
7
Selepas Andri cs pulang, Rara cs bersiap untuk tidur, Hilda berbaring pada posisi biasa dengan tanktop dan celana panjang, tak lama Pipit ikut naik ke ranjang dengan tidur pada pantat Hilda dengan mengenakan tanktop dan celana sebatas paha sambil meletakkan ponsel di pipinya. Amy sedang mengganti baju tidur lengan pendek dan celana pendek, lalu naik ke ranjang pada kepala ranjang. Sedangkan Rara masih di kamar mandi untuk sikat gigi, tak lama keluar dengan memakai baju lengan panjang longgar dan celana sepaha. Rara menyusul dengan duduk pada ranjang kosong.
Ranjang king size itu terlihat sempit dengan 4 orang gadis, terkadang mereka akan tidur berhimpitan saat sepupu Hilda datang dan bermalam bersama. Walaupun ada kamar kosong, tetap mereka akan ngumpul seperti ketan.
Sejenak Rara tersenyum melihat para sahabatnya yang tengah sibuk dengan ponsel masing masing untuk memberi kabar pada someone mereka.
Hilda dengan Harjo, kakak kelas yang sedang mengikuti pelatihan polisi yang datang kerumah Hilda meminta izin pada orang tua Hilda untuk menjalin kasih sebelum melakukan pelatihan. Jelas saja orang tua Hilda menerimanya dengan senang hati, apalagi calon polisi.
Amy yang kemaren putus dari Husen karna kasus perselingkuhan, kini mulai dekat dengan anak SMA 1, yang pasti seangkatan. Karna Amy paling anti berhubungan dengan berondong.
Pipit, kini tengah asik mendengarkan gombalan receh dari Maman, entahlah....mereka akan bersama atau tidak. Di dengar saja. Karna sebelumnya Pipit sempat menjalin hubungan dengan adik kelas saat SMP, kandas karna lagi lagi orang ke tiga. Aahh seperti nya orang ketiga itu seperti tradisi yang harus di lestarikan.
"Kenapa Ra...senyum senyum gitu??" Tanya Amy penasaran.
__ADS_1
Rara tersenyum semakin lebar. "Enggak....aku cuma kangen aja. Kangen mencintai, kangen merindui, kangen senyum senyum sendiri, kangen galau, kangen deg deg kan kalo lagi di gombal. Kangen nervous saat di perhatiin cowok. Kangen jatuh cinta....tapi kenapa hatiku hampa ya. Kosong!!" Ucap Rara sedih.
"Mungkin suatu hari nanti, kamu bisa ngerasain lagi. Siapa tau, Allah sedang menjaga hati kamu buat jodoh kamu. Tetap positif thinking yes??" Hibur Hilda.
"Bener, jadi saat nanti ketemu jodoh kamu, rasanya jauh lebih istimewa" celetuk Pipit.
Rara tersenyum. Betapa Beruntungnya Rara memiliki sahabat seperti mereka.
"Udah...pada tidur. Biar besok lebih semangat" ajak Hilda sambil menarik selimut.
"Serius kamu pit, PDKT sama Maman??" Tanya Amy
" Pake hati gak??" Tanya Rara
"Pake jantung Ra....waktu dia pegang tangan, aku deg deg an" jawab Pipit sambil memegang jantungnya, sontak yang lain tertawa.
__ADS_1
"Kamu my, udah sampe mana sama anak SMA nya?? Aku rasa alesannya aja tuh pake salah nomor, paling dia udah kenal sama kamu. Sekarang tu ya....buat dapetin nomor ponsel itu gak perlu datangin konter hp. Dia pasti udah lama intipin kamu" kata Pipit
"Bener juga tuh, kenapa dia berani hub kamu saat kamu udah bubar sama si kembar sial" selidik Rara.
"Ajak ketemuan aja my, dimana gitu" Pipit memberi saran.
"Ketemuan di mana??" Jawab Amy bingung.
"Kalo gak, gantian....kita intipin siapa dia, gimana?? Kamu tanyain tuh kegiatan dia apa aja?? Terus kita datengin deh. Gimana...pada setuju gak?? Tanya Hilda
"Setuju...." Jawab Rara, Amy dan Pipit serentak
"Trus kamu hil, gimana sama pakpol kita??" Tanya Pipit penasaran dan Rara juga Amy memandang Hilda dengan penasaran.
"Apa sih" jawab Hilda salah tingkah karna di mereka melihat penuh selidik. " Ya biasa aja...emang mau gimana?? Dia latihan, aku sekolah trus ada yang salah??" Tanya Hilda kembali.
__ADS_1
"Gak ada...." Jawab Rara santai lalu kembali berbaring di dekat bahu Hilda.
Mereka kembali bercerita tentang banyak hal sampai akhirnya tertidur.