Rasa Yang Tawar

Rasa Yang Tawar
Rasa yang tawar 15


__ADS_3

15


Setelah selesai sholat, Rara cs segera menemui Maman cs di halaman kelas, tepatnya di bawah pohon ketapang yang telah tersedia kursi panjang untuk para murid bersantai saat istirahat.


Terdengar petikan senar dari gitar yang dipegang oleh Diko.


''Wahhh.....asik banget!!!'' tegur Amy. seketika mereka semua menoleh ke arah Rara cs.


''Hei.... udah selesai'' tanya Maman semangat sambil memegang tangan Pipit dan menariknya untuk duduk di sampingnya, hal itu sontak membuat mereka yang melihat ramai menggoda pasangan baru tersebut.


''iri aja kalian'' jawab Maman sombong.


''huuuuu...... sombong amat'' kesal diko dan itu mengundang tawa mereka.


''sini sayang di samping aku duduknya'' kata Andri yang tak mau kalah. ''Atau mau aku pangku'' goda Andri lagi pada Hilda. akhirnya hilda duduk di samping Andri.


''Minta di Doorr sama pakpol Andri ini!!'' celetuk Amy lalu duduk di samping Hilda.


''Rara sini aja di samping aku'' tawar Diko dan di setujukan oleh Rara. ''geser dikit yo...''tegur Diko pada Aryo sahabat Maman cs.


''sini aku yang main gitarnya'' kata Rara seraya mengambil gitar dari Diko.


''Bisa??'' tanya diko


''Dikit'' jawab Rara santai.


''pelan-pelan ra... ingat tangan'' tegur Hilda. membuat yang mendengar langsung menatap tangan Rara yang di sangga jilbab berwarna coklat.


"Amann'' jawab Rara santai sambil mencoba memetik gitar untuk mengambil nada.


''Tangan kamu kenapa Ra??'' tanya Andri.


''jatuh tadi di belakang'' jawab pipit.


''Santai... aku baik- baik aja okeyy'' jawab Rara serius agar mereka gak khawatir.


''Ntar kalo kamu kenapa- kenapa kita lagi yang di amuk calon suami kamu'' kata Hilda asal dan itu membuat Diko melotot kesal pada Hilda.


''Biasa aja matanya kali'' ucap Andri. Dan di balas tatapan kesal oleh Diko. kenapa para sahabatnya ini senang sekali membuat Diko kesal. tidak kah mereka membantu Diko sedikit saja untuk dekat bahkan pacaran dengan Rara.


''ehh ra.... itu calon suami kamu bukan sih??'' tanya Amy menunjuk perkumpulan pria yang sedang latihan baris berbaris. "Cakep banget sih calon suami Rara'' puji Amy lagi. tentu saja membuat Diko semakin kesal. baru saja Diko bisa duduk dekat dengan Rara tanpa dion si pengganggu, eehh... malah sahabatnya yang mengganggu.


'cinta bukan, hanya cinta saja


sementara kau, merasa cukup,

__ADS_1


maaf ku jenuh padamu


lama sudah ku pendam


tertahan di bibirku


mau ku tak menyakiti


meski begitu indah


namun ku tetap saja


jenuuhhh....


''Rio Febrian'


lagu slow yang di bawakan Rara membuat mereka bungkam dengan perdebatan yang tak berbobot itu.


"Woooo......' seru Andri dengan tepuk tangan yang amat kencang. hal itu mampu membuat semua mata yang berada di halaman sekolah menatap mereka. tak lama di ikuti tepuk tangan dari yang lainnya kecuali Rara cs.


''Apa sih...lebay!!'' tegur hilda.


''Keren'' sahut Aryo.


''Curhat ceritanya...'' tegur Maman.


''Tuh denger Dik... belum apaan Rara dah jenuh sama kamu'' ledek adi dan di susul tawa dari semua nya.


"'Diko.... denger ya. aku pengen kita temen. kemaren, hari ini, maupun besok dan sampai kapanpun, kita tetap temen. aku gak mau rasa yang lebih itu membuat kita suatu hari nanti jadi canggung apalagi sampai gak teguran. karna kamu tau... aku lebih memilih persahabatan dari pada cinta!!'' ucap Rara serius sambil meletakkan kedua tangannya pada pinggiran gitar dan menatap diko dengan intens. ''Berjuanglah untuk wanita yang ingin diperjuangkan. jangan perjuangin aku, yang gak punya perasaan ini'' lanjut Rara.


Semua terdiam, menatap serius kepada Rara.


