar samar matanya menangkap silhouette hitam duduk tidak jauh dari tempat ia berbaring.
Perlahan lahan bentuk silhouette itu menjadi sedikit terang meskipun banyak asap putih mengelilinginya..Pak Mur mencoba memicingkan kedua matanya..ia ingin memfokuskan pandangannya tapi bentuk itu masih terlihat samar..
"Sayangku..."
Pak Mur mendengar suara seperti berbisik..ia ingat suara itu..suara Nani! Sosok itu mulai bangkit..ia mengulurkan sebelah tangannya seakan ingin menggapai dirinya..
"Nani? kamukah yang datang?" tanya pak Mur tapi ia tidak kuasa untuk berdiri tubuhnya seakan nempel kekasur tempat tidurnya.
"Aku kangen dirimu sayang..apakah kamu akan ikut aku?" Kembali sosok itu berbicara.
"Aku sudah siap ikut denganmu Nani..mendekatlah" ucap pak Mur sambil mengangkat sebelah tangannya.
Sosok itu mendekat..dan betul saja Nani telah hadir..ia mengenakan baju seperti terahir kali pak Mur melihatnya dipagi hari dikantornya.
Nani nampak tersenyum manis..rambutnya yang pirang tergerai lepas..
"Apakah aku bisa ikut denganmu? akupun kangen luar biasa..aku selalu memikirkanmu Nani" ucap pak Mur.
Pak Mur mencoba menggerakkan tubuhnya..ahirnya ia bisa duduk dan berdiri disamping Nani. Ia menggenggam jari jemari Nani.
"Aku akan menemanimu kemanapun kamu pergi..jangan tinggalkan aku lagi.." bisik pak Mur sambil tersenyum.
Nanipun tersenyum, ia menggandeng tangan pak Mur..didepan sudah terbuka sebuah cahaya putih seperti pintu...
Keduanya berjalan memasuki pintu itu, pak Mur menoleh kebelakang melihat sekali lagi kamar tidurnya..Namun, Nani mencegahnya..
"Jangan kau liat kebelakang sayang..tataplah kedepan..kita akan bersama sama selamanya.."
...○○○○○...
"Pah! papah! bangun pah!!" terdengar suara Tasya memanggil namanya.
Pak Mur tergugah, ia kaget melihat badannya basah kuyup oleh keringat..
Ia menoleh kesamping..hanya ada Tasya disampingnya..ia menoleh kekiri kekanan bahkan kearah tembok didepan dimana tadi ada sebuah pintu putih yang terbuka..
__ADS_1
"Pah..ini minum air putihnya..aku tadi masuk kesini mau liat papah..tapi papah seperti mengigau tangan papah menunjuk kedepan..Tasya takut papa"
Pak Mur kini sadar ia telah bermimpi..ia langsung memeluk tubuh Tasya dengan erat dan menciumi pipi anaknya.
"Tasya ya Allah..maafkan papa Tasya maafkan.."
"Papa..jangan begitu lagi ya..papa musti shalat..sudah lama papa ga pernah shalat..papa musti sadar bahwa semuanya sudah berlalu..ingat papa ada mama dan ada Tasya disini..papa harus lupakan semuanya ya"
"Mana mamamu sayang?"
"Tasya panggilkan ya..sebentar"
Pak Mur mencoba duduk dan ia mulai mengucapkan shalawat nabi. Astagfirullah..napasnya masih naik turun, ia melihat sekeliling ruangan..sepi tidak ada yang hadir..rupanya semua hanya mimpi belaka...
"Hai papa..kamu kenapa? kata Tasya tadi agak mengigau ya.."
Pak Mur memanggil istrinya untuk mendekat..
"Junita..mendekatlah"
Bu Junita mendekat sambil tersenyum, ia mengusap kening suaminya dengan sapu tangan. Dengan penuh kemesraan bu Junita mengecup pipi pak Mur.
"Lepaskan sayang..lepaskan dan ikhlaskan..yuk kita mulai semuanya dari nol..biarlah diusia kita yang tua ini kita jalin lagi rantai cinta kita yang telah putus..ayo papa..demi Tasya dan juga demi kita"
Pak Mur menunduk merasa bersalah..ia meneteskan air mata, Aku harus bisa melupakan dia..Dia sudah pergi, biarlah dia petgi selamanya..Astagfirullah..pak Mur menarik napas dalam dalam..
"Itu Danur ingin ijin pulang..papa mau keluar,antar mereka pulang?" tanya bu Junita.
"Baik bu..aku akan keluar"
Bu Junita meninggalkan pak Mur yang membersihkan wajahnya dari keringat..ketika ia beranjak keluar kamar, hidungnya mencium bau parfum disekeliling kamarnya..
Bukan..itu bukan parfum istrinya, pak Mur memperhatikan sekeliling kamar tidurnya..ini parfum Nani..ia ingat sekali, ia dulu membelikan parfum Coco Channel sebagai salah satu hadiah ulang tahunnya..
Aahh..lupakan Mur lupakan..itu yang ia ucapkan berkali kali..
...TAMAT...
...■■■■■...
__ADS_1