Rantai Cinta

Rantai Cinta
Jantungpun berhenti berfungsi.


__ADS_3

Sudah hampir sepuluh menit pak Murjono belum juga menampakan dirinya dari dalam kamar kerjanya.


Hari Sukoco sudah tidak sabar ingin mendobrak pintu itu. Ia geram, harga dirinya seperti tidak dihormati. Ia adalah seorang CEO perusahaan besar diIndonesia dan Malaysia, ini sudah kelewatan.


"Hei mba! mana pak Mur ko lama sekali?!" teriaknya dari tempat ia duduk.


"Sebentar bapak, meeting pagi ini dengan Wamen memang sangat penting..atau mungkin bisa bikin schedule pertemuan untuk lain waktu?" ucap Arimbi yang mulai kesal dengan tamu tamu tidak diundang ini.


Baru saja Hendri hendak berdiri tiba tiba pintu terbuka dan keluarlah pak Murjono.


Ia mendekati Hari dan putranya yang duduk tegang disofa. Pak Mur mengulurkan tangan sambil tersenyum.


"Mohon maaf saya barusan ada conference call dengan Wamen perdagangan dan juga seorang CEO dari perusahaan Korea.." ucap Pak Mur dan ikut duduk disebuah kursi diujung sofa itu. Ia sengaja tidak mengajak mereka masuk kekamarnya.


"Bagaimana, ada yang bisa saya bantu?" tanya pak Mur tenang.


"Jadi bagaimana dengan proposal kami yang pernah diberikan terdahulu?" tanya Hendri dengan suara agak meninggi.


"Oh ya..jadi begini ya tentang proposal bapak bapak ini sudah kami bicarakan dengan management dan setelah kami pikirkan matang matang namun dengan amat sangat kami menolaknya" Jawab pak Mur dengan suara penuh keyakinan.


"Jadi maksudnya bagaimana?" Giliran Hari Sukoco bertanya.


"Maksudnya ya itu tadi..saat ini kami berpikir bahwa perusahaan kami ini bisa berdiri sendiri tanpa melibatkan perusahaan lain apalagi joint ventures..Kami akan berdiri seperti yang sudah ada saja" Jawab pak Mur.


"Hmm..lalu bagaimana dengan seketaris anda, Nani?" tiba tiba Hari menanyakan hal itu.


Pak Mur terkejut mendengar pertanyaan itu yang datangnya dari orang luar. Ia marah besar mendengar pertanyaan itu..Hal mana telah masuk kedalam masalah pribadinya.


"Maksudnya bagaimana dengan seketaris saya?"


"Kami dengar adanya hubungan dekat anda dengan dia..apakah itu tidak menjadi tabu bagi anda yang mana bisa menjadi hal yang memalukan?" tanya Hendri sambil melemparkan senyum sinis.


"Kalian dengarkan baik baik ya..Saya tidak perlu memberikan jawaban apa apa tentang itu..karena pertama, saya tidak punya hubungan apa apa dengan karyawan saya yang bernama Nani. Dan Nani sudah keluar dari perusahaan kami untuk melanjutkan karirnya ditempat lain..itu adalah hak dia bukan hak saya atau siapapun..Kalian secara langsung telah memasuki area pribadi saya dan jangan singgung itu lagi. Kedua, seperti yang saya katakan..kami tidak butuh joint ventures atau kerja sama dengan perusahaan kalian..Oleh karenanya masalah itu sudah case closed. Saya masih ada beberapa meeting penting yang perlu saya lakukan..Kalau ada perlu lainnya, silahkan buat janji..Jadi saya rasa pertemuan ini sudah selesai!" Demikian pak Mur to the point langsung ucapkan dan berdiri dari duduknya.


Pak Mur langsung jengkel dan marah kepada 2 tamu tidak diundang ini yang dengan arogannya datang tanpa janji dan juga langsung menanyakan hal pribadi yang tidaklah etik menanyakan kepada orang lain.

__ADS_1


Untuk beberapa detik kedua tamu itu masih duduk termanggu manggu..mereka sadar mereka telah salah ucap, Dengan langsung menanyakan pribadi seseorang berarti mereka telah menyerang secara brutal.


"Mohon maaf kalau kami telah menanyakan hal pribadi semacam itu..Apakah bisa kita bicarakan baik baik mengenai proposal kami kemarin?" Terdengar suara Hendri melunak.


"Maaf..saya ada beberapa meeting yang harus saya lakukan..saya rasa pertemuan ini sudah selesai dan saya tidak akan membahas tentang proposal itu lagi. Silahkan.." Ucap Pak Mur sambil merentangkan satu tangannya menunjuk kearah pintu lift.


