
19
"mas.... tolong ya, ban saya bocor" ucap rara pada seorang pria yang berada di dalam bengkel.
seorang pria yang sedang dduk berhadapan dengan sebuah motor tanpa ban di depannya hanya menatap Rara sejenak keudian kembali menatap motor yang di parkir Rara tak jauh dari Rara berrdiri.
sang pria mengangguk. "bentar ya mba, selesaikan ini dulu. tinggal pasang ban kok" ucapnya.
"di tunggu mas" jawab Rara sembari duduk di kursi yang tersedia di bengkel itu.
Ponsel Rara bergetar di saku tas.
"Yups" jawab Rara
"Udah dimana?"
"Bengkel... Ban bocor!! Why??"
"Kiraen gak jadi datang. Perlu di jemput?"
"No.... Tunggu aja disitu"
"Oteyy..."
Panggilan berakhir, Rara kembali menatap pada motornya. Ternyata sudah mulai di bongkar.
"Ganti atau tambal mbak?" Tanya sang montir.
"Ganti aja mas..." Jawab Rara.
Sang montir hanya mengangguk. Rara kembali pada ponselnya.
15 menit berlalu, motor sudah selesai. sang montir berlalu untuk mencuci tangan kesamping bengkel.
__ADS_1
Seorang montir pria yg lebih dewasa datang mendorong motor pelanggan baru.
"Berapa mas?" Tanya Rara pada montir baru.
"Ganti ban?" Tanyanya
Rara mengangguk "iya..." Jawab Rara
"Bayar sama cowok yang baikin aja mbak, sekalian kasih no hpnya mba" ucap sang montir.
"Hahhh.... Maksudnya?" Tanya Rara bingung dan dengan ekspresi cengo nya.
Sang montir tersenyum dan berlalu. Rara semakin di buat bingung. Apa maksudnya??
Saat Rara menoleh ke arah montir pergi, montir yang memperbaiki motor datang dengan kain lap di tangannya. Dengan baju singlet yang memperlihatkan otot lengannya harusnya Rara teresona dan mengagumi jika montir itu ternyata sangat tampan dengan potongan rambut cepak namun sedikit panjang di bagian depan. Kulitnya putih namun kotor terkena debu, keringat, dan kotoran dari motor. Sang montir tamvan tersenyum ke arah Rara.
Rara hanya berwajah datar, tak ada rasa kagum atau terpesona. Sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah pada sang montir.
Montir tamvan pergi masuk untuk mencarikan Rara kembalian. Setelah menerima, Rara hanya mengucapkan terima kasih dan memasukkan uang kembalian pada saku tas, lalu menarik gas perlahan dan berlalu.
"Ternyata dia melupakannya" batin sang montir lalu tersenyum.
"Masih terlalu awal anak muda" sang montir dewasa berlalu sambil menepuk bahunya memberi semangat. Sang montir tamvan kembali tersenyum.
###
Rara sampai di depan rumah bercat coklat, tak lupa klakson yang terus menerus ia tekan kuat hingga membuat suara bising.
Dion yang berada di dalam kamar merasa terusik. Bangkit dan mengangkat sebuah gelas. Segera keluar dan...
Byuuurrr....
Air sisa kopi milik Dion mendarat tepat ke kepala Rara. Beruntungnya Rara masih menggunakan helemnya.
__ADS_1
"Diiooooonnnn...." Teriak Rara, sementara dion sudah terbahak di depan pintu. Saat melihat Rara bersiap turun dari motornya secepat itu Dion berlari dari kejaran Rara.
"Awas kamu.... Diioooonnn kampret...." Lengkingan suara Rara menggema di penjuru rumah. Rara mengejar Dion ke arah dapur.
"Bunda.... Dion jahat!!" Kesal Rara masih sambil mengejar Dion.
"Dia perusuh Bun...." Jawab Dion
"Sudah sudah, Rara ganti baju aja nanti Dion bunda jewer" tegur bunda dengan lembut sambil memegang tangan Rara.
"Awas kamu...." Tunjuk Rara pada Dion, sementara yang di tunjuk masih tertawa.
"Dion sudah...." Tegur bunda, Dion langsung duduk di kursi. "Di... Rara nginap?" Tanya bunda sambil merapikan makanan di meja.
"Nginaplah Bun, masa iya dia pulang malam pake motor nya. Trus kalo Dion antar motornya gimana?"
"Ya siapa tau, Rara kan anaknya gak bisa di tebak"
"Bunda gak minta izin sama mamanya Rara?"
"Udah, katanya mamanya Rara gak apa-apa. Tapi y itu, Rara harus pulang pagi"
"Kasian Rara ya Bun, harusnya dia menikmati masa sekolahnya tapi ini dia harus berjuang cari nafkah buat mama sama adek-adeknya"
"Kan mereka kerja sama. Mudahan aja nanti Rara sukses dan punya suami kaya yang manjain dia"
"Jangan aah Bun, nanti suaminya miskin gara-gara ngongkosin Rara" Dion mulai lagi, karna Dion melihat Rara datang dengan mengenakan Kaos oblong dan celana kain panjang, serta rambut yang di gerai.
Rara begitu manis, tapi Dion memandangnya sebagai adik walau usia mereka hanya selisih 3 bulan lebih tua Dion.
"Mulutmu di.... " Dion hanya tertawa bahagia.
"Seneng....seneng....terus..." Omel Rara.
__ADS_1
"Ra....makan dulu baru lanjut" tegur bunda.
Mereka makan bertiga dengan candaan dari Dion dan Rara yang saling melempar hinaan.