Rantai Cinta

Rantai Cinta
Mama shock dan pingsan.


__ADS_3

Mobil Innova silver Tasya parkir dekat selokan besar didepan rumahnya. Dengan bergegas ia masuk kedalam mencari mamanya. Diruang depan tidak terlihat, diruang ketja papanya juga tidak, Tasya langsung menuju kedapur..Hmm tidak ada juga..


"Bi Mini mana mamah?" Tanya Tasya kepada salah satu pembantu rumah tangga.


"Dari tadi kayanya dikamar tidur mba" jawab bi Mini. Nama sebetulnya adalah Minarni tapi karena bertubuh kecil semua memanggilnya Mini dan ia senang senang saja dengan panggilan itu.


Tasya langsung melempar tas jinjing keatas meja makan dan bergegas menuju kamar tidur orang tuanya.


Disebuah kursi bludru biru tua menghadap kejendela Tasya melihat mamanya sedang duduk memandang kearah taman disamping tumah.


Tasya mendekat dan jongkok disamping ibunya, ia meletakkan dua belah tangannya dan meremas tangan sang ibu.


"Mama..lagi ngeliat apa ?"


Sang ibunda menoleh kearah Tasya, Terlihat kedua belah matanya yang merah..kelihatannya wanita tua itu habis menangis. Sang mama mengangkat sebuah sapu tangan dan mengusap matanya yang mulai membasah lagi.


"Tasya..anakku sayang" Ucapnya lemah, ia membungkukkan tubuhnya dan mencium kening anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Tarik kursi itu dan duduk disampingku sayang"


Tasya bangkit dan mengangkat sebuah kursi dari pojok ruangan yang bentuknya sama, kotak dan ditutupi beludru hitam.


Mereka kembali saling berpegangan tangan.


"Mama akan menceritakan sesuatu..mohon kamu dengar saja ya sayang" ucap mamanya sambil ia menyeka matanya yang terus menerus basah.


"Tasya mendengarkan Mama.. " ucap Tasya sambil menepuk nepuk tangan mamanya.


"Waktu itu ada seorang pegawai papa bernama Hardiman, ia dulu tinggal di Jakarta dan terahir diSolo..Hardiman adalah pegawai yang setia dan pintar, papa sangat menyayanginya..seperti Danurlah kalau sekarang ini. Semua permasalahan sales dan marketing Hardiman yang mengurusi dan bahkan hingga perusahaan Maha Karya Indonesia ini menjadi besar semua karena jasa Hardiman" Sang mama menarik napas panjang.


"Tapi dibalik kesuksesan Hardiman, ada sesuatu hal yang tersembunyi. Hardiman jatuh cinta kepada mama dan bodohnya mama juga sama.."


"Oh no!!" Tasya terkejut mendengarkan rahasia yang diceritakan mamanya.


"Mohon kamu dengarkan dulu ya sayang"


Pelan pelan Tasya melepaskan kedua tangannya dan kini ia duduk dengan posisi tubuh tegak.


"Kami menjalani rantai cinta terlarang bukan karena apa apa..Hardiman mempunyai penyakit kangker akut, ia seorang yatim piatu..namun karena kasih sayang mama ia bisa bertahan hidup dan menciptakan berbagai macam kesuksesan untuk perusahaan papa. Tapi rahasia itu terbongkar oleh papa, dan papa mengusir Hardiman pergi dari perusahaan Maha Karya"


"Ya Allah mama.." ucap Tasya sambil memandang lurus kewajah mamanya.


"Hardiman putus asa karena tidak menemuiku dan penyakit kangkernya kemudian mengganas, ia pindah dari Jakarta keSolo..Papapun menjadi dingin kemama..mungkin itulah hukumannya kepada mama, bahkan selama 1 tahun papa tidur diluar kamar tidak pernah tidur satu tempat tidur..hingga satu hari kita mendengar bahwa Hardiman telah meninggal dunia" Mama berhenti dan ingatan lama itu kembali hadir, wanita itu menutup wajahnya menangis.

__ADS_1


Tasya jadi iba, ia mendekat dan mengusap punggung mamanya.


"Setelah kejadian itu papa sering keBandung, disana ada seorang staff yang mengepalai wilayah Jawa Barat namanya Burhan. Burhan mengenalkan putrinya yang bernama Nani"


Tasya membelalakan matanya terkejut...


