Rasa Yang Tawar

Rasa Yang Tawar
Rasa yang Tawar 17


__ADS_3

17


Flashback


Waktu menunjukkan pukul 12 siang, menurut info dari Boby, hari ini Rara pulang jam 1 siang, dan lebih baik Lana menunggu di terminal, karna terminal tempat 99% bisa bertemu Rara. Mau Rara bolos atau sekolah terminal pasti bisa bertemu.


Seorang pria tinggi, kurus dan sedikit gondrong, memiliki kumis tipis menghampiri Lana.


"Bisa pinjam korek bro??" Tanya pria itu


"Ohh...." Jawab Lana sambil memberikan korek yang di ambil dari kantong Hem miliknya.


Sang pria memberikan korek yang di pakai menyulut rokok dan langsung menghisap dalam rokoknya, tak lama asap mengepul keluar dari hidung dan mulutnya. "Lagi nunggu??"


"Iya..." Jawab Lana sambil menganggukkan kepalanya.


"Pacar? Atau keluarga? Oh iya, kenalin aku Rani?" Ucap pria itu sambil menyodorkan tangannya.


"Lana...., Eemm sorry.... Ra...ni!!" Lana agak ragu karna kenapa pria di panggil Rani.


"Bingung ya... Biasa buat aku, mereka emang seneng manggil aku Rani, mungkin karna rambutku ini" kata Rani menunjuk rambutnya dan duduk di samping Lana, kemudian Lana meletakkan rokok di antaranya. Lana hanya mengangguk mengerti.


"Ran...." Sapa seorang pria yang baru datang dengan motornya, berhenti di hadapan Rani.


"Heyy.... Baru datang" sahut Rani sambil bertos ala mereka.


"Iya....mana ladies-ladies, belum pulang mereka?"


"Belum, mungkin bentar lagi" jawab Rani kembali duduk.


"Kangen aku, baru seminggu gak ketemu mereka" ucap pria itu sambil merogoh kantong Celana Manarik rokok nya.


"Jan lupa, modalnya harus tebel, tau sendiri mereka tuh doyan makan" kata Rani dan di balas gelak tawa dari Rafli.


"Tenang aja, aman modalnya, hahaha.... Iya eeh, aku bingung sama mereka, biasanya cewek itu kalem, jaim, sok diet. Lah mereka... Perut no satu. Tapi gak gemuk-gemuk.... malah gemes pengen ngarungin, haha...." Ucap Rafli dan di bantu tawa oleh Rani, sedangkan Lana hanya menyimak, belum tau siapa yang mereka bicarakan.


"Eh, kenalin...Lana"


"Rafli..." Sahut Rafli saat menjabat tangan Lana.

__ADS_1


"Lagi nunggu?" Tanya Rafli pada Lana.


Lana hanya mengangguk.


Terlihat sebuah angkot, tak lama berhenti tak jauh di seberang jalan dari tempat Rani, Rafli dan Lana duduk. di dalamnya terdapat siswi-siswi dengan jilbab putih, satu persatu turun dan berjalan menjauh dari angkot menuju tujuan mereka masing-masing. Yang terakhir turun, empat orang siswi yang mereka paling tunggu kedatangan nya.


Hanya tiga yang berjalan ke belakang angkot, dan seorang terlihat berdiri di dekat kursi supir.


"My ladies...."teriak Rafli dengan merentangkan tangan ke arah 3 gadis berjilbab putih.


"Liiii...." Teriak mereka bersamaan dengan wajah yang begitu bahagia.


Sementara mata Lana sedari tadi mencari alasannya datang ketempat itu, saat angkot mulai berjalan perlahan meninggalkan seorang yang sejak tadi berdiri, terlihat gadis sedang memasukkan sesuatu ke dalam tasnya, lalu melihat kanan dan kirinya bersiap untuk menyebrang jalan. Mata tajam Lana tak lepas menatap gadis itu.


Gadis itu tersenyum manis ke arah Rafli, juga Rafli yang merentang kan tangannya untuk memeluk namun di balas kepalan tangan oleh sang gadis. Mereka tertawa bersama dan belum menyadari kehadiran Lana.


Saat sang gadis melihat ke arah Rani yang telah duduk manis dengan Pipit, dan seorang pria yang menatapnya tajam dengan wajah penuh amarah.


