Rantai Cinta

Rantai Cinta
Satu rantai cinta telah putus.


__ADS_3

jam 5.10 Nani melangkah masuk kedalam Cafe seberang kantor Maha Karya Indonesia. Menjelang waktu magrib tiba, Cafe itu sudah mulai kedatangan beberapa executive muda dari kantor kantor sekeliling daerah situ.


Semua mata para executive muda baik priya maupun wanita menatap kearah Nani yang berjalan gemulai kearah bangku dipojok ruangan depan.


"Busyet tu body gila!" bisik seorang executive muda kepada rekannya.


"Gayanya aduhai dipadu dengan rambut pirangnya" jawab temannya.


Seorang gadis muda pelayan Cafe yang sudah kenal dengan Nani tergopoh gopoh mendekati meja dipojok itu.


"Hai bu Nani..apa kabar sudah lama ga mampir" ucap gadis itu.


"Hei Tari! masa ya? sibuk aku dikantor, biasanya pulang kerja langsung pulang..aku minta es kopi dulu dong, sambil tunggu temen dateng"


"Siap buk..saya bawakan cemilan mau?"


"Oh boleh..Terima kasih Tari"


Nani kemudian merogoh tas dan mengeluarkan rokok Extra Mild. Dengan santai ia menyulutnya. Ia memandang kearah depan pintu masuk.


Sepuluh menit kemudian terlihat Lola memasuki Cafe, kembali mata para executive tertuju kepada Lola yang mengenakan rok mini ketat.


"Busyet yang ini gayanya lebih gila" bisik seorang priya.


Nani mengibarkan tangan kanan memanggil Lola.


Setelah cipika cipiki duduklah Lola.


"Lewat lima menit ga dateng aku dah mau cabut pulang"


"Maaf ga sempet kasih pesen, tadi ada telepon dari Pak Danur katanya senin ini mau dateng..ih seneng aku, soalnya ganteng amat dia"


"Mau pesen apa?"


"Aku mau kopi panas aja, dari tadi kedinginan"


"Oke cerita deh ada apa" ucap Nani sambil mengepulkan asap rokok.


Lola menaruh tas jinjing Prada sambil membetulkan rok mininya, Nani sempet melirik kearah tas hitam itu.


"Sebelumnya aku mohon maaf yang sebesar besarnya semoga kamu jangan marah keaku..Jadi, waktu itu aku diundang makan malam selesai makan kita cek in di Santika..Nah malam malam dia tiba tiba tanya tentang pak Mur apakah ada yang disembunyikan sama dia.."

__ADS_1


Nani mematikan rokonya dan mendekatkan wajahnya ke Lola seraya berkata..


"Aku berharap kamu ga cerita tentang aku sama pak Mur" suaranya terdengar mulai marah.


"Itulah..aku dijanjikan akan dibelikan tas Prada..ya ini tasnya" ucap Lola sambil menunjuk ketas hitam diaras meja.


"Asal...?" sela Nani.


"Asalkan aku ceritakan rahasia pribadi pak Mur..maafkan aku mba, aku ceritakan tentang hubungan mba sama bapak" Ucapnya sambil menundukkan kepalanya ketakutan.


"Waduh Lola! Waduh!!" Nani gemeteran mendengarnya..ia menarik sebatang roko lagi dan menyalakannya..ia sebulkan asap itu tebal tebal kearah wajah Lola.


"Kamu tau ga..kamu dipake bajingan itu untuk mendapatkan rahasia perusahaan! masalahnya bapaknya dia itu mau ambil alih perusahaan ini tapi pak Mur ga mau..Nah, mereka sekarang sedang mencari celah dan celah itu sekarang sudah mereka dapatkan gara gara celotehan murahan kamu!! Busyet deh!!" ujar Nani geram.


"Ya ampun aku ga tau..sumpah! Aku pikir dia hanya becanda.."


"Coba deh kamu pikirkan ngapain dia beliin tas mahal kaya gini..berapa ini tas harganya?"


"Mahal mba, kalo ga salah 10juta"


"Nah..kamu bisa mikir ga sih? Ga mungkin dia buang 10juta hanya karena bisa tidur sama kamu semalam..berarti info kamu dibayar 10juta! Sekarang dengan info berbahaya itu dia bisa blackmail pak Mur!" Nani mendorong glas kopi kedepan dengan jengkel.


"Gini..pasti dalam beberapa hari ini akan ada sesuatu hal yang terjadi..kalau sampe kita dihadapkan kepada pak Mur dan disana ada juga Hendri dan bapaknya aku akan bilang bahwa itu gossip belaka dan bukan berita sebenarnya..Aku disini akan berbohong demi kamu..ngerti itu?"


