Rantai Cinta

Rantai Cinta
Membawa pulang pak Darmadi.


__ADS_3

Pak Rekso langsung tancap gas menuju bandara. Ia masih punya waktu sedikit. Semoga ia tidak telat.


Alhamdulillah..pesawat terahir dari Jakarta mendarat 20 menit lebih telat dari schedule. Pak Rekso masih sempat memarkirkan kendaraan dan berlari kecil kearah pintu exit penumpang dilantai 1.


Ia berlari terengah engah menuju pintu kedatangan dilantai atas bandara udara Kulon Progo.


...○○○○...


"Danur..bapak tunggu kalian diluar" begitulah pesan pendek pak Rekso kepada Danur.


Danur menengok kearah pesan whatsapp ayahnya, ia menoleh kearah Arini yang berjalan lesu.


Danur mendekatkan diri dan menggandeng tangan kiri Arini.


"Hei..kamu tidak apa apa?" tanyanya seraya melepaskan senyum kecil.


Arini meremas tangan Danur..


"Aku tidak apa apa..aku sudah ikhlas apapun yang terjadi.., Danur..." panggil Arini.


"Ya Arini kenapa?" tanya Danur.


"Apabila benar ayah telah pergi..kamu jangan tinggalkan aku ya" ucap Arini sambil menatap penuh dengan harapan.


Danur berhenti berjalan dan memandang wajah Arini. Ia mengusap wajah yang sendu itu..


"Arini..Danur berjanji akan menjagamu sampai akhir hayatku.."


"Alhamdulillah.."


"Yuk..kita keluar..ayahku sudah nunggu diluar katanya"


Mereka berjalan bergandengan tangan.


Pak Rekso melihat kedua anak muda itu merasakan kegembiraan meskipun sahabatnya baru saja meninggal, tapi ia yakin inilah calon istri anaknya.


"Pak..sudah lama?" sapa Danur sambil mencium tangan ayahnya.


"Ndak..ayah baru saja sampai" jawab pak Rekso.


"Selamat malam pak.." ucap Arini sambil mencium tangan pak Rekso. Laki laki tua itu mengusap rambut dikepala Arini dengan penuh kasih sayang.


Pak Rekso tidak sanggup lagi menahan apa yang ada dipikirannya, ia langsung mendekap Arini bak anaknya sendiri.


"Maafkan bapak nak..tapi bapak harus beritahukan bahwa.." Belom habis pak Rekso bicara Arini sudah menjerit dan menangis dipelukan orang tua itu.


Untung sekali, keadaan bandara sudah sangat sepi hanya beberapa orang saja disana.


"Ya Allah pak! Aku sudah merasakan..aku mendengar bisikan suara ayah ditelingaku! Huuu..." Arini tersendat sendat bicaranya.


"Yang tabah ya nak..ayok..sekarang kita ambil ayahmu..ia masih dirumah sakit.. kita semua kesana"


Danur langsung menggandeng tangan Arini dan mengikuti langkah ayahnya berjalan kearah mobil.

__ADS_1


...○○○○○...


Semuanya diam seribu bahasa ketika mereka berada didalam kendaraan menuju kearah Klaten.


Danur mendekat dan terus menggenggam telapak tangan Arini.


"Mau saya yang bawa kendaraannya pak?" tanya Danur kemudian.


"Tidak apa apa..kamu masih capek baru sampe dari Jakarta" jawab pak Rekso.


"Maaf..tadi kamu bilang bahwa ayahmu sempat berbisik..maksudmu gimana Arini?" tanya pak Rekso ke Arini.


"Aku dan Danur ketika berada ditempat Cafe diJakarta, aku sempet mendengar suara ayah mengatakan Aalah Akbar..itu saja, sesuatu yang aneh memang..meskipun samar samar tapi saya sempet sadar itu suara ayah"


"Hmm..aneh ya, mungkin ayah sempet mengucap sebelum pergi dan itu sampe ketelingamu"


"Masih jauh pak?" tanya Danur.


"Sebentar lagi sampe..Alhamdulillah jalanan sepi ga begitu rame, ga lama ko kita akan sampe


disana" jawab pak Rekso.


Lewat 20menit kemudian kendaraan sudah mendekati rumah sakit.


...○○○○○...


Dengan sangat hati hati pak Rekso memarkirkan kendaraan dipelataran parkir rumah sakit.


"Ayo kita turun.."


"Kamu masih kuat jalan?" tanya Danur sedikit berbisik.


Arini tidak menjawab hanya menganggukan kepalanya. Tiba tiba perutnya berasa mual dan mulutnya kering.