Senyum manis sang gadis masih terukir.


"Hai..." Sapa sang gadis, lalu berjalan kearah Lana. Yang lain hanya menatap heran. Saling kenal.... Pikir mereka dalam hati.


Lana masih menatap sang gadis dengan intens. Bingung, antara marah juga rindu.


"Apa benar kita putus" akhirnya Lana bersuara, walau sebenarnya Lana tak ingin membahas masalah ini dan melupakan nya, berharap sang gadis yang sangat dia cintai tak pernah membahas masalah ini,namun kekesalan karna mendengar dari orang lain sebuah kata 'PUTUS' bener-benar membuat amarahnya semakin besar.


"Kamu mau putus?" Sang gadis melontarkan pertanyaan yang sama.


"Aku nanya sama kamu Ra, jangan balas tanya. Cukup jawab!!" Suara Lana membentak membuat orang di sekitar menatap mereka.


"Liii..... Gorengan ya, aku laper!!" Minta Rara pada Rafli, dan di jawab anggukan oleh Rafli. "Ran, pop ice coklat ya...auusss!!" Pintanya


"Eeh, Ra... Kami duluan ke markas!!" Ucap Pipit sambil mengajak Amy dan Hilda menjauh dari tempat itu. Seolah mengerti bahwa Rara dan Lana butuh privasi.


"Apa gak sebaiknya di markas aja Ra ngobrolnya. Biar kita yang jaga di luar" Amy memberi saran, karna tak enak jika mereka jadi bahan tontonan orang.


"Disini aja!!" Jawab Rara, dan mereka membubarkan diri.


"Yang beb...tunggu" panggil Rafli pada Hilda.

__ADS_1


"Berisik, itu motor dorong, jangan di nyalain" kesal Hilda.


"Motormu bikin rusuh Li.... Disini gak ada yang boleh nyaingin suara bigos. Faham!!" Lanjut Amy.


Pipit dan Rani yang melihat hanya tertawa begitu juga Rara. Lana menatap senyum Rara yang begitu manis, sanggupkah dirinya membenci Rara. Pikirnya!!


"Gimana kalo kita nikah aja, aku gak sanggup membagi senyuman kamu untuk orang lain juga" ucap Lana.


"Jangan ngaco!!" Lirih Rara


"Aku serius Ra... Kita nikah sekarang!!" Ucap Lana mantap.


"Jangan gila" ucap Rara mulai kesal.


"Kapan aku bercanda Ra, kapan?? Aku selalu serius sama ucapan ku. Kamu selalu memandang remeh aku Ra. Kamu selalu gak percaya. Trus kamu maunya apa? Apa perlu aku hamilin kamu dulu baru kamu percaya sama aku?"


Plaaakkkk


Lana kembali menatap Rara sambil memegang pipinya.


Tatapan Rara semakin dingin. Lana merasakan jika Rara yang di hadapannya, bukan Rara yang pertama dia kenal. Rara seperti orang lain. Tatapan matanya kosong, tak ada amarah dan katakutan.


"Aku gak akan mau putus dari kamu!!" Putus Lana seolah tak perduli.


" Terserah kamu, aku gak peduli!!" Balas Rara


"Kamu kejam, perempuan egois!!" Bentak Lana.


Kembali Lana dan Rara jadi perhatian. Hingga geng bigos ikut kesal. juga waspada jika Lana berani main tangan maka Lana akan berurusan dengan Bigos lain.


"Kamu tetap pacar aku, Sampai kapanpun" bentak Lana lagi.


" Terserah...." Ucap Lana tak peduli dan memilih duduk sambil membuka ponselnya.


Lana kesal sekali, akhirnya pergi dengan motornya dengan melaju kencang sebelum menarik gak kuat hingga menimbulkan kebisingan.


Tak lama, Lana kembali lewat dengan kencang, hingga beberapa orang mengumpat dengan kasar atas kelakuan kekanakan Lana.


"gak apa apa Ra?" tanya Amy

__ADS_1


"biasa aja....!!" jawab Rara santai sambil bersandar pada Rani yang baru datang dari membeli pop ice yang di pesan oleh Rara. sementara Rafli dan Hilda belum datang dari membeli gorengan.


Flashback off


__ADS_2