Rasa Yang Tawar

Rasa Yang Tawar
Rasa yang tawar 21


__ADS_3

21


Setiap sabtu dan minggu, Rara akan pergi ke kebun kelapa sawit miliknya. Karna minggu lalu masa panen, berarti minggu ini Rara akan membersihkan pohon dan tangkai yang berhamburan. Terkadang Rara akan memupuk jika sudah waktunya di pupuk, atau kadang Rara akan menyemprot rumput menggunakan tangki semprotan dan racun rumput, namanya juga petani pasti akan bermain dengan benda-benda tersebut. Belum lagi jika harus bermain dengan arit dan parang untuk merintis ataupun memotong sesuatu.


Hari sudah menunjukkan pukul 5 sore, Wisnu dan Dika sudah pulang lebih dulu dengan ibu mereka, Rara pulang paling akhir dengan motor trailnya.


Perjalanan pulang sudah sejauh 5 kilometer, tiba-tiba motor yang di bawa Rara mogok. Mencoba yang Rara bisa dari mengcek bensin, ternyata masih banyak. mengengkol berkali-kali, nihil. Motor tetap tak berbunyi.


Rara merogoh kantongnya mengambil ponsel, mencoba menelpon adik-adiknya untuk menjemput dan membantu tapi sia-sia, karna masih berada jauh dari hunian penduduk, jaringan ponsel tak ada.


Huuuffftttt.... susahnya hidup di hutan. perjalanan masih 23 kilometer lagi menuju jalan raya, setidaknya 20 kilometer baru ada jaringan ponsel sedangkan jam sudah setengah enam sore, sebentar lagi masuk magrib dan hri makin gelap. Rara hanya berharap ada seseorang yang lewat dan membantunya.


Di saat Rara berjalan sendiri sambil mendorong motornya, sebuah motor trail yang hampir sama dengan milik Rara berhenti tepat di sampingnya.


''Kenapa motornya??'' terdengar suara seseorang di sampingnya.


"Gak ta....uu" jawab Rara kaget. pria itu hanya tersenyum.


"Haii...." sapanya dengan senyum ramahnya.


"Hai juga..." jawab Rara dengan santai. kenyataan nya Rara sempat kaget dengan kehadiran pria ini.


"Motornya kenapa??" tanyanya lagi.


''Mogok'' jawab Rara singkat.


Pria itu lalu turun dari motor dan berjalan ke arah Rara, mengambil alih stang motor dan menstandarkannya. Rara otomatis mundur membiarkan sang pria mengambil alih.


''bensinnya aman, masih banyak, tapi gak tau kenapa gak mau jalan'' kata Rara. terlihat sang pria berpikir.


Sang pria kemudian menaiki motor dan mencoba beberapa kali mengengkolnya. Kembali berputar ke arah depan Lalu dan membuka sesuatu dari situ.


''Businya mati sepertinya'' ucapnya.


''Jadi??'' tanyaku.


''Harus di ganti. sayangnya aku bawa motor ini'' jelasnya.


''Emang kenapa dengan motor ini??'' tanya Rara penasaran.


"Motor ini gak ada joknya, jadi gak ada cadangan alat motor'' jelasnya lagi.


"Jadi gimana?? mana masih jauh lagi. bentar lagi gelap''


''Mau di tarik, gak punya tali, Sambil jalan aja gimana??"


"Di dorong gitu??"


"Iya, aku temenin sampai kita dapat bantuan. Beruntung jalannya semenisasi, jadi bisa santai''


Rara mengangguk. Mereka berjalan beriringan sambil menuntun motor mereka masing-masing.


"Huuhhh... harusnya aku tau mesin biar gak ngerepotin kaya gini'' ucap Rara pelan.


"Emang kenapa kalo kamu gak ngerti mesin??'' tanya nya.


"Ya gak papa, jadi aku tau yang mana kerusakannya. gitu aja!!'' jelas Rara.


sang pria justru tertawa.


"kenapa??'' tanya Rara heran kenapa snag pria tertawa.

__ADS_1


''Kamu terbiasa mandiri ya??''


"Salah??''tanya Rara lagi.


''Enggak sih'' jawabnya santai. ''emm... ngomong-ngomong namanya siapa?? udah ketemu beberapa kali tapi belum kenalan'' tanyanya lagi.


Rara menatap santai pria di depannya, menimbang, apakah jujur atau bohong dengan namanya?? ''Aira...'' sambil menyorongkan tangannya pada sang pria.


"Hendy..."jawabnya sambil menyambut uluran tangan Rara.


ya....Hendy adalah pria yang tak sengaja bertabrakan dengan Rara di masjid Jumat kemaren di sekolah Maman cs. Tempat Rara menambal ban saat kempes, dan masih banyak lagi yang Rara tak pernah memperhatikannya.


"Asli atau populer??'' tanya Rara menyelidik. kembali sang pria tertawa.


"kenapa?? takut di bohongin??'' tanya Hendy.


