
Hari ini dr Arka menangani kasus baru. Ia harus mengotopsi jenasah yang bisa dibilang istimewa. Jenasah gadis berusia 20an ini terbujur kaku di bak stainless dihadapannya. Gadis ini kabarnya adalah orang yang Prof Helmi --senior dr Arka-- rekrut. Ada alasan yang entah apa, yang membuat jenasah ini tidak diotopsi oleh prof Helmi sendiri. Itulah mengapa, jenasah ini berakhir ditangan dr Arka dan timnya untuk diotopsi.
Setelah berdoa bersama-sama, dr Arka mulai memeriksa tiap inci dari jenasah itu. Ia berusaha agar tidak ada satupun yang terlewat. Prosedur resmi ia lakukan dengan sangat hati-hati. Proses otopsi kali ini berlangsung cukup lama karena pria itu berkali-kali memeriksa ulang dan mencocokkannya dengan catatan yang ia dapat dari pihak kepolisian.
Kematian jenasah ini diperkirakan antara 8-9 jam yang lalu. Seorang petugas kebersihan pasar, menemukan gadis ini tergeletak di dekat bak sampah besar. Dari catatan awal disebutkan ada kemungkinan bahwa gadis ini menjadi korban perampokan karena tidak ditemukannya barang-barang pribadi korban disekitarnya.
Penyebab kematian disebabkan oleh kurangnya pasokan oksigen ke paru-paru dan otak. Melihat memar disekeliling leher jenasah, dan juga patahnya tulang leher, dapat dipastikan bahwa korban tewas dicekik. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, baik fisik maupun seksual.
************
Bella menatap kedatangan seorang gadis muda yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya. Gadis muda itu kerap kali datang saat jam istirahat makan siang untuk membeli sepotong roti dan juga minuman kemasan botol. Dari seragam yang dikenakannya terlihat bahwa gadis itu bekerja di rumah sakit yang tidak jauh dari sini. Awalnya Bella tidak menaruh perhatian khusus pada gadis itu. Hingga pada suatu hari ia melihat gadis itu mendadak pucat dan hampir kehilangan kesadarannya saat ia tidak sengaja menyentuh tangan pembeli lain yang kebetulan akan mengambil minuman di dalam showcase.
Sejak saat itu Bella memberi perhatian secara khusus setiap kali gadis itu datang.
********
Sudah beberapa hari gadis itu tidak muncul dihadapan Bella. Hingga pada suatu sore, tepat saat jam kerja Bella sudah berakhir, gadis itu datang. Saat mereke berjalan bersisian menuju pintu untuk keluar, tanpa sengaja gadis itu menyentuh tangan Bella. Raut terkejut tergambar jelas diwajahnya. Dan dalam hitungan detik, tubuh gadis itu luruh ke lantai. Bella segera memapah gadis itu keluar, dan mendudukkannya di salah satu kursi di depan minimarket.
"Terima kasih.." sahut gadis itu lirih
Bella hanya mengangguk dan kembali ke dalam minimarket. Saat ia keluar, ia membawa 2 buah minuman teh kemasan dalam kotak. Satu ia sodorkan pada gadis yang masih terlihat pucat dan mengambil tempat duduk di depan gadis itu.
"Ini, minum dulu" Bella berkata
Gadis itu tersenyum sekilas dan mulai membuka minumannya.
"Udah ngga apa-apa?" Tanya Bella lagi
Gadis itu menatapnya dan mengangguk.
__ADS_1
"Terima kasih.." sahutnya lagi
"Aku Bella" ucap Bella memperkenalkan diri
Gadis itu terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
"Aku Ara. Maaf, mungkin tadi aku udah bikin kamu kaget ya.."
Suasana canggung memenuhi atmosfer disekitar kedua orang gadis tersebut. Sebelum akhirnya dipecahkan oleh perkataan Bella.
"Kamu sakit? Mau aku antar ke rumah sakit?" tanyanya.
Ara hanya menggeleng pelan. Ia merasa ragu untuk bercakap-cakap dengan Bella. Entah kenapa, ada sesuatu dalam diri Bella yang membuatnya takut. Ditambah apa yang ia lihat, saat ia menyentuh gadis itu barusan.
"Ga usah takut, saya ngga berniat jahat" tiba-tiba Bella berkata dan terkekeh
Ara masih diam, sebelum akhirnya membuka suara.
Kedua alis Bella terangkat.
"Apa maksud kamu dengan "melihatku"" tanya Bella dengan membuat tanda kutip di udara menggunakan jari-jari tangannya.
" Tidak akan ada yang percaya tentang apa yang aku katakan Bella.. Mungkin kamu juga" sahut Ara
"Coba saja" Bella menantangnya
Ara menghembuskan nafas panjang.
"Aku dapat melihat keadaan seseorang disaat ajal akan menjemput hanya dengan menyentuh orang itu. Tapi tadi, saat menyentuhmu, aku tidak melihat apa-apa selain kegelapan" jawab Ara berusaha jujur.
__ADS_1
Bella hanya menatap diam ke dalam mata Ara.
"Aku belum bisa memutuskan apakah akan percaya dengan perkataanmu atau tidak" sahut Bella.
"Aku sudah menduganya" jawab Ara.
Gadis itu kemudian berdiri.
"Aku pulang dulu ya, makasi buat minumannya" kata Ara
Bella hanya mengangguk. Setelah Ara menghilang dari jangkauan penglihatannya, Bella tersenyum.
"Gadis gila.." lirihnya
**********
Beberapa saat berikutnya, Bella dan Ara menjadi dekat. Keduanya sama-sama memiliki rasa penasaran yang sama. Bella yang penasaran apakah Ara sudah gila dan Ara yang penasaran, mengapa ia hanya melihat kegelapan yang pekat saat menyentuh Bella.
***********
dr Arka menyerahkan laporan hasil otopsi pada Yandri. Yandri adalah seorang polisi yang bertugas untuk menyelidiki kasus ini.
"Gadis yang malang" lirih Yandri
"Kau mengenalnya juga?" Tanya dr Arka
Yandri mengangguk
"Gadis ini berperan penting dalam mengungkap beberapa kasus yang menemui jalan buntu. Ia memiliki kemampuan yang tidak manusia normal miliki. Sayangnya, hidupnya harus terhenti dengan cara yang tidak disangka"
__ADS_1
dr Arka hanya diam menatap wajah lawan bicaranya. Tidak lama kemudian Yandri berdiri, dan pamit meninggalkan ruangan dokter forensik tersebut.