Belum sampai dipintu tiba tiba ia kehilangan kesadarannya dan jatuh pingsan.


Danur langsung menangkap tubuh Arini yang lemas tidak berdaya..


"Pak! Arini pingsan!" teriak Danur.


"Ya Allah! gendong Arini tidurkan dikursi panjang dekat satpam itu!"


Seorang Satpam yang melihat langsung berlari mendekat.


"Aduh! Kenapa ini?" ia bertanya.


"Pak..tolong ambilkan satu gelas air putih kalau ada" ucap Danur.


Danur langsung merebahkan Arini dikursi panjang dekat meja pak Satpam.


Pak Rekso mengambil sehelai Koran lama yang ada dimeja Satpam dan mengayunkan didekat kepala Arini memberikan sedikit angin.


Danur dengan penuh kasih sayang membelai rambut dikepala Arini.

__ADS_1


"Ayah..." ucap Danur pelan.


"Ya Danur..ada apa?" jawab ayahnya lemas.


"Ijinkan saya mengurus Arini sampai ahir hayat saya ayah..entah kenapa saya sayang dan cinta anak ini"


"Sukurlah kalau itu keinginanmu..ayah setuju dan itulah yang diinginkan mendiang mas Darmadi juga..sekarang tergantung Arini..apakah ia mau atau tidak.."


"Kita tunggu sampai semua perihal kematian pak Darmadi selesai, aku akan menanyakan pada Arini"


Baru saja Danur berkata demikian tiba tiba Arini mengeluh dan membuka kedua matanya perlahan lahan.


Arini duduk dan mengusap wajahnya. Ia memandang kepada pak Rekso dan Danur.


"Ya Allah..Astagfirullah..pak Rekso antarkan aku keayahku. aku sudah siap" ucap Arini masih dengan suara lemah.


"Baik nak..tapi coba minum air putih ini sedikit agar kamu lebih kuat" ucap pak Rekso sambil memberikan botol aqua yang baru saja diberikan pak Satpam.


Danur membantu membuka tutup botol dan sambil memeluk Arini ia membantu mendekatkan air dari botol itu kemulut Arini.


...○○○○○...


Perjalanan menuju kekamar jenazah serasa berat dilalui Arini..setiap langkahnya seakan ia menggendong beban yang berar dipunggungnya.


Ia menggapai tangan Danur dan memeluknya. Danur membalas dengan memberikan pelukan hangat.


Setelah berbicara dengan petugas jaga, mereka bertiga masuk kedalam.


Dihadapan tubuh pak Darmadi yang sudah terbungkus kain kafan, Arini meletakkan telapak tangan kanannya dipipi ayahnya.


"Yuk ayah..kita pulang kerumah. Arini sudah siap"


Pak rekso memberikan bahasa isarat kepada Danur, laki laki muda itu mengerti dan memeluk Arini mereka berjalan keluar kamar jenazah diikuti pak Rekso.


Penyerahan jenazah dilakukan secara singkat dan jenazah pak Darmadi langsung dimasukan kedalam ambulan.


Danur dan Arini ikut duduk disamping tubuh pak Darmadi yang terbujur kaku didalam ambulan.


Mobil jenazah itu keluar dari rumah sakit Islam dengan menyalakan lampu strobo light namun tanpa suara. Kendaraan berjalan dengan pelan dibawah guyuran hujan yang mulai turun lagi.


Danur menyentuh tangan Arini dan tersenyum kecil.


"Kamu tidak apa apa?" tanya Danur.


"Tidak Danur..aku tidak apa apa..malam ini biar ayah istirahat dirumah, besok setelah subuh kita akan makamkan ayah disebelah makam ibu..mungkin sesampai kita dirumah aku akan kontak semua saudara ayah"


"Semoga Pak Mur dan Tasya juga sudah hadir bersama kita besok pagi..Insya Allah..dan kalau kamu ijinkan biar saya yang menjadi Imam pada waktu shalat bersama nanti"


"Terima kasih Danur, aku bersukur kamu mau melakukan itu, satu kehormatan bagiku"


Arini menunduk dan memeluk tubuh ayahnya. Danur mengusap punggung Arini.


"Sebentar lagi kita akan sampai dirumahmu Arini, kamu pasti letih..sini dekat ke aku"

__ADS_1


Arini menurut saja dan ia mundur, dengan penuh kasih sayang Danur meletakkan kepala Arini didadanya yang bidang sambil terus mengelus kepala Arini.


...■■■■■...


__ADS_2