
Danur duduk diruang tamu pak Mur dengan perasaan tidak menentu. Ia memegang 2 amplop besar dipangkuannya.
Arimbi, seketaris baru pak Mur sedang sibuk menyiapkan 2 kopi panas diruang kitchen.
Pas jam 9 pagi, pintu lift terbuka dan keluar pak Murjono menjinjing tas kulitnya.
Danur langsung seketika itu berdiri menyambut sang big bos. Ia mencoba memberikan senyum terbaiknya.
"Hai Dan! maaf sedikit macet menuju kesini..sudah lama disini?"
"Selamat pagi bapak..Tidak pak, kira kira 5 menit yang lalu" jawab Danur sambil mendekat kearah pak Mur.
"Ayo masuk.." ucap pak Mur.
"Selamat pagi bapak..sebentar lagi kopinya saya bawakan masuk" ucap Arimbi.
"Terima kasih mba Arimbi" jawab pak Mur sambil tersenyum.
...○○○○○...
"Gimana kabarmu Danur?" tanya pak Mur setelah meletakkan tas kulit diatas meja dan mulai duduk tenang.
"Alhamdulillah pak..hari ini saya sudah mulai dikantor pusat ini"
"Jadi menurutmu..ada sesuatu hal yang sangat penting yang akan kita bicarakan dan menyangkut Nani, seketaris saya yang lama..betul?"
"Hmm..betul sekali bapak"
Pak Mur mundur sedikit dari posisi duduk dan menaruh punggungnya kebelakang. Ia memandang tajam kearah Danur yang entah kenapa Danur menjadi serba salah tingkah.
" Begini pak..mohon maaf sebelumnya tidak seharusnya saya ikut campur dalam hal ini..tetapi kemarin tiba tiba saya dicall sama mba Nani..saya sendiri kaget waktu menerima call itu. Tapi ya sudahlah..sesuai permintaannya kami mengadakan pertemuan di Pindok Indah Mall"
"Pondok Indah Mall?" tanya pak Mur kaget.
"Iya betul pak..Mohon maaf pak..mba Nani telah menceritakan semuanya kepada saya mulai dari awal pertemuan mba Nani dengan bapak sampai ahirnya menjadi suatu..." Danur berhenti bicara sebentar.
"Menjadi satu hubungan khusus..Dia ahirnya bercerita tentang perihal hari terahir dimana bapak ahirnya memutuskan hubungan bapak dengannya" Danur saat itu betul betul merasa sangat tidak nyaman. Tenggorokannya terasa kering.
Pada saat itu tiba tiba pintu diketuk orang. Danur menarik napas panjang.
"Silahkan masuk!" kata pak Mur.
Dan..masuklah Arimbi membawa 2 cangkir kopi panas dan 2 gelas air putih.
Pak Mur dan Danur membiarkan Arimbi meletakkan cangkir dan gelas gelas itu.
"Terima kasih mba" ucap Danur.
"Hmm..Arimbi hold semua call yang masuk ya..saya sedang meeting penting saat ini" ucap pak Mur.
"Oh baik pak saya akan catat saja"
Arimbipun keluar ruangan.
"Teruskan Danur"
"Nah ini pak..Mba Nani mengatakan bahwa mengenai pembelian rumah diRempoa itu telah ia batalkan dan saat ini juga mba Nani akan kembali keBandung untuk mengurusi makam ayahnya disana..Tentang pembatalan pembelian rumah itu ia telah menyerahkan kepada saya seluruh dana Down Payment pembelian rumah yang bapak dulu kasihkan"
__ADS_1
Danur lalu dengan hati hati menaruh 2 amplop besar diatas meja.
"Didalam 2 amplop ini ada 300 juta katanya..itu adalah jumlah yang bapak kasihkan dulu dan ia ingin kembalikan semuanya"
"Loh ko demikian..padahal, mau saya kalau tidak jadi biarkan saja dia pegang..Wong itu hadiah dari saya" kata pak Mur.
"Maaf pak..saya hanya memyampaikan pesan saja"
"Kenapa todak ditransfer wang sebanyak ini?"
"Menurut mba Nani..dia tidak berani pak..takut ada apa apanya dengan transfer jadi yang ia serahkan semuanya tunas saja..Aduuh pak, saya jadi tidak enak karena saya ikut campur"
"Ndak..ndak apa apa..semuanya sudah jadi bubur..terus dia dimana sekarang?"
