Rantai Cinta

Rantai Cinta
Sebuah surat dari Nani


__ADS_3

Kini sudah empat bulan semenjak keluarnya Nani sebagai seketaris pribadi pak Murjono, Tasya menerima keadaan itu dengan sangat gembira bahkan bu Junita mamanya Tasya juga secara perlahan kembali pulih kesehatannya.


Arini sudah sering mendampingi meeting meeting pak Charles dan bahkan kini Arini diberikan tugas khusus dalam mengarsipkan semua perihal meeting Citibank didalam maupun luar negeri.


Danur sudah menjadi seorang kepala operasional Maha Karya yang hebat. Hampir setiap ahir bulan ia mengadakan conference call dengan para kepala cabang. Pak Mur sangat puas dengan kerja Danur.


Disatu saat pada hari sabtu ketika pertemuan kelompok sahabat diadakan diJogja, mereka dikejutkan oleh sebuah berita whatsapp yang masuk diponsel pak Mur.


Berita itu datangnya dari seseorang bernama Sukendar di Cimahi.


Pak Mur yang sedang berbincang dengan Danur sempat melirik dan melihat sebuah nomor aneh yang muncul.


"Selamat sore..apakah ini nomor telephone pak Murjono Ali?"


Lama pak Mur tidak membalas..ia hanya melihat dan mencoba mengingat ingat nomor siapakah itu. Pak Mur ingat akan kejadian dengan Hari dan Hendri Sukoco kemarin.


Namun ahirnya ia membalas juga..


"Selamat sore juga, ya betul ini saya sendiri. Ada yang bisa dibantu?" tulisnya.


Tidak lama ia menunggu datanglah jawaban dari sipengirim.


"Saya Sukendar pak dari Cimahi, saya adalah saudara dekat keluarga bapak Burhan Supratman"


Dheg..jantung pak Mur seperti berhenti berdetak, Burhan Supratman adalah ayah kandung Nani yang dulu tinggal diBandung.


Ada apakah?.


...○○○○○...


Jari jari pak Mur bergetar..kenapa salah satu keluarga Nani menghubunginya?


"Oh ya..bagaimana ada yang bisa dibantu?"


"Mohon maaf bapak..ada satu berita duka yang perlu saya sampaikan"


Pak Mur minta ijin kepada seluruh yang hadir untuk ke toilet sebentar. Ia langsung berdiri dan bergegas ketoilet priya.


Didalam kamar toilet pak Mur langsung mengontak nomor itu..


"Halo..ini saya pak Mur bagaimana..ada apa?"


"Maaf mengganggu bapak..Kemarin kami dihubungi pihak kepolisian bahwa putri pak Burhan yang bernama Nani telah meninggal dunia" terdengar suara sedih diseberang sana.


"Haah!! Bagaimana bisa itu terjadi?"


"Itulah pak makanya saya kontak kenomor ini..karena saya menemukan nomor ini di pinsel Nani yang menyatakan bahwa bapak adalah bosnya..dinomor itu tertulis 'Pak Murjono Bos'.

__ADS_1


Jadi saya berasumsi bapak adalah Bosnya teh Nani"


"Ya Allah..Innalilaihi..ya benar saya mantan bosnya, tapi Nani sudah keluar dari perusahaan kami beberapa waktu yang lalu"


"Saya dan kepolisian Bandung mencoba mencari tau dimana teh Nani bekerja, karena ingin mengetahui apakah ada latar belakang atas kematiannya..Dan kami mencoba satu persatu orang yang bisa kami hubungi..Ahirnya kami temukan nomor bapak ini"


"Bagaimana kejadian kematiannya?" sela pak Mur.


"Pihak keluarga juga tidak mengetahui bahwa teh Nani dalam perjalanan pulang dan juga kami tidak tau kalau dia sudah tidak bekerja diJakarta lagi..tapi kami telah dihubungi polisi.."


Ia terdiam sejenak.


"Lalu polisi bilang apa?" tanya pak Mur kebingungan.


"Bagian petugas keamanan kereta api yang pertama menemukan..mereka menemukan teh Nani telah meninggal dengan posisi duduk digerbong executive..mereka mengontak kepolisian dan polisi datang mengecek..ternyata teh Nani dinyatakan meninggal karena bunuh diri"


"Ya Allah ya Tuhanku!" pak Mur sedikit berteriak.


