Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh

Rebellion, Catatan Kecil Seorang Pembunuh
Episode 17


__ADS_3

"Pandanganku teralihkan oleh tiga sosok yang berdiri di ujung taman. Salah satunya seorang gadis yang berumur di bawahku. Entah kenapa aku merasakan sensasi yang aneh saat menatap matanya dan instingku berkata untuk menjauh." - Bella


***


Seorang perawat masuk dan membawa beberapa buah-buahan yang sudah di potong ke kamar Bella. "Bel, ada buah nih. Donatur yang baru datang dan membawa banyak sekali buah," ucapnya sambil menaruh buah-buahan diatas daun pisang tepat di samping Bella yang duduk di lantai.


"Bawa lagi saja. Aku tidak menerima pemberian dari siapapun selain dari rumah sakit ini."


Perawat itu tersenyum sejenak dan kemudian mengangguk. "Tidak melihat taman sore ini?"


Bella menggeleng, "Urus saja urusanmu dan berhenti mencampuriku."


Setelah diam selama beberapa saat, Bella terpikir akan sesuatu. "Siapa donatur baik yang memberikan buah?"


"Mereka kakak beradik yang baru saja pindah dan membeli rumah tidak jauh dari sini. Kedua orang tua mereka sudab tiada, dan mereka melanjutkan aksi amal yang dulu pernah orang tua mereka lakukan."


"Omong kosong." Gadis itu menatap mata perawat senior. "Aku semakin yakin untuk menolak pemberian mereka. Jangan pernah datang lagi untuk membawakanku makanan dari siapapun."

__ADS_1


Perawat itu hanya mengangguk dan bergegas keluar membawa kembali buah-buahan yang ia bawa sebelumnya. Entah kenapa selama beberapa detik, ia merasakan aura gelap yang keluar dari Bella dan itu membuatnya ketakutan.


***


Bella menatap kedatangan gadis itu dari balik jendela tempatnya duduk. Terlihat repot dengan membawa beberapa kardus, gadis itu mengabaikan penawaran beberapa perawat untuk membantunya.


"Halo," seseorang menyapa dari balik punggung Bella. Ia masih tetap dalam posisi duduknya semula yang menghadap ke arah taman.


"Hei, aku bicara padamu."


"Lalu?" Bella membuka suara.


"Persetan dengan sopan santun! Enyah!" Bella merasa ketenangannya terganggu.


"Padahal saya cuma mau ngasi ini."


Lama kelamaan suara tersebut membuat Bella penasaran dan berbalik. Ia melihat gadis donatur sedang membawa beberapa buah kue dalam dus kecil.

__ADS_1


"Apakah kamu tau jika tidak diperkenankan memberikan makan padaku di dalam dus?" Bella bertanya.


"Kenapa?" lawan bicaranya penasaran.


"Karena aku bisa melakukan ini." Dengan tenang Bella bangkit dan menumpahkan seluruh isi kue ke lantai. Di tangannya hanya tersisa dus kosong. Secepat kilat gadis itu merobeknya dan menempelkan pada leher gadis donatur.


"Ini bisa menjadi senjata di tanganku." Leher gadis donatur itu memerah karena sudut dus yang tajam. Terdengar suara peluit panjang dan beberapa perawat berlari menghampiri.


Bella melepaskan dus yang dipegangnya dan mengangkat kedua tangannya sejajar wajah. "Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya berkenalan saja dengan seorang donatur yang baik hati."


Gadis donatur itu memegang lehernya yang tergores. Bella melihat jika tidak ada sedikitpun ketakutan darinya. 'Menarik,' pikir Bella.


"Ya, kami cuma berkenalan. Saya penasaran dengan satu-satunya pasien di bangunan khusus ini. Saya tidak apa-apa kok," gadis itu berucap pada perawat yang sudah dalam posisi siaga.


Para perawat meminta gadis itu untuk keluar demi keamanannya sendiri.


"Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu lagi, Bella. Oh ya, namaku Ayodya. Tolong diingat ya," gadis donatur itu memutar badannya dan berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh para pengawal.

__ADS_1


Bella kembali duduk dan tersenyum. Ia sempat melihat bagaimana Ayodya menginjak kue pada saat akan keluar.


"Menarik sekali, Ayodya." Dan Bella tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2