"Menurut katanya terahir kemarin..dia akan pulang keBandung saja dan tidak mau lagi keJakarta..ia akan mengurusi rumah ayah dan mengurusi makam ayahnya"
"Begitu ya..baiklah Danur saya terima ini..mohon ini menjadi rahasia kita berdua saja"
"Pasti pak..pasti saya pegang rahasia ini..mohon maaf sekali lagi bapak"
"Baiklah Danur..ada lagi?"
"Tidak pak itu saja..kalau diijinkan saya mau bereskan kamar kerja saya dulu pagi ini"
"Njjih monggo..terima kasih dan maaf sudah merepotkan anda"
"Tidak pak..sama.sekali tidak merepotkan"
"Ayo diminum dulu kopinya"
Danur menyeruput dua kali dan seterusnya ia minta izin keluar.
...○○○○○...
Pada saat yang sama, dilantai lobi telah datang pak Hari Sukoco dan Hendri putranya.
Langkahnya penuh keyakinan, bak seorang pemilik gedung ia minta ke resepsionis gedung diantar kan kelantai paling atas tempat kantor pak Murjono Ali.
"Sebentar bapak saya akan tanya seketarisnya dulu"
"Boleh silahkan.." ucap pak Hari sambil melepaskan senyum murahan kearah gadis resepsionis.
"Siapa nama mereka mba Ruli?" tanya Arimbi.
"Namanya bapak Hari dan Hendri Sukoco"
"Sebentar saya tanya kebapak dulu"
Arimbi langsung memencet tombol dipanel.
"Bapak..maaf ada pak Hari dan Hendri Sukoco dilantai lobi minta keatas ketemu..tapi saya tidak punya jadwal appointment pak"
"Hmm..ya sudah suruh keatas"
Tidak lama kemudian mereka masuk lift dan naik kelantai ruangan pak Sukoco.
"Arimbi, jangan tawarkan minuman apa apa..ketika mereka masuk suruh duduk diluar saja"
__ADS_1
"Baik pak"
...○○○○○...
Hendri terkejut ketika keluar dari lift menemukan Arimbi sebagai seketaris yang duduk ditempat bekas Nani duduk.
Arimbi melirik sebentar dan melepaskan senyumnya kepada kedua orang tamu tidak diundang itu.
"Selamat pagi bapak bapak" ucao Arimbi sambil tersenyum.
"Maaf sebelumnya..apakah Nani seketaris pak Mur sedang sakit?" tanya Hendri.
"Oh mba Nani sudah berhenti bekerja disini pak..sekarang saya yang menjadi pengganti nya..ada yang bisa dibantu?"
Hendri dan pak Hari saling pandang memandang.
"Bagaimana bapak?" Arimbi mengulang kembali.
"Oh ya..kamu mau ketemu dengan pak Murjono..saya teman lamanya" ucap pak Hari.
"Sebentar ya pak" Arimbi langsung mengontak pak Mur.
"Silahkan duduk dulu bapak bapak" ucap Arimbi mempersilahkan.
Pak Hari berjalan dengan langkah gontai kearah sebuah sofa.
"Sebentar ya pak, pak Mur sedang conference call dengan pak Dodi Silalahi wakil menteri perdagangan" ucap Arimbi.
"Oke baik.." jawab pak Hari.
"Hendri..ini gimana? seketaris itu sudah keluar."
"Saya juga tidak tau pah..sebentar aku kontak temanku"
Hendri mengambil ponsel dan menghubungi Lola.
"Halo Lola ini Hendri"
"Oh ya halo"
"Saya lagi dilantai atas tempat pak Mur..kamu ko tidak kasih info bahwa Nani sudah berhenti kerja?"
"Lho kan aku ga ditanya..jadi ya ga aku kasih info" jawab Lola datar.
"Kamu kesini bisa ga?"
"Hah kesana? aku kesana mau apa? tujuan kesana apa?"
"Kamu jadi back up kita waktu nanti bicara sama pak Mur tentang pengetahuanmu masalah Nani dan pak Mur..aku sudah siapkan sebuah hadiah yang super mahal lho buat kamu" ujar Hendri sedikit menggoda.
"Wah ga mau ah..pertama tama aku tidak pernah dan tidak berani naik keatas, kedua..aku tidak mau ikut ikutan dalam masalah pak Mur dan Nani"
"Kamu dilantai berapa?"
"Aku lagi diluar kantor sekarang, kembalinya nanti sore"
"Ya udah..nanti sore call aku ya, penting"
__ADS_1
"Oke bye.." Lola langsung matikan pembicaraan itu.
...■■■■■...