"Yah siapa tau sama aku Hendy sama yang lain Hendra atau bahkan bastian'' jawab Rara santai. kembali Hendy tertawa keras.


"Pengalaman kayanya. mau aku tunjukin KTP ku??'' tawar Hendy.


"Makasih, aku percaya kok''


"Darimana kamu percaya??''


''Tampang kamu terlalu introvert, gak mungkin bohong!!''


"Gimana kalo kamu salah?? tau dari mana aku introvert??''


"Entahlah..." Rara menjawab acuh.


"Ohh.... aku panggil kamu apa nih, ai atau ira??''


"Terserah kamu yang penting jangan Paijo''


''yah... itukan bukan nama aku'' Hendy kembali tertawa. menatap Rara dengan serius lalu kembali tertawa.


'''Gak ada yang lucu tapi ketawa terus'' ucap Rara kesal.


''Kamu yang terlalu kaku''


''masa sih??'' tanya Rara tak percaya, belum tau aja dia, pikir Rara. Rara akan kaku cenderung jutek pada orang yang baru dia kenal, tapi jika sudah lama mereka akan tau jika Rara adalah wanita bar-bar.


"eemmm... kamu kelas berapa??" tanya Rara ragu.


"kelas 3 IPA"


"Kenal Dion donk??"


"temen sekelas....tenang aja Dion pria setia kok, dia gak punya cewek di sekolah apalagi di kelas"


Rara tertawa lucu.


"kenapa??"


"ya gak apa apa....lucu aja, aku nanya aja kamu kenal Dion kah? jawab mu panjang banget. lagian ya...mau Dion pacaran sama cewek satu sekolah juga ya...biasa aja"


"kamu gak cemburu??"


"ngapain cemburu??"


"yah....sapa tau aja"

__ADS_1


"hahaha....." tawa Rara sambil menutup mulutnya.


"kapan main ke sekolah ku lagi??"


"mungkin Kamis, sekalian nonton balapan di waduk"


"gak sekolah??"


"sekolah, paling sampe jam 12 aja"


"emang biasanya pulang jam berapa??"


"jam 3...."


"haahhh....bolos donk??"


"why not??"


"kamu doyan bolos??"


"kenapa?? aneh"


"banget..... gak nyangka aja cewek kaya kamu berani bolos"


"haha.....belum tau dia" ucap Rara sambil terus berjalan. sementara Hendy berdiri sejenak. menatap bingung pada Rara. wanita bar-bar dan penuh kejutan.


Hendy tersenyum melihat Rara dengan menuntun motor miliknya. Romantis...pikir Hendy.


Rara... gadis manis dengan senyum menawannya tetap cantik walau dengan keadaan kucel yang menurut Hendy semakin sexy. jilbab hitam yng di masukkan kedalam sweater kebesaran miliknya, dipadukan dengan celana kain agak longgar yang membuatnya bebas bergerak.


Hendy dan Rara berhenti dan memandang ke depan, lalu saling menatap. Di depa ternyata turunan gunung namun kembali ada tanjakan yang lumayan tinggi. mereka berpikir bagaimana melewati tanjakan itu.


Rara membayangkan mendorong motor sampai pada tanjakan itu, apakah nafasnya akan putus sebelum sampai di atas??


Suara Hendy membuyarkan bayangan Rara.


''Turunan gunung ini aku sambil dorong pake kaki dengan gas full. berharap motor bisa naik sampai tanjakan. Gimana??''


Hendy kembali menatap Rara yang masih menatap kedepan. Tak lama Rara menoleh.


''Bismillah....'' ucapnya yakin.


Dan rencana berjalan mulus sampai di tanjakan, dan kembali Hendy mendorong motor Rara dengan kakinya.


Akhirnya, sebuah mobil avanza terlihat di belakang mereka. Hendy turun dan meminta pertolongan sampai jalan raya. sang supir lalu mengeluarkan tali dari dalam mobil untuk menarik motor Rara.


"bawa motorku, biar aku yang bawa motormu'' kata Hendy. Rara menurut, mengikuti di belakang Hendy dengan motornya.


Setelah sampai di jalan Raya, dan mengucapkan terima kasih Rara mendorong motornya ke bengkel dekat simpangan.


Saat menunggu Hendy memperbaiki motor Rara, ponsel Rara berdering. panggilan dari mamahnya yang khawatir karna magrib hampir habis anak gadisnya belum sampai rumah. panggilan terputus setelah Rara menjelaskan pada mamahnya kejadian sebenarnya.


"Selesai...udah bisa''' kata Hendy yang sudah memperbaiki motor Rara.


"Makasih ya... kalo gitu aku pulang dulu''


"Iya, sudah malam juga.. Hati-hati'' ucap Hendy dengan mata teduhnya. namun sayang Rara belum merasakan apapun dengan keadaan ini.


Hendy kembali tersenyum menatap Rara menjauh dari pandangannya.


"JADIKAN DIA JODOHKU YA ALLAH''

__ADS_1


Do'a Hendy dalam hati.


__ADS_2