"Setelah itu kami dari pihak keluarga mengebumikan diBandung..kenapa saya kontak bapak karena,..saya menemukan sebuah amplop kecil dilaci koper yang kebetulan tidak disita polisi..diamplop tertulis kepada pak Murjono..Saya sendiri tidak berani membukanya"


Pak Mur gemetar mendengar pernyataan dari Sukendar.


"Baiklah..besok saya akan keBandung dan akan saya ambil amplop itu sekalian saya mau nyekar dimakamnya"


"Baik bapak, saya akan jemput bapak. Kalau bisa kerumah saya dulu. No 12 jalan Kacapiring, Bandung. Dari rumah saya akan saya antar kemakam teh Nani"


"Oh gini saja..bapak saya jemput di bandara, nanti saya pake papan nama"


"Gitu ya, sip sebentar lagi saya kabarkan jam kedatangan dan naik apa"


Selesai bicara pak Mur langsung kontak langganan tour travelnya di Jakarta untuk menyiapkan pesawat pagi ke Bandung.


...○○○○○...


Seorang laki laki seumuran Danur berdiri diantara kerumunan para penjemput, pak Mur melihat ia memakai plakat card board bertuliskan namanya.


"Pak Sukendar?" Tanya pak Mur ketika mendekat.


"Oh ya pak saya Sukendar"


"Oke kita berangkat?"


Sukendar minta pak Mur menunggu sambil ia mengambil kendaraannya.


"Maaf..ini pak amplopnya yang ditujukan ke bapak" ucap Sukendar sambil menyerahkan sebuah amplop.


Pak Mur tidak membukanya, ia sengaja menunggu sampai nanti sudah tidak dengan Sukendar.

__ADS_1


"Kita langsung kemakam ya pak"


"Baik..bisa kita berhenti ditempat orang jual bunga?"


Kendaraan Sukendar kemudian meluncur kepemakaman Sirnaraga di mdaerah Cicendo.


...○○○○○...


Disamping pusara tempat Nani dimakamkan pak Mur duduk diatas sebuah batu yang tertancap ditanah.


Ia menatap batu nisan yang bertuliskan nama Nani Supratman. Pelan pelan tangannya mengelus batu nisan. Apabila tidak ada Sukendar disampingnya, niscaya ia sudah menumpahkan air matanya.


Setelah membacakan Al Fatehah dan surat Yasin pak Mur menaburkan bunga melati merah dan putih.


"Aku akan selalu mengenangmu sayang..istirahatlah yang tenang, maafkan aku atas semua ini" ucapnya dalam hati.


Lewat lima belas menit merekapun ahirnya meninggalkan malam itu.


Hari itu juga pak Mur kembali keJakarta karena adanya hal maha penting lainnya yang harus ia selesaikan dan berjanji untuk kembali dalam waktu dekat.


...○○○○○...


Didalam pesawat menuju ke Jakarta, pak Mur masih memikirkan Nani..Ia menyesal telah masuk kedalam kehidupan Nani dan menjalin hubungan khusus pada gadis itu.


Ia menarik amplop yang ia kantongi disaku celananya.


Nampaknya tulisan tangan Nani seperti yang terburu buru, bukan seperti biasanya yang selalu ia tulis dengan rapih.


Sayangku bapak Murjono Ali,


Kamu yang telah melepaskan tali cintaku padamu..


Dan aku yang telah buta tidak menghiraukan adanya gunung yang maha tinggi yang menghalangi cintaku padamu..


Dan..ternyata apa yang selalu aku takutkan dalam hidupku, bahwa satu saat gunung itu akan meletus dan menguburkan angan anganku untuk selamanya mendampingimu,.terjadi juga.


Mungkin inilah yang terbaik bagiku..aku memutuskan untuk pergi selamanya dari sisimu agar kau bisa kembali kepangkuan istri dan anak yang kau sayangi..


Biarkan dan relakan aku pergi..Namun, kamu harus ingat bahwa aku selalu mencintai dan menyayangimu..


Nani.


Disaat itulah pak Mur betul betul sudah tidak tahan lagi, ia mengangkat kedua telapak tangannya dan menangis secara diam diam.


"Ya Allah..maafkan diriku ini" bisiknya pelan.


__ADS_1


...■■■■■...


__ADS_2