"Nani bekerja sebagai seketaris pribadi papa..dan semenjak itu mama sering mendengar gossip tentang mereka berdua..Pernah mama konfrontir dan kala itu pertengkaran besar terjadi. Papa mengatakan bahwa semua ini adalah karena dosa mama terdahulu" Mamanya tidak kuasa ia kini menangis sejadi jadinya. Tubuh wanita tua itu berguncang keras.


Tiba tiba ia roboh, pingsan..


Tasya kaget namun masih bisa menahan jatuhnya tubuh sang mama kelantai.


"Mama!" teriak Tasya sambil berusaha mamanya yang lunglai.


...○○○○○...


Sementara itu...


"Hai sayang, bagaimana pertemuan dengan Tasya..amankah?" tanya Danur.


"Oh..hmmm, apa yang kamu info betul sekali mas..ya Allah, tapi posisi saat ini hanya sebatas gossip..Tapi gossip itu berbahaya, jadi aku sarankan agar supaya Tasya tidak ragu, sebaiknya Tasya cek langsung kepapanya..siapa tau itu hanya cerita bohong saja"


"Ya semoga saja..tapi memang harus dijelaskan kebenarannya..ini kan menyangkut martabat perusahaan..orang yang iri dan bermaksud jahat bisa menggunakan itu sebagai senjata untuk menjatuhkan Maha Karya"


"Kalau kamu mau..kamu boleh nginep dirumah kontrakanku..hehe kalau mau"


"Kalau diperbolehkan kayanya aku akan nginep dirumah mas Danur..soalnya aku takut mereka akan ribut besar..perasaanku gitu"


"Siap..gini, nanti aku selesai jam 5 sore langsung aku jemput kamu. tapi sampe Jakarta busa jam 7 lho sayang..pasti macet soalnya"


"Oh gitu ya..aduh kelamaan ya..ga usah deh mas, mungkin ga apa apa juga aku disana..biar saja mas"


"Yakin kamu sayang?"


"Yakin...Insya Allah semuanya oke..nanti malam mas Danur call aku ya?"


"Oke sayang..aku periksa pengiriman barang dulu..bye sayang sampai nanti"


"Maas.."


"Apa sayang?"


"Kamu jangan kaya pak Mur ya sayang"

__ADS_1


"Ga lah..masa kaya gitu..ini saja sudah sangat Alhamdulillah..ya Allah cantik, pinter sexy..apa lagi?"


"Hehe..Jangan kebanyakan nanti aku pingsan! yo wes..sampe nanti bye!"


...○○○○○...


Tidak lama setelah mamanya Tasya, papanya pun tiba dirumah. Ia bingung ketika melihat bi Mini berlari keluar dari kamar tidur utama.


"Bi! ada apa?!" teriak pak Mur.


Bi Mini berhenti dan memberitahukan hal istri pak Mur yang pingsan dikamar.


"Anu pak..ibuk..barusan pingsan, tapi didalam kamar tidur ada mba Tasya juga pak"


"Oh oke ya Allah!" kata pak Mur ia langsung melemparkan tas jinjing dan tas laptop kesofa panjang.


"Mama kenapa Tasya?" tanya pak Mur.


"Kasian mama..yuk kita antarkan kerumah sakit dulu, mungkin butuh perawatan intensif" jawab Tasya sambil meletakkan handuk kecil dingin dikening mamanya.


Bi Mini kembali masuk kekamar membawa balsam dan minyak kayu putih.


Setelah beberapa olesan ahirnya kedua mata wanita tua itu terbuka.


"Haus..aku haus" kata sang mama dengan suara lirih.


Bi Mini mendengar itu langsung bangkit dan berlari kearah dapur.


Tak lama ia kembali membawa secangkir air hangat.


"Bi Mini..kayanya saya bisa urus mama, terima kasih ya mba..nanti kalau kita perlu kita oanggil lagi"


"Baik mba.." Bi Mini bangkit dan keluar kamar.


Tasya dan papa mencoba mendudukan mama keatas kursi.


"Ya Allah mama.." ucap pak Mur.


Tasya melirikan matanya kearah papa dan kemudian kearah mama.


Ia kebingungan melihat mereka berdua, bagaimana bisa hidup selama ini dalam sandiwara drama yang berkepanjangan?..


...■■■■■...

__ADS_1


__ADS_2