
Bab 1
Seorang gadis berlari keluar gang rumahnya. Nafasnya ter engah, segera melihat benda kecil melingkar di pergelangan tangannya, rapat 6.10 pagi.
"Huuuhhh....hampir aja!!" Ucapnya sendiri. Sambil menunggu bus sekolah yang melintas, gadis itu memperbaiki penampilannya. Seragam putih abu panjang yang selalu menjadi kebanggaannya, serta jilbab segi empat yang di lipat menjadi segitiga membalut manis kepalanya. Ia hanya memperbaiki sedikit dengan kaca kecil yang selalu ada di dalam tas sekolahnya.
Teettt teettt.....
Bunyi itu selalu menjadi penanda bahwa bus sekolah yang di tunggunya mulai mendekat, ia cukup mengangkat tangan dan bus berhenti tepat di hadapannya.
Suasana bus penuh dengan anak sekolah berseragam putih biru dan putih abu abu. Seperti biasa, gadis itu tidak menemukan tempat duduk. Ia akan berdiri sekitar 10menit menunggu penumpang putih biru turun.
"Pagi Rara cantik"sapa seseorang.
"Waalaikum salam Seto!!" Jawabnya sambil tersenyum manis yang membuat pria yang di panggil Seto tergelak.
"Hahaha....maaf assalamualaikum...." Ucap Seto sambil memberikan jalan pada gadis yang di sapa Rara.
Suasana bus sudah mulai lenggang karna team putih biru sudah turun, hingga Rara bisa melewatinya. Rara memilih duduk di kursi paling belakang. Dengan pakaian yg sama di kursi belakang sudah menunggu tiga gadis lainnya.
"Huuuhhh...."ucap Rara sambil meletakkan bokongnya di tempat duduk andalannya.
Aira Maharani, biasa di panggil Rara, siswi di sebuah SMK negri favorit jurusan managemen bisnis. Cewek cantik dan sedikit bar bar. Hidup dari keluarga broken home. Ayahnya menikah lagi dan tinggal dengan istri mudanya Sejak Rara masuk SMK. Dan saat itu juga ayahnya tidak lagi membiayai sekolah Rara dan dua orang adiknya, Wisnu dan Dika yang masih duduk di bangku SMP dan SD. Ibunya hanya bekerja di kebun milik ayahnya, warisan dari kakek. Kata ayah dia tidak akan mengambil tanah yang di tempati sekarang, jadi tanah itu milik ibu Rara. Walaupun Rara ragu, seringkali Rara meminta surat kuasa atas tanah itu namun sang ayah tak pernah mau memberikannya dengan alasan tak mungkin ada yang berani menjual apalagi merebut tanah itu.
Biaya sekolah, Rara berjuang sendiri. Dulu saat Rara masih di bangku SMP, Rara sering membantu ayahnya membuka lahan hutan yang di kelola masyarakat, setiap pulang sekolah ataupun libur, Rara akan ikut ayahnya ke kebun. Lahan 5 hektar itu di tanami kelapa sawit. Tak terasa sawit itu mulai berbuah saat Rara masuk SMK. Untungnya sekolah hanya menerapkan 5 hari aktiv, Sabtu Minggu libur, tapi bagi yang berkepentingan Sabtu tetap masuk sekolah. Jadi, Sabtu Minggu bisa di gunakan Rara untuk kekebun membersihkan lahan, pemupukan ataupun saat panen.
Empat kursi paling belakang akan selalu menjadi tempat favorit mereka. Bahkan penghuni lain pun tidak ada yang berminat untuk duduk di situ saat Rara and the geng hadir, kecuali mereka tidak sekolah atau pergi menggunakan motor kesayangan mereka.
"Capek banget kayanya, abis panen??" Tanya Hilda
Hilda Laura Hamka, cantik dan usil. Temen Rara dari SMP. Menjadi dekat saat mereka masuk SMK negri, ambil jurusan sekretaris. Body gak gemuk dan gak kurus, lebih berisi di geng mereka.
Amyta Soraya atau yang di sapa Amy adalah saudara angkat Hilda, saat SMP orang tua Amy tidak sanggup menyekolahkan Amy, akhirnya Hilda meminta orang tuanya untuk membantu Amy sekolah dan tinggal bersama Hilda. Orang tua Hilda mempunyai usaha berternak ayam potong. Sama seperti Rara, Hilda dan Amy membantu orang tuanya di kandang setiap libur.
"Heemmm, ngantuk!! Badanku remuk!!" Ucap Rara sambil meletakkan kepalanya pada bahu Amy.
"Panen berapa ton??" Tanya pipit sambil mengeluarkan tempat makan baperware nya.
Saat di buka terlihat beberapa potong buah naga dan jambu kristal yang telah di potong kecil kecil dan di beri beberapa tusuk gigi.
Pitriani khalista, di panggil Pipit karna body mungil tapi ceriwisnya seperti burung Pipit, berisik pokoknya. Pipit ambil jurusan akuntansi bersama dengan Amy. Orang tuanya petani buah buahan, seperti salak, buah naga, jambu kristal. Ayah Pipit ketua kelompok tani di daerah tempat tinggalnya, dan banyak menghadiri berbagai penyuluhan pertanian dan menjadi Nara sumbernya.