"Maaf.... aku gak bisa memberi harapan atau apapun tentang perasaan ke kamu. jangankan kamu, aku aja gak ngerti dengan perasaan aku. jangan memaksa, aku gak suka!!'' kata Rara lagi. kemudian Rara kembali fokus pada nada-nada dari gitarnya.


Diko tak tau harus bicara apa, bahkan dia belum berjuang namun begitu sakitnya di patahkan. benarkah yang di katakan sahabat-sahabatnya??


Apakah benar kalau memang dia tak memiliki harapan apapun pada Rara. Gadis jutek nan dingin namun memiliki senyum menawan yang mampu membuat Diko terpana saat pertama bertemu.


''Ada acara apa sih pada latihan baris berbaris??'' tanya pipit pada Maman untuk mengurangi kecanggungan yang terjadi. jujur, pipit pun merasa apa yang di katakan Rara memang benar. rasa yang akan mengubah segalanya. lalu bagaimana dengan hubungannya dan Maman yang baru berjalan 3 hari ini. Apakah juga akan sama dengan para mantan-mantannya yang lalu, berujung pada pertengkaran dan tak saling sapa. padahal saat rasa itu masih ada, tak pernah terbesit sedikit pun rasa benci.


''Akhir bulan ada acara ulang tahun kota, jadi di adain lomba baris berbaris'' jawab Maman memecah lamunan pipit.


''kok yang latihan mereka doang, kalian gak ikutan??'' tanya pipit lagi.


''Tau kan antara anak IPA IPS gak bisa akur??'' Maman kembali menjelaskan, yang di balas anggukan dari Pipit.

__ADS_1


''Hubungan kamu sama Dion apa Ra??'' tanya Andri mengalihkan.


Rara terdiam dan menatap wajah para sahabatnya. ''Aku sama Dion sepupu 2 kali. karna bapakku dan bapaknya Dion sepupu 1 kali dan kakekku sama kakeknya dion saudara'' jawab Rara.


''Trus beneran kamu di jodohin sama dia??'' Andri semakin penasaran.


''Enggak.... seperti yang kamu tau, aku gak punya rasa pada siapapun, termasuk pria!!''


Rara kembali menoleh kepada Diko. '' Maaf, kalo kata-kataku kasar'' ucap Rara lirih.


Diko langsung menatap Rara. ''Kamu gak salah, aku yang salah. terlalu cepat dan bikin kamu gak nyaman'' ucap Diko pelan.


Akhirnya suasana kembali santai, dengan petikan gitar dari Rara, seakan tak mau kalah amy pun ikut memainkan gitarnya di iringi beberapa lagu yang ceria. tak ingin mengubah suasana yang nyaman dengan lagu-lagu melow.


Tak lama Dion datang dengan keringat yang masih menetes menghampiri Rara.


"Otan, kata bunda disuruh mampir atau nginap aja biar nanti bunda yang izin sama mama mu'' kata Dion berdiri di samping rara sambil menarik jilbab Rara.


''bilangin bunda aku gak mampir,minggu depan aja. kalo aku nginep, temen ku pulang sama siapa??'' kata Rara.


''Beneran ya langsung pulang, jangan mampir-mampir lagi'' kata Dion


''iya bawel. gengzz...kita balik ya. minggu depan kita kesini lagi buat nonton balapan di waduk'' kata Rara.


"yaaahhh....ceper banget sih. masih kangen tau!!" ucap Maman dengan manyun sambil meletakkan kepalanya di bahu Pipit.


"berat Bagong!!" kata Pipit sebal.


"iih, jahatnya.... pacar sendiri di panggil Bagong" kesal Maman.


"nyadar woiii... body kamu tuh emang kaya Bagong" sela Hilda.


" bukan.... kuda Nil" sambar Amy yang di iringi tanya mereka semua.


''Oke deh...hati-hati ya.... kapan waktu kami yang datang ke sekolah kalian deh'' ucap Andri.


''Gak usah kesekolah deh'' jawab Hilda.


''Napa sih gak boleh kesekolah, gak mau gitu temen-temen kamu yang lain naksir sama aku??" ucap Maman penuh percaya diri.


''Pit, sumpah ya... kalo aku punya cowok kaya Maman, udah aku lempar kejurang!!'' kesal Amy.


''Serah kalian deh, cuma ingatin...jangan kaget itu aja'' jawab Rara sambil berjalan menuju parkiran bersama dion.


Dari semua perdebatan dan drama yang terjadi tak lepas dari seorang yang sejak tadi sedang dudu sambil membaca buku, namun telinganya mendengarkan semuanya.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2