"Ya ampun mba Nani baik sekali..maafkan aku ya mba"


"Oke..aku mau pulang mau laporkan ke pak Mur tentang cerita ini. Tapi aku sudah tidak bisa percaya lagi sama kamu. Kopi ini sudah aku bayar tinggal bayar kopimu aja"


Dengan perasaan jengkel Nani beranjak berdiri dan meninggalkan Lola yang termanggu manggu sendirian.


...○○○○○...


Ditempat lain, 2 hari yang lalu telah terjadi percakapan serius antara Tasya dan papanya..


"Maafkan papa akan semua ini..entah bagaimana papa membetulkan masalah besar yang kita hadapi ini" ungkap pak Mur yang tertunduk lesu.


"Hanya satu yang aku ingini saat ini.." Tiba tiba sang mama berucap.


Tasya dan pak Mur saling memandang mendengar perkataan mama.


"Apakah itu mama?"

__ADS_1


"Pertama tama mama ingin semua ini diselesaikan mumpung kita masih hidup, sebab kalau Allah memanggil kita maka sudah tidak bisa lagi kita memperbaikinya.." Kata kata sangat pelan dan lemah.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya pak Mur sambil memegang pundak istrinya.


"Kamu harus hentikan hubunganmu dengan Nani sekarang juga, dan aku minta agar aku bisa keSolo..aku ingin berdoa dipusara Hardiman dan meminta keikhlasan untuk mengahiri hubungan kita..entah ini bisa dikabulkan Allah atau tidak..aku tidak tau tapi sebelum ajalku datang..antarkan aku kesana untuk terahir kalinya.." kata mama dengan penuh permohonan"


Ahirnya mereka semua sepakat..Hari itu juga semua dibereskan demi masa depan yang lebih bersih.


...○○○○○...


Keesokan harinya Pak Murjono kembali masuk kerja, setelah hal hal penting ia lakukan kini giliran hal yang paling terpenting dari semua hal..yaitu memanggil Nani untuk berbicara empat mata.


Nani merasakan sesuatu penting akan terjadi, ia mencoba menenangkan hatinya dengan meneguk air teh hangat yang telah ia buat.


"Selamat pagi bapak" Ucapnya sambil menutup pintu rapat rapat.


"Yuk kita duduk disofa panjang sana..ada satu hal yang perlu kita bicarakan"


Bagai seekor lembu yang dicocok hidungnya, Nani mengikuti langkah pak Mur dan duduk disofa.


Pak Mur menatap kearah wajah Nani, ia berusaha menggali kedalam relung hati wanita cantik itu.


"Nani...yang bapak sayangi,.amat sangat susah apa yang hendak bapak bicarakan kepadamu" pak Mur diam sejenak.


"Kenapa bapak..ada apa?" Siara Nani hampir tidak terdengar.


"Hubungan kita berdua sudah cukup lama..bapak sering berpikir apakah kita akan selalu bersama sama atau satu saat akan berakhir..Dan pastinya diakhir cerita itu kita akan ada hati yang terluka..Namun, alangkah buruknya bapak ini, apabila terus menerus denganmu Nani..Karena kamu masih sangat muda..Masih banyak yang kamu bisa lakukan dan dapatkan.."


"Bapak..bapak tidak perlu meneruskan..Nani sudah jelas, bapak tadi bilang akan ada hati yang terluka..itu benar, Nanipun disini sangat bersalah telah berhubungan dengan seorang bapak yang mempunyai keluarga yang indah..Nani pasrah dengan apapun keinginan bapak. Hubungan kita ini sudah sangat jauh dan saya tidak bisa melupakan bapak...baik sebagai bos, teman namun juga kekasihku..Tapi benar kita harus berpisah" Kata Nani sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Nani berhenti diucapan terahir, ia tidak sanggup lagi meneruskan..butiran air mata telah keluar dari pelupuk matanya..Rantai cinta yang telah terpatri ahirnya putus juga...


"Maafkan Nani bapak, saya pamit pulang hari ini..mohon maaf" Ucapnya sambil menyeka air mata ia berdiri.


Pak Mur juga ikut berdiri..


"Nani..."


"Selamat tinggal bapak.." ucap Nani mengahiri pembicaraan dan bergegas keluar ruangan itu meninggalkan pak Murjono Ali yang tidak tau apa yang harus ia lakukan.


...■■■■■...

__ADS_1


__ADS_2