__ADS_1
"Kalo gak 5...7" jawab Rara sambil menusuk buah naga dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Beehhh, aseek....makan dimana kita??" Tanya Hilda semangat.
"Biasa....bakso pak Mudin" jawab Rara santai,
"Seger, abis panen juga" tanya Rara pada Pipit.
"Iya, kamu hil....kapan panen?? Yah...gak ada tempat lain dari bakso??" Tanya pipit pada Hilda yang terlihat mengunyah irisan buah jambu kristalnya.
"Gak usah gaya deh mau makan di restoran segala, makan pizza aja ujung ujungnya muntah "cibir Amy
"Minggu depan!!" Jawabnya singkat
"Bisa donk kalo gitu" seru Rara
"Aseek....nambah vitamin lagi" kata Pipit sambil tepuk tangan pelan.
"Pastinya...." Jawab Amy sambil minum air putih yang selalu di bawa dalam botol baperware nya.
"Iya, Pipit gaya banget makan pizza, abis itu pake acara muntah lagi, kita itu biasa makan daun singkong yang di rebus terus di makan pake sambal mentah yang di kasih jeruk, itu lebih nikmat daripada makan makanan orang kota" ejek Hilda
"Ya kan pengen rasain juga" bela Pipit
"Udah...."
"Ya udah...."
Mereka tinggal di pinggiran kota, tapi kehidupan mereka tidak tertinggal, mereka bisa masuk SMK negri dengan nilai murni. Kehidupan mereka yang bisa di bilang berada walaupun tidak memiliki rumah gedong dan art, tapi semua kebutuhan mereka tercukupi. Orang tua mereka juga cukup akrab karna seringnya mereka berkumpul dirumah.
Setiap seminggu sekali atau kadang setiap hari saat pulang sekolah mereka akan berkumpul di rumah yang mereka sepakati untuk makan makan entah itu membeli atau memasak bersama. Tapi saat mereka ada tugas atau ada tempat yang harus didatangi mereka akan membawa motor, atau mobil bila jarak dekat karna mereka belum memiliki SIM, bukan karna umur tapi karna batasan yang orang tua mereka berikan. Apalagi mereka sudah kelas 3 dan 6 bulan kedepan mereka lulus.
"Eeeh, ingat Andri gak??" Tanya Amy pada Rara dan Pipit.
"Andri temen SMP kita dulu??" Kata Pipit
"Yap bener"
"Kenapa dia??" Tanya rara
"Ngajak ngumpul geng BIGOS (biang gosip)" kata Hilda
__ADS_1
"Ada kabar apa sampe ngajak ngumpul??" Tanya Rara yang mulai memejamkan matanya dan bersandar di kursi.
"Kangen aja sekalian pengen ngenalin kita sama temen temennya" lanjut Hilda.
"Kapan??"tanya pipit
"Ntar malem gimana??" Usul Amy
"Jadi bermalam nih di rumah Hilda??" Tanya Rara kembali
"Ya iyalah.... Masa mau pulang lagi" sahut Amy.
"Aku sih yes...kamu Ra??" Tanya Pipit
"Atur beres...."jawab Rara singkat.
"Pulang ntar langsung kerumah aku aja, besok pagi kita naik bus lagi, gak usah bawa motor. Capek!!" Ujar Hilda memberi saran.
"Oke, kalo udah di rumah baru aku telpon mama buat izin. Yang penting mama tau anaknya di mana" kata Rara
"Aku juga kalo gitu" saut Pipit juga.
Senin sampai Jumat waktu bebas untuk mereka karna Sabtu Minggu gak boleh di ganggu untuk acara apapun itu walaupun untuk acara kumpul bersama teman atau sekedar pacaran. Tetap dengan catatan harus memberi kabar di saat bebas mereka.
Kutanya malam
Dapatkah kau lihatnya perbedaan
Yang tak terungkapkan tapi mengapa
Kau tak berubah
Ada apa denganmu....
(Peterpan, ada apa denganmu)
Paduan suara yang mengiringi lagu Peterpan yang selalu di putar setiap pagi di bus sekolah, dan terdengar suara seru lainnya saat mereka bercerita.
Sambil mendengarkan keriuhan mereka Rara Memejamkan matanya. Tubuhnya sangat lelah dan tulangnya serasa remuk. Bagaimana dia bisa menambah tinggi badan jika beban yang di pikul begitu berat hingga berdiri pun rasanya tak mampu. Di usianya sekarang harusnya Rara fokus untuk belajar apalagi sebentar lagi akan banyak try out untuk UAS yang akan Rara hadapi, namun keadaan yang membuat Rara harus tetap berjuang mengumpulkan rupiah untuk biaya kuliahnya setelah lulus.
Kadang Rara iri pada para sahabatnya, mereka bekerja hanya membantu ayah ibunya sementara Rara, ia yang harus fokus bekerja dan berfikir. Adik dan ibunya hanya membantu.
__ADS_1
Tak jarang Rara menangis, kenapa ia terlahir menjadi wanita, kenapa bukan pria yang di beri kekuatan yang lebih daripada wanita. Namun, ujung dari itu Rara kembalikan kepada sang pencipta bahwa semua telah di atur.
Tak lama, bus sekolah berhenti di terminal. Geng bigos turun dari bus, dan melanjutkan perjalanan dengan angkot menuju ke sekolah mereka.