"Ayo Hendri kita pergi! saya juga tidak butuh kerja sama dengan perusahaan miskin ini!" Hari Sukoco berdiri sambil menoleh kearah Arimbi dengan mata melotot.


Langkahnya diikuti Hendri dan mereka berjalan kearah lift. Perjalanan dari sofa ke lift seakan begitu jauh..Kaki kaki mereka terasa berat untuk diayunkan, apalagi diringi tatapan tajam mata pak Mur.


Ketika kedua orang itu telah menghilang, pak Mur mendekati meja Arimbi.


"Arimbi call satpam dibawah, make sure mereka keluar gedung..minta mereka mencatat nomor mobil dan mengingat wajah wajah mereka..Jangan pernah mereka bisa masuk kegedung ini lagi! Dan juga saya tidak mau terima janji meeting dengan mereka!"


"Baik pak segera saya lakukan!"


Pak Mur langsung melangkahkan kakinya masuk keruangan kamar kerjanya. Ia bingung, siapakah orang yang memberitahukan perihal Nani dengan dirinya?


...○○○○○...


Arini mengetuk ngetuk meja kerjanya..baru jam 3.30 sore aduuh lama sekali hari ini..Ia sudah menyelesaikan semua pekerjaan nya dan tidak sabar menunggu jam 5.


"Hai Arini..sudah kamu file masalah Telekom yang kemarin saya minta?" Tanya pak Charles bos legal Citibank


"Oh sudah pak..semua sudah beres, di file komputer dan arsip sudah rapih"


"Saya mau meeting diluar ini, besok aku ada meeting dengan BCA dikantor pusat mereka..siapkan file kerjasama kiriman dana keluar negeri dan kamu ikut ya"


"Baik pak..saya ikut pak?"


"Ya..saya mau libatkan kamu dalam proyek baru ini..aspek hukumnya penting untuk pelajaran kamu..nanti bu Leila juga ikut kamu hanya mencatat saja pertemuan itu"


"Oh baik pak"


Waduh..pikir Arini..Jam segini baru ngomong. Oke dia punya waktu satu jam. Arini langsung ngebut mempersiapkan segala file untuk meeting besok.

__ADS_1


Tiba tiba ponselnya nyala, yes mas Danur!


"Hai sayang..aku padahal lagi mikirin kamu"


"Alhamdulillah..seneng aku dengernya, nanti jam 5 aku sudah dilobi bawah..aku duduk disofa lobi ya"


"Aduh! aku dah ga tahan pingin pulang"


"Sabar sayang..ini aku on the way ko, barusan aku dapet whatsapp dari Nani..aneh pesannya"


"Apaan itu sayang?"


"Hmm..nanti deh kalau kita ketemu aku kasih tau"


"Baik mas..kalau sudah diparkiran call aku ya"


Setelah Danur berbicara dengan Arini..ia kembali mengingat ingat pesan Nani yang terbaca agak aneh.


"Danur terima kasih atas bantuannya..saya yakin sudah kamu sampaikan ke pak Mur. Aku senang telah mengenalmu meskipun tidak begitu rapat tapi aku tau kamu orang baik. Selamat tinggal Danur, mohon maaf apabila ada perkataan tidak berkenan dihatimu..Terima kasih untuk semuanya"


Hmm..kenapa pesannya aneh begitu ya..Ia melihat kearah jam tangannya, sudah jam 4 semoga jalanan tidak macet.


...○○○○○...


Didalam kereta menuju kearah Bandung, Nani mengambil tempat duduk pas disamping jendela.


Selama perjalanan matanya menatap kearah luar, ia melihat kesibukan manusia yang bergerak lalu lalang seakan tidak ada arah.


Kedua matanya memerah, ia sebetulnya sudah tidak punya rumah lagi diBandung, sepeninggal ayahnya dulu semua sudah harta dan rumah sudah terjual dan hasilnya dibagikan rata kepada para saudara ayahnya yang membutuhkan biaya hidup.


Kepergian keBandung sebetulnya hanya alasan saja..setelah diputuskan rantai cintanya oleh pak Mur hidupnya menjadi kosong, hancur tidak berarah..Yang ia inginkan adalah pergi meninggalkan dunia ini..melupakan semua kepedihan dihatinya.


Ia merogoh tas kecilnya dan mengambil 15 buah butir pil tidur. Nani masukan semua 15 buah butir pil tidur itu kedalam mulutnya. Iapun meneguk air minum aqua.


"Selamat tinggal dunia..selamat tinggal waktu yang telah kejam menyengsarakan diriku.." Nani duduk menyenderkan punggungnya..air matanya mengalir kepipi. Ia merebahkan kepalanya kejendela kaca.

__ADS_1


Pelan pelan alirah darah dari jantung keotak terhenti..Jantungpun berhenti berfungsi...


...■■■■■